Ana mematri dirinya di depan cermin. Menghela napas saat berkali-kali melihat jam dinding, tetapi jarum jam yang ada di sana masih saja menunjukkan angka lima. Ini adalah bangun terpagi Ana seumur hidupnya. Janjian mereka adalah jam delapan pagi, akan tetapi perempuan itu sudah siap untuk berangkat sedari tadi. Karena memang, dia begitu tidak sabarnya menunggu hari ini. Seminggu setelah pertemuan Ana dengan Beni, tiba-tiba laki-laki itu menghubunginya dan mengajak dia untuk keluar berjalan-jalan. Perempuan itu tidak mungkin berkata tidak, jika itu adalah Beni. "An ... Ana, An." Ana terlonjak dari tidurnya. Hal yang pertama kali ia lihat adalah senyum dari Beni. Laki-laki itu berjongkok di samping ranjang tidurnya. Topi yang dikenakan begitu cocok bertengger di kepalanya. Oh betapa mant

