"Raymond!" Feifei menatap Raymond dengan tatapan pemujaan yang menggila. Matanya bergetar, wajahnya memerah. Bibir cerinya merekah dengan napas keinginan. Setiap malam, yang Feifei rasakan setelah Raymond meninggalkannya hanyalah kesepian yang mengerikan. Kesepian tanpa ujung. Mimpi terlanjur dipupuk. Harapan terlanjur bertunas. Yang ada di hati Feifei semenjak ia mengenal Raymond, adalah mencintainya hingga akhir, memilikinya tanpa seorang pun di sisi mereka. Hanya dia dan Raymond. Mereka berdua, layaknya Adam dan Hawa. Semakin seseorang bersikap dingin dan arogan, semakin besar pula hasrat menaklukkan orang lain terhadapnya. Itulah yang dirasakan Feifei ketika ia bertemu dengan Raymond. Keinginan untuk mendominasinya sangat kuat. Seolah-olah ia melihat predator paling buas, dan ing

