“Sialan!” Deru nafas yang memburu, ruangan yang bagai kapal pecah dan sosok lelaki yang bersandar di tembok sambil memukul dadanya. Sosok itu nampak sangat terpuruk dan menyedihkan. Aldo, lelaki itu beberapa menit yang lalu hilang kontrol dan menghancurkan semua yang ada di apartemennya. Rasanya benar-benar saat menatap semua orang yang ada di sekitarnya mengabaikannya. “Aku memang tidak seharusnya hidup, harusnya saat itu dia tidak menolongku. Harusnya aku memang tidak dilahirkan, tidak ada yang menginginkan hidupku!” Aldo menatap pantulan wajahnya di kaca yang berada di seberangnya. Pantulan wajahnya begitu menyedihkan saat ini. Darah menetes dari pergelangan tangannya, namun ia sama-sekali tidak peduli. Aldo tidak lagi peduli apapun yang terjadi padanya. Klik… pintu terbuka, Aldo

