Chapter 2

1469 Kata
Sayangi ibumu karena kita tidak tahu kapan kesempatan itu berakhir. ***     “Mbak, Olly gak mau ke sekolah.”     Perkataan Olly membuat perempuan bernama Izzatus Sanny meletakkan sendok yang ia pegang. Suasana sarapan menjadi canggung. Izza menatap sang Adik dengan tatapan tajam.     “Kalau gak sekolah, mau bolos?” ujar Izza tegas.     “Olly mau nemenin Bunda, Mbak.” Olly menundukkan kepala. Ia takut Izza marah karena keputusannnya yang bodoh.     “Olly .. tugas kamu sekolah. Soal Bunda, Mbak yang jaga, ya? Jangan khawatir.” Izza tersenyum hangat. Ia tahu Olly mengkhawatirkan Monika—Bunda Olly dan Izza—yang terbaring di rumah sakit. Kekhawatiran Olly terbaca jelas di kedua mata gadis itu.     “Tapi—“     “Bunda gak akan ke mana-mana. Percaya sama Mbak.” Izza mengenggam tangan Olly erat, kemudian tersenyum lagi.     Olly mengangguk paham. Jika Izza ingin Olly berangkat sekolah, maka tidak ada yang bisa menentang keputusan tersebut. Olly tidak mau membebani Izza, tetapi ia juga khawatir terhadap keadaan Monika. Mau tidak mau Olly harus berangkat ke sekolah dengan hati was-was.     “Nanti Mbak antar kamu ke sekolah, sekalian Mbak ke rumah sakit.” Izza kembali membuka pembicaraan setelah beberapa saat terdiam.     Olly mengangguk lemas. Tangannya mengaduk-aduk makanan tanpa berniat memasukkannya ke dalam mulut.     “Aduh .. semangat, dong! Kalo kamu cemberut gitu, cantiknya ilang, loh.” Izza terkekeh menggoda sang Adik yang jarang tersenyum.     Olly melirik sinis ke arah kakaknya. “Apaan, sih, Mbak?! Olly dari lahir udah cantik, mau ngapain aja juga cantik.”     “Pede amat kamu! Eh, Dek, sekali-kali senyum, dong .. bibir kamu karatan kalo kelamaan gak senyum.”     “Mbak Izza, jangan mulai, ya .. “ Olly menatap Izza datar seperti triplek bangunan. Ekspresi yang tidak berubah sejak Olly masih balita.     “Hahaha .. kamu lucu kalo marah. Marah gak marah raut wajah kamu tetep aja datar.” Izza bangkit dari kursi dan membawa piring kotor ke wastafel. Sarapaannya habis tidak tersisa. “Dimakan sarapannya. Kalau gak sarapan Mbak paksa kamu makan.”     “Iya.”     “Sip! Anak baik.”     Olly berdecak kesal mendengar perkataan Izza, sedangkan Izza terkekeh pelan melihat ekspresi kekesalan adiknya.     Saat ini, tidak ada yang bisa Izza lakukan selain menghibur Olly. Meskipun cara yang Izza gunakan tidak termasuk kategori menghibur, namun ia berharap dengan ejekan sederhana itu dapat membuat Olly tidak khawatir pada Monika. Masa depan Olly masih panjang. Adik kecilnya tidak boleh stuck pada satu keadaan. Olly harus bangkit, meskipun keadaan berbalik menyerang mereka. ***     Olly melambaikan tangan ke arah Izza yang melajukan mobil menjauhi lingkungan sekolah. Olly menghela napas kasar. Kakinya terasa sangat berat untuk melangkah. Otak Olly tidak bisa berpikir selain keadaan Monika. Olly ingin melihat tawa Monika lagi. Setiap hari—selepas pulang sekolah—Olly menjenguk Monika, namun yang ia temui adalah raga Monika yang tidak bergerak sedikitpun. Alat medis menempel di tubuhnya, termasuk alat bantu napas. Bunyi alat eletrokardiogram menjadi momok mengerikan bagi Olly. Jika alat itu berganti garis lurus, dunia Olly akan berhenti.     “Molly! Ngelamun ae lo .. mikirin apa, sih?” Alena mengalunkan tangannya ke bahu Olly. Wajah Alena terlihat riang.     Olly menepis kasar tangan Alena. Ia melirik tajam Alena. “Kepo.”     “Ck! Selalu .. lo gak bisa ngomong panjang dikit?”     Olly menaikkan sebelah alis, kemudian tersenyum mengejek.     “Aish, serem, Ly.” Alena mundur perlahan. Sahabatnya lebih mirip psikopat s***s.     Tanpa mempedulikan Alena, Olly berjalan acuh. Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apapun. Orang-orang yang berpapasan dengan Olly tertegun. Di pikiran mereka, Olly adalah sosok yang sempurna, tanpa cacat dan noda.     Alena berdecak kesal. Olly selalu seenaknya. Ia menggerutu dalam hati. Alasan ia bertahan dengan Olly adalah Olly tidak munafik seperti orang lain. Jika Olly tidak suka, maka gadis itu mengatakan tidak suka dengan tegas. Olly terlihat kuat dan dingin dari luar, namun jauh dari lubuk hatinya, Olly adalah seseorang yang membutuhkan pelukan. Untuk sebab itu, Alena tidak pernah meninggalkan Olly seburuk apapun keadaannya.     Langkah Olly terhenti ketika menyadari seorang laki-laki menghadang jalannya. Alena berjalan mendekat dan melindungi Olly jika laki-laki itu berbuat nekat.     “Ly, gak usah digubris. Yuk, ke kelas.” Alena menggandeng tangan Olly, namun tertahan. Alena menatap Olly penuh tanda tanya.     “Gue gak mau menghindar.” Olly menjelaskan dengan wajah datar. “Selama ini, gue selalu menghindari mereka. Mereka gak akan berhenti kalo gue diem aja, Len.”     “Ly .. “     Olly menatap Alena lekat. “Percaya sama gue.”     Alena mengangguk. Alena percaya apa yang dikatakan Olly. Keputusan Olly sudah bulat, sulit untuk merubahnya. Ia berdoa agar semua yang terjadi tidak buruk.     “Ly .. gue mau ngomong sama lo.” Laki-laki itu mendekat, namun Olly mengangkat tangannya sebagai tanda laki-laki itu tidak boleh mendekat lagi.     Semua murid berseragam putih biru mulai menggerombol membentuk lingkaran. Suara bisik-bisik terdengar seperti alunan musik. Mereka siap menonton adegan menarik di pagi hari ini.     “Ly .. “ Laki-laki itu memohon dengan tulus. “Gue beneran suka sama lo. Please, jadi pacar gue, ya?”     “Lo siapa?”     Alena menepuk dahi. Sahabatnya memang pintar, tetapi mengapa g****k juga? Aduh, gimana, ya? Pokoknya g****k di waktu yang tidak tepat.     “Ly, lo lupa sama dia? Dia Andro. Anak kelas 3 C. Yang ngemis-ngemis supaya jadi pacar lo. Andro udah nembak lo tiga puluh kali, hari ini ke tiga puluh satu.” Alena menjelaskan panjang lebar perihal Andro.     “Ooh ..” Olly mengangguk paham.     “Lo inget?”     “Kagak.”     “Astagfirullah, otak lo bocor kayak genteng, Ly. Serah lo, deh. Capek gue.” Alena menyerah memberikan intruksi. Lelah hati dan pikiran.     Olly kembali menatap Andro. Dipandanginya Andro dari atas sampai bawah. Tidak ada memori sedikitpun tentang laki-laki berkulit sawo matang dengan kepala botak.     Tiba-tiba Andro bersujud di depan Olly dengan derai tangis. Olly mundur selangkah. Olly mendadak menjadi takut. “Olly .. wahai dewi kecantikan, engkau lah matahariku. Bagaimana aku bisa hidup tanpa dirimu.”     Olly menatap datar. “Bucin.”     Orang-orang menahan tawa agar tidak meledak. Alena mati-matian menahan tawa. Bahkan, ia merasakan perutnya terasa sakit menahan tawa.     “Wahai dewiku, eng—“     “Gue Olly, bukan Dewi.” Olly kembali menjawab datar.     Kali ini, tawa Alena meledak. Ia memegang perut sambil memukul paha. “HAHAHA .. stop! Gue gak tahan … HAHA!”     Suasana semakin riuh karena orang-orang menertawakan Andro. Ditambah tawa Alena yang blak-blakan membuat tawa mereka bertambah kencang.     Kesal. Andro tidak menghayati puisi yang ia tulis untuk Olly. Bahkan, air mata buatannya sudah mengering karena terlalu lama terkena angin. Andro bangkit dari sujudnya dan mengumpat Alena.     “Eh, Ale-ale! Lo kalo syirik ngomong!” Andro menunjuk Alena marah. “Lo suka sama gue, kan? Ngaku lo!”     “Idih, amit-amit, Ndro! Sampe dinosaurus ngelahirin tikus, gue gak bakal suka sama lo! Botak lo ngingetin gue sama gendang.” Alena memukul kepala Andro sambil bernyanyi, “Tung dung tak dung .. tung tung tak dung tung tak .. tratatak dung!“     Alena berlari setelah memukul kepala Andro layaknya gendang sungguhan. Akhirnya, Alena dan Andro saling mengejar di pagi yang cerah ini. Tawa orang-orang semakin kencang. Pertunjukkan hari ini cukup membuat mereka kenyang karena tertawa.     Olly mengangkat bahu, kemudian berjalan acuh menuju kelas 3A. Kejadian hari ini membuatnya melupakan Monika, meskipun sebentar saja. ***     Izza ragu. Tangannya menggantung di udara. Jika ia mengetuk pintu di depannya, ia harus siap mendengar perkataan dokter tentang keadaan Monika. Dadanya sakit. Ia tahu keadaan Monika semakin buruk, tetapi ia belum siap mendengar penjelasan dokter.     Izza menarik napas dalam-dalam, kemudian mengetuk pelan pintu.     “Silakan, masuk .. “     Izza mendengar suara dari dalam ruangan. Perlahan, Izza membuka pintu dan menemukan dokter muda yang menangani Monika selama di rumah sakit. Sejujurnya, dokter muda yang ia temui memiliki paras tampan. Izza mengakui itu, namun ketampanan dokter muda tersebut tidak bisa mengalahkan kekhawatirannya terhadap Monika. Setiap kali menatap wajah dokter muda itu, Izza teringat Monika yang berjuang melawan kanker.     “Pagi, Dokter Radhi.” Izza tersenyum canggung.     “Pagi, Bu Izza.” Radhi fokus meneliti catatan perkembangan kanker Monika. “Begini, Bu .. maksud saya memanggil Ibu karena ada beberapa hal yang harus saya sampaikan mengenai kanker Ibu Monika.”     Izza mengepalkan kedua tangannya erat. Keringat di dahi bermunculan. Meskipun ruangan ini terdapat pendinging ruangan, pendingin ruang tersebut tidak berefek apapun pada Izza.     “Kanker Ibu Monika—“     “Keadaan Bunda memburuk, ya, Dok?”     Radhi mengangkat kepala yang sebelumnya terfokus pada catatan medis Monika. Ia menatap pererempuan yang memotong perkataannya.     “Bunda tidak mungkin selamat, Dok?” Izza menatap Radhi. Air matanya berjatuhan. “Saya tahu Dokter bukan Tuhan, tapi saya mohon .. sa-saya mo-hon selamatkan Bunda. Bunda sangat berarti buat saya dan adik saya, Dok. Saya tidak tahu harus bagaimana lagi jika Bunda tiada.”     Radhi terdiam sejenak. Tangisan Izza semakin mengisi ruangan. “Bu Izza .. meskipun menyakitkan, saya harus menyampaikan perkembangan Ibu Monika. Kanker Ibu Monika telah menyebar ke seluruh tubuhnya. Hidupnya tidak akan bertahan lama. Saya dan tim medis di rumah sakit akan berusaha semaksimal mungkin agar Ibu Monika sembuh.”     Hati Izza semakin meraung kesakitan. Perkataan Radhi bagaikan pisau tajam yang menyayat hati dan jiwanya. Air mata Izza semakin deras. Rasa sakit yang ia rasakan terlalu sulit untuk digambarkan dengan kata-kata. Ibu yang melahirkannya akan pergi. Meninggalkannya dan Olly.     “Sa-saya mo-mohon, Dok .. se-selamatkan Bunda. Saya akan membayar berapapun asalkan Bunda selamat. Saya mohon, Dok .. lakukan sesuatu untuk menyelamatkan Bunda.” Izza tidak bisa melakukan apapun selain memohon agar Radhi menyelamatkan Monika.     Radhi mematung. Izza bukanlah satu-satunya keluarga pasien yang menangis dan memohon agar ia menyelamatkan pasien, tetapi hati Radhi tersentuh melihat Izza. Izza terlihat kuat dan rapuh di waktu yang sama.     Radhi bangkit dari tempat duduknya, kemudian menghampiri Izza. Ia menepuk-nepuk pelan punggung Izza. Berharap cara itu dapat meringankan beban Izza. Ia tidak tahu bagaimana menenangkan pasien karena selama ini ia cuek dengan mereka. Dengan Izza, Radhi tidak ingin melihat kesedihan.  Sejak kapan ia peduli dengan perasaan perempuan? ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN