"Ayo kita pulang, Aldrick!" ajak Erick seraya menggandeng putranya. Jagoan kecil itu hanya mengangguk patuh. Beruntungnya sesuatu yang buruk tidak terjadi, Aldrick hanya di rawat jalan dan tidak membutuhkan rawat inap. Sehingga sang ayah bisa segera membawanya pulang. Erick memacu mobilnya dengan kecepatan standart, sedangkan Aldrick yang duduk di belakang bersama pengasuhnya masih terlihat bengong. Tak ada lagi rona penuh semangat seperti saat dirinya bersama—sang ibu—Yessinia. Bibir tipis Erick bergetar, alis tebal yang membingkai wajah tampannya tampak menyatu. Entah sudah berapa kali lelaki itu mengembuskan napas kasar, ekor matanya tak lepas barang sedetik pun melirik jagoan kecil yang tampak bergeming itu di balik kaca spionnya. "Maafkan, Papa. Mungkin papamu ini adalah orangtua

