Pengakuan

791 Kata
Pengakuan yang keluar dari mulut Erick bagaikan buah simalakama untuk Valeria. Rasanya seluruh dunianya hancur seketika mendengar penuturan dari suaminya. Anak itu, bocah lelaki yang memanggilnya papa saat mereka berdua makan malam di restaurant tepi pantai ternyata memanglah putra suaminya. Apakah semua ini pertanda, sekaligus terbukanya tabir bahwa suami yang selama ini dia kira begitu setia dan juga sangat menghargai sebuah rumah tangga telah berselingkuh darinya. Hanya karena dia masih belum bisa memberikannya keturunan? Jika menikah adalah melengkapi separuh dari agama, kenapa banyak pasangan suami istri mencari pasangan lain hanya demi menghasilkan keturunan? Seseorang yang benar-benar mencintai kita seharusnya tidak memiliki cara untuk menyakiti ataupun mengkhianati kita. “Dia … putramu?” tanya Valeria, menajamkan indera pendengarannya agar tidak salah menangkap jawaban yang keluar dari mulut Frederick Carollino. Erick mengangguk, dia langsung bersimpuh di bawah kaki Valeria. Memeluk kaki istrinya untuk meminta pengampunan. Sungguh, dia bahkan berani bersumpah atas nama Tuhan sekaligus anak-anaknya. Dia tidak pernah berniat mengkhianati Valeria. Saat itu, keadaannya yang membuat Erick tidak bisa berpikir jernih dan ya … dia melakukannya ketika sedang mabuk. Erick sudah kehilangan kewarasannya saat melakukan hubungan intim dengan Yessinia hingga wanita itu mengandung benihnya dalam kandungan wanita itu. “Maafkan aku, Rose. Sumpah demi Tuhan, aku tidak pernah berniat menghancurkan kepercayaanmu,” lirih Erick di bawah kaki Valeria. Valeria memundurkan langkahnya, dia segera keluar dari ruangan rawat Aldrick karena tidak ingin membangunkan bocah tidak berdosa itu. Di belakangnya, Erick berusaha menyamai langkah Valeria. Diraihnya tubuh Valeria dari belakang, Erick mendekap tubuh istrinya dengan erat. Valeria menangis, kenapa kehidupannya selalu dipenuhi oleh bayang-bayang pengkhianatan dari orang-orang yang sangat dia cintai. “Aku bersumpah Rose, aku tidak pernah memiliki niat melukaimu. Izinkan aku menjelaskan semuanya,” pinta Erick yang masih kukuh memeluk tubuh istrinya tanpa malu dilihat banyak orang di sana. Merasa tidak enak akan tatapan pasang mata mengarah ke mereka. Valeria meminta Erick menyusulnya di dekat kolam ikan yang pencahayaannya kini temaram tidak begitu terang. Valeria menatap wajah suaminya, mengamati wajah lelaki tercintanya yang telah mematahkan kepercayaannya. “Katakan apa yang ingin kau jelaskan,” ucap Valeria memalingkan wajahnya. Erick mengikis jaraknya dengan Valeria, akan tetapi wanita itu justru mundur ke belakang seperti menegaskan bahwa mereka berdua tidak akan bisa dekat lagi setelah pengkhianatan ini menguak ke permukaan. Lelaki itu menceritakan semuanya dari awal, tentang malam ketika Valeria meninggalkan rumah atas kesalahpahaman di antara mereka berdua. Di saat itu pula, Erick mencari udara segar dengan mengunjungi salah satu bar milik kenalannya dan bertemu dengan Yessinia. Semua orang mabuk pasti kehilangan kewarasannya, dia tidak mampu memilah mana yang benar dan tidak benar. Mendengar bujuk rayu Yessinia yang jelas-jelas telah menaruh hati dengannya sejak lama. Semua itu malah membawa kecelakaan yang mengakibatkan Yessinia hamil anaknya. “Kamu yakin, dia putramu?” tanya Valeria sekali lagi. Erick mengangguk. “Aku sudah melakukan tes DNA sejak awal. Aldrick, dia benar-benar anak biologisku, Rose.” Jawaban itu membuat bulir bening kembali luruh dari mata Valeria. Selama bertahun-tahun dia merasa menjadi wanita paling bahagia karena suaminya tetap bersama dengannya meski dokter telah memvonisnya sulit mendapatkan keturunan usai melahirkan Marchello. Akan tetapi Erick masih mencintainya tanpa kurang, Erick juga mencintai Marchello layaknya putra kandungnya sendiri. Mimpi apa Valeria semalam hingga mendengar pengkuan menyesakkan d**a dari suaminya sendiri? “Siapa ibunya?”  “Yessinia, dia sedang dirawat di rumah sakit ini karena kecelakaan bersama dengan Aldrick,” jawab Erick. Valeria menggigit bibir bawahnya tidak menyangka. Ternyata Erick datang ke rumah sakit untuk menjadi wali dari anaknya dan juga wanita itu. “Apa kalian menikah?” tanya Valeria menatap suaminya begitu lekat. “Tidak, aku sudah menegaskan kepada ibu Aldrick bahwa aku tidak akan pernah menikahinya. Kami tidak memiliki hubungan serius,” jelas Erick kepada istrinya. Valeria mendengus. “Tidak memiliki hubungan serius tapi kau tidur dengannya? Lelaki macam apa dirimu, Erick? Atau jangan-jangan, dia salah satu dari sekian banyak wanita yang kau tiduri?” sergah Valeria dengan matanya berkaca-kaca. “Aku tidak pernah tidur dengan wanita manapun selain dirimu. Masalah Yessinia, aku sudah mengatakannya padamu, aku mabuk saat itu,” tutur Erick sarat akan nada frustasi mendengar tuduhan dari Valeria. “Pembohong!” lirih Valeria menggelengkan kepalanya. Erick mengacak rambutnya kalut, dia menatap air mata istrinya dengan perasaan penuh penyesalan. “Dia ingin bertemu denganmu,” ucap Erick. Bertemu dengan Valeria? Mungkinkah wanita itu akan menertawakan Valeria karena masih belum bisa memberikan keturunan kepada Erick sedangkan Yessinia bisa?  Tanpa menunggu jawaban dari Valeria, Erick menarik tangan Valeria secara tiba-tiba. Meski memberontak, Erick tetap saja tidak akan melepaskan tangan istrinya hingga mereka sampai di ruang perawatan Yessinia. “Pakailah,” kata Erick menyodorkan jubah steril di depan tangan Valeria. “Pakailah, atau aku akan memakaikannya?” tanya Erick memaksa. Valeria mengambil jubbah steril itu dengan kasar, lalu memakainya seperti perintah dari Erick. Lelaki itu menggandeng tangan Valeria memasuki ruangan di mana Yessinia berada. Bunyi bedsite monitor menyapa pendengaran Valeria. Bau obat-obatan khas rumah sakit menyeruak memenuhi indera penciuman istri dari Frederick Carollino itu. “Yessi, Valeria datang menemuimu,” ucap Erick seperti gumaman. Lelaki itu membangunkan Yessinia dengan perlahan. -------------- YUHUUUU, KIRA-KIRA YESSINIA MAU NGAPAIN YA KOK MINTA MAMA VALERIA DATANG? PANTENGIN TERUS YAAA, TINGGALKAN JEJAK KOMEN, DAN JUGA FOLLOW AKUN AUTHOR.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN