Fiona menatap langit di luar jendela. Gelap sekali. Awan berwarna hitam menggayut berat di langit berwarna saliwah yang kusam. Ia menghela napas panjang, melepas sesak. Garasi rumah Elang kosong. Fiona khawatir. Ia masih sedikit kesal pada May, karena memukul Elang tempo hari. Ia tahu tubuhnya rentan tertular dan kondisi Elang saat itu memang jelas terlihat kurang sehat. Namun, ada yang belum tuntas mereka bicarakan. Mimpi-mimpi mereka berdua, aliran listrik kecil itu saat mereka bersentuhan, perasaan rindu itu. Fiona memegang kedua pipinya yang terasa hangat. “Kami berdua belum pernah bertemu sebelumnya, kan?” tanya Fiona pada Jerry, yang duduk bersandar pada kaca jendela. Mata Jerry cemerlang menatapnya. “Mengapa sentuhan itu membuatku selalu memikirkannya? Dan mimpi-mimpi itu? Apa a

