Kehilangan Dalam Satu Waktu (Inikah Ujian Yang Dipertanyakan?)

1076 Kata
Mobil itu meledak, api membumbung tinggi. Orang-orang yang berada di sana sontak terpekik, mundur dan menjauh. Sementara Rania, ia tetap berada di posisinya. Tak bergerak dan tak peduli. Ledakan itu seolah hanya latar belakang saja, karena dunianya kini hanya berisi satu suara, suara lemah yang semakin lirih. "I–Ibuu ...." Beberapa saat kemudian, suara sirine terdengar dari kejauhan, semakin lama semakin terdengar dekat, hingga akhirnya berada tak jauh darinya. Lampu merah dan biru berputar, menyorot wajah-wajah yang masih shock oleh kejadian yang terjadi. Polisi juga segera mengamankan lokasi, sementara paramedis dengan sigap membawa para korban ke ambulans, berlomba dengan waktu untuk menyelamatkan nyawa. Beberapa saat kemudian. Rania berdiri di depan ruang UGD, ia berjalan mondar-mandir. Langkahnya gelisah, tangannya saling meremas. Dadanya terasa sesak, napasnya juga berat. Ketakutan sangat mencengkeramnya, ia begitu sangat takut, takut kehilangan, takut menghadapi kenyataan yang tak sanggup ia terima. "Rania? Bagaimana Naira dan Ahmad?" Suara itu membuatnya tersentak. Rania sontak menoleh dan menemukan Ibu Maryam, yaitu ibu mertuanya yang baru saja datang dan berjalan ke arahnya dengan wajah cemas. "Ibu?" Rania tak bisa berkata-kata lagi, ia langsung berhambur ke dalam pelukan sang ibu mertua, tangisnya pecah seketika. Tubuhnya bergetar hebat, ia juga sesenggukan tanpa henti. “Ibu … bagaimana ini, Bu. Hiks hiks ….” Ibu Maryam memeluk Rania semakin erat, berusaha memenangkan. Padahal, Ibu Maryam pun tengah menahan kepedihan yang sama. Dia hancur dan sakit mendengar bahwa putra dan cucunya mengalami kecelakaan. Tapi, ia tahu jika Rania pasti lebih hancur juga, dunianya pasti runtuh karena melihat suami yang dicinta dan anak yang disayangi terkapar di depan matanya. Lalu, tiba-tiba pintu kaca ruang UGD terbuka. Seorang dokter keluar dengan wajah lelah dan serius. Rania dan Maryam sontak buru-buru menghampiri. "Suami saya bagaimana, Dok? Anak saya juga bagaimana?" tanya Rania dengan suara penuh harap dan ketakutan. Dokter itu menarik napas sejenak sebelum menjawab, "Mohon maaf, kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi Tuhan berkata lain. Anak atas nama Naira tidak bisa kami selamatkan. Detak jantungnya sudah terlalu lemah saat dibawa kemari. Sedangkan pasien atas nama Ahmad ... jantungnya kembali berdetak, tetapi kondisinya masih kritis." Dunia Rania seketika runtuh. Lututnya lemas, tubuhnya kehilangan daya. Ia merosot, hampir jatuh ke lantai kalau saja Ibu Maryam tidak segera memeluknya. Dengan segera, Rania melepaskan diri dari dekapan sang ibu mertua dan melangkah gontai, ia menerobos masuk ke dalam ruang UGD, diikuti oleh Ibu Maryam. Dan di sanalah ia melihat sesuatu yang semakin membuat dadanya terasa begitu sesak hingga rasanya sulit sekali untuk bernapas. Di atas ranjang, tubuh kecil Naira terbujur kaku. Seorang suster baru saja menutup wajah Naira dengan kain putih. Tapi Rania bergerak cepat. Ia meraih kain itu, menariknya kembali, menatap wajah mungil yang begitu dicintainya. "Naira? Sayang? Bangun, Nak." Suara Rania nyaris tak terdengar. Jemarinya mengusap pipi putrinya yang dingin. Naira tak lagi bergerak. Tak lagi bernapas. Tak lagi memanggilnya dengan suara ceria seperti tadi pagi. "Ibu, Ibu, kakak lapar.” “Ibu, ayo main.” “Ibu, nanti kita jalan-jalan ya, sama ayah juga. Kok ayah belum pulang ya, Bu?” “Ibuuuu ... kenapa Ibu cantik? Ibu, kakak sayang, Ibu. Lavyu lamanya, Ibu." Suara itu menggema di kepalanya. Terasa begitu sangat nyata, seakan Naira masih ada di sini, masih berbicara padanya. Tapi itu hanya kenangan. Kenangan yang kini menjelma menjadi luka terdalam di hatinya. "Aa—aaa—aaa." Tangis Rania pecah akhirnya pecah. Ia menangis tersedu-sedu. Napasnya tersengal. Ia menelungkup di atas tubuh kecil itu, memeluk Naira begitu sangat erat, seakan berharap kehangatannya bisa kembali. Tapi tidak. Putrinya sudah pergi. "Ahmad? Kamu lihat ibu?" Suara lirih itu berasal dari Ibu Maryam penuh harap dan ketakutan. Rania tersentak, segera menoleh ke arah suaminya yang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Mata pria itu terbuka, menatap Ibu juga istrinya dengan pandangan sayu. Wajahnya pucat, keringat membasahi dahinya. Nafasnya tersengal, tapi seulas senyum nampak terlihat di bibirnya, senyum yang begitu lembut, begitu menenangkan. Rania menggenggam tangan sang suami dengan sangat erat. "M–Mas? Bertahan, ya. Aku mohon." Suaranya bergetar. Dengan hati-hati, ia mengusap pipi suaminya yang terasa semakin dingin. Ahmad tetap tersenyum, meskipun tatapannya mulai samar. "Mas ... akan jaga kakak di sana." Air mata Rania langsung jatuh tak terkendali saat suaminya berkata demikian, mengerti maksud dari yang diucapkan sang suami. Kepalanya refleks menggeleng. Mulut terbuka ingin berkata, tapi sebelum ia sempat berkata apa pun, tangan Ahmad yang lemah perlahan bergerak, mengelus lembut perutnya yang buncit. "Sayang ... jaga adik di sini, ya," ucap Ahmad dengan nada suara yang lirih, bergetar dan terbata-bata. Napasnya terasa berada di ujung. Ia merasa sulit sekali mengeluarkan kalimat walau hanya sepatah kata. Tangis Rania pecah seketika mendengar ucapan suaminya. Tubuhnya gemetar, hatinya ingin berteriak sekencang mungkin. Dengan cepat kembali menggeleng lagi, jelas enggan mengiyakan ucapan suaminya. "Tidak, Mas! Kamu akan baik-baik saja! Kamu akan kembali sehat dan kita akan pulang bersama. Tolong, jangan berkata seperti itu. Aku gak bisa kalau gak sama kamu. Hiks ....” Tapi Ahmad hanya tersenyum. Senyum yang terlihat begitu sangat hangat, tapi juga terasa seperti perpisahan. Dan dalam hitungan detik …. Mata itu perlahan terpejam. Tangan yang tadi menyentuh perutnya jatuh lemah di atas ranjang. "Asyhadu allaa ilaaha illallaah ...." Kalimat syahadat lirih terdengar, lalu hening. Tak ada suara lagi. Tak ada gerakan. Hanya bibir Ahmad yang masih melengkung dalam senyum tipis. “Nggak, Mas … jangan! Aku mohon!” ucap Rania dengan nada suara yang gemetar, “Kalau kamu pergi aku sama siapa! Aku gak bisa kalau gak sama kamu. Tolong, untuk kali ini aku mohon!” Tapi, apa yang Rania katakan tak ada jawaban sama sekali, mata itu kini tertutup rapat untuk selamanya. Suster yang berdiri di sisi ranjang buru-buru memeriksa detak jantungnya. “Mas? Aku mohon. Jangan seperti ini! Aku bagaimana, Mas!” ucap Rania, air mata kembali membasahi pipi. Sementara Ibu Maryam, ia menutup mulut, kemudian menangis histeris. Hati Ibu mana yang tidak hancur melihat anak yang ia lahirkan dengan taruhan nyawa, ia besarkan dengan penuh kasih sayang dan perjuangan, harus menutup mata lebih dulu, harus berpulang lebih dulu daripada dirinya. Seorang dokter lalu tiba-tiba saja datang, ia mengecek ulang, lalu menarik napas berat sebelum berkata, "Ahmad Ibrahim 18.20. Pasien meninggal dunia karena ....” "Maaaasss?!" Jeritan Rania menggema, memenuhi seluruh ruangan. Tubuhnya ambruk di samping ranjang, menggenggam tangan suaminya yang sudah tak lagi bernyawa. Air matanya jatuh tanpa henti, mengguyur jemari Ahmad yang kini dingin dan kaku. Hanya dalam satu hari, ia kehilangan segalanya. Suaminya. Putrinya. Dan dunianya. Apakah ini ujian yang selama ini ia pertanyakan? Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN