Semakin lama, Bram semakin tidak tahan melihat tingkah Stella. Gadis itu terus duduk di sebelah Troy setiap jam istirahat. Stella juga jadi terlihat begitu centil di depan Troy. Itu bukan Stella yang Bram kenal. "Mangsa baru Stella, tuh." Nico berceletuk, membuat Bram semakin kesal. "Dia kayaknya suka banget sama Troy. Apa bagusnya Troy, sih? Seleranya rendah banget." Bram mengernyit. "Troy itu temen gue juga, Nic." "Cuma temen satu band. Gue sahabat lo, 'kan? Lo belain gue atau Troy, hmm?" Nico menaikkan satu alisnya, dan mengaduk es teh manis pesanannya. "Gue nggak belain siapa-siapa. Gue cuma nggak suka, lo ngejek Troy begitu. Menurut gue, wajar kalo Stella suka sama Troy." "Stop ngomongin Stella dan Troy, dong. Kalian

