JANGAN LUPA TAP LOVE, KOMEN, DAN FOLLOW AKUN AUTHOR YA BEIBS.
SELAMAT MEMBACA.
Derap sepatu pantofel beradu dengan lantai terdengar seperti irama. Lelaki yang sejak tadi dalam perjalanannya ke rumah sakit telah mengkhawatirkan anaknya, kini berjalan tergesa-gesa menuju meja informasi rumah sakit. Tangannya tanpa sadar menggebrak meja hingga petugas informasi berjingkat kaget.
Di belakangnya, beberapa orang menatap Erick dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Seorang anak lelaki dan ibunya, dilarikan ke rumah sakit ini. Di mana mereka berada?" tanya Erick dengan matanya menyala penuh kekhawatiran.
Petugas informasi segera mengecek data yang masuk. Dia menemukan dua orang yang Erick maksudkan.
"Ada di UGD, Pak," jawab petugas informasi itu.
"Ke mana aku harus pergi?" tanya Erick dengan wajahnya kini penuh dengan kecemasan.
"Bapak keluar dari sini, ikuti lorong lalu ambil kanan."
Petugas informasi itu memberikan petunjuk kepada Erick.
"Terima kasih," ucap Erick.
Tanpa berpikir panjang, Erick berlari menuju UGD untuk menemui anaknya. Aldrick pasti ketakutan, begitulah pikirannya saat ini. Dia sudah tidak becus menjaga anaknya sendiri selama ini, dan Erick tak akan membiarkan anaknya ketakutan seorang diri di sana.
Hembusan napas panjang Erick berkali-kali keluar dari mulut lelaki itu. Semoga saja Aldrick dalam keadaan yang baik-baik saja. Jika tidak, maka apa yang akan Erick lakukan nantinya? Menyesali diri karena tidak becus mengurus anaknya sendiri kah?
"Suster, Aldrick. Putra saya," kata Erick bertanya kepada suster yang baru saja keluar dari ruangan.
"Yang di dalam anak Bapak? Dokter masih menanganinya, Pak," jawab suster itu menjelaskan.
"Ba-bagaimana keadaan anak saya, Sus? Apakah dia baik-baik saja?" tanya Erick tidak bisa menutupi kecemasannya.
"Dia hanya mengalami luka luar saja, nanti biarkan dokter yang menjelaskan semuanya," jelas suster kepada Aldrick.
Kebetulan juga saat itu dokter UGD keluar sambari memasukkan stetoskop di saku jas kebesarannya. Erick segera menyambangi sosok dokter yang menangani putranya.
"Dokter, bagaimana keadaan anak saya?" Erick menatap dokter itu dengan harap-harap cemas.
Dokter itu mengulum senyumnya, sambil menepuk bahu Erick dengan pelan.
"Tenang saja, Pak. Anak Anda baik-baik saja. Hanya luka ringan, dan hasil pemeriksaan mengatakan tidak ada luka serius," jawab dokter itu membuat Erick bisa bernapas lega.
Lalu bagaimana dengan keadaan Yessinia?
"Ibunya, di mana ibunya berada, Dok?" tanya Erick yang baru saja teringat atas sosok Yessinia.
Aldrick pasti akan sedih jika terjadi sesuatu hal butuk pada diri ibunya. Setidaknya Erick harus mengkhawatirkan Yessinia juga karena wanita itu adalah ibu dari anak biologisnya.
"Pihak medis sedang mengupayakan yang terbaik. Beliau sedang di ruang operasi, pembuluh darahnya bermasalah, dan juga lukanya memang sangat serius," kata dokter itu membuat Erick melebarkan matanya.
"Mari, Pak. Silahkan isi data diri pasien dan surat persetujuan operasinya," ajak salah satu perawat kepada Erick.
Lelaki itu hanya mengangguk, mengikuti arahan dari perawat yang membawanya ke ruang administrasi pasien. Dengan cepat, Erick mengisi data diri Aldrick dan Yessinia. Sebagai wali dari pasien, tentu saja Erick juga yang bertanda tangan atas prosedur operasi Yessinia.
Erick mengusap wajahnya dengan kasar. Tidak mungkin dia membiarkan Aldrick bermalam sendiri di rumah sakit. Lalu jika dia berada di rumah sakit bersama dengan Aldrick, apa yang akan dia katakan kepada Valeria nanti? Alasan apa yang bisa dia berikan pada istrinya?
Dengan lunglai, kaki Erick melangkah mendekati ranjang anaknya. Aldrick terlihat begitu lemas, dengan memar pada tubuhnya yang kini telah diobati oleh petugas medis. Diusapnya lembut pipi anaknya dengan penuh cinta kasih.
"Al, Papa di sini," ucap Erick mengelus wajah putranya dengan hati-hati.
Takut melukai atau menambah sakit tubuh putranya, Erick hanya bisa menyentuh perlahan tubuh Aldrick dengan air mata yang kini menggenang di pelupuk matanya.
Mata Aldrick terbuka remang-remang, tidak sepenuhnya tersadar karena obat penenang yang tercampur pada selang infusnya.
"Papa," lirih Aldrick membuat Erick menatapnya lekat.
"Iya, Papa di sini," jawab Erick tersenyum lembut.
"Mama, di ... mana, Pa?" tanya Aldrick kepada papanya.
Erick mengusap lembut puncak kepala putranya. Apa yang akan Erick jelaskan pada Aldrick?
"Hmm ... Mama sedang diobati, Sayang. Aldrick jangan khawatir, ya," ucap Erick tersenyum lembut kepada putranya.
Dia tahu, putranya pasti akan mempertanyakan di mana mamanya. Bahkan waktu yang Aldrick lewati bersama mamanya lebih banyak dari pada bersama dengan Erick. Tentu saja Erick mengerti akan kekhawatiran Aldrick kepada mamanya.
Mata putranya kembali terpejam. Erick menatap tubuh Aldrick dengan berbagai pikiran berkecambuk dalam benak lelaki itu. Erick menepuk-nepuk lembut jemari putranya, berharap itu bisa membawa Aldrick ke alam mimpi yang lebih indah.
Ponsel Erick kembali berdering, dia segera keluar dari ruangan itu agar tidak membangunkan Aldrick.
"Hallo, Rose," sapa Erick pada sosok di seberang sana.
"Sayang, kamu di mana? Tadi kamu memutuskan panggilan sepihak, aku takut terjadi sesuatu padamu," ucap Valeria di seberang sana dengan kecemasan mendera.
"Aku ada di rumah sakit," jawab Erick membuat Valeria terpekik di tempatnya.
"Apa? Rumah sakit? Memang apa yang telah terjadi? Bagaimana keadaanmu?" tanya Valeria begitu khawatir.
Erick menarik napasnya panjang, kemudian menghembuskannya secara perlahan.
"Bukan aku, aku hanya sebagai wali pasien saja di sini."
Terdengar hembusan napas lega dari seberang sana. Valeria kemudian bertanya kepada Erick. Siapa yang tengah dirawat di rumah sakit hingga Erick berkenan menjadi seorang wali pasien?
"Dia hanya kerabat, mungkin aku tidak bisa pulang malam ini," jawab Erick tidak memuaskan Valeria.
Kenapa Erick seakan tengah menutupi sesuatu? Siapa yang diwarat sampai dia tidak pulang malam ini?
"Ya, baiklah. Apa perlu aku mengirimkan baju ganti untukmu?" tanya Valeria menawarkan diri.
"Tidak usah, jaga dirimu baik-baik, jangan lupa makan," kata Erick mengingatkan istrinya.
Baru saja Valeria ingin mengatakan sesuatu, tapi suara perawat menjeda pembicaraan mereka.
"Ibu Yessinia meminta bertemu dengan Anda, Pak," ucap perawat itu yang suaranya mampu Valeria dengar dengan jelas.
Yessinia? Siapa dia?