Lomba Paduan Suara

825 Kata
"Hati-hati di jalan, Sayang," ucap Valeria melambaikan tangannya ketika   mobil Erick telah melaju meninggalkan VRC Entertaintment. Wajah bahagia bak pasangan pengantin baru membuat banyak orang ikut tersugesti kebahagiaan dari Valeria. Meski umurnya telah menginjak kepala empat tidak pula menyurutkan kecantikan ibu dari satu anak itu. Aura wajah berseri, penuh akan energi positif semakin membuat Valeria nampak bak seorang ABG saja. "Selamat pagi, Bu," sapa para pekerja Valeria. Valeria menjawab sapaan mereka dengan penuh suka cita. Wanita itu memang telah terkenal akan keramahtamahannya pada semua orang tanpa perlu melihat jabatan mereka. Bahkan tidak jarang Valeria mengajak para pekerjanya untuk makan bersama tanpa ada batasan sosial di antara dirinya dengan pekerjanya. Begitulah Valeria, sejak muda telah menjalani kehidupan keras membuatnya sangat lentur sehingga bisa menyesuaikan dirinya di berbagai strata sosial. "Jangan lupa bahagia, ya," kekeh Valeria menggoda para pekerjanya. "Siap, Bu!" seru mereka merekahkan senyumnya. Valeria menekan tombol open pada lift executif yang ada di perusahaan entertaintmentnya. Banyak sekali poster penyanyi, sekaligus model iklan perpapang di setiap sudut kantor dan menjadi pemandangan sehari-hari siapapun yang berlalu lalang di sana. Disibakkannya rambut sebahu miliknya hingga aroma shampoo kesukaan suaminya menyeruak menyapa penciumannya. Sedangkan di sisi lain, Erick melajukan mobilnya menuju perusahaan induk Carollino Company. Hari ini dia memiliki jadwal untuk meeting dengan beberapa klien yang begitu penting hingga nanti siang. Sepertinya jadwal Erick benar-benar padat. "Jadwal meeting tidak berubah kan?" tanya Erick kepada sekretaris pribadinya. "Tidak, Pak. Semua seperti awal, lima belas menit lagi," jawab sang sekretaris membuat Erick menganggukan kepalanya. Lelaki itu lantas memasuki ruangan pribadinya, melepaskan jas kebesarannya di sana. Erick melukiskan senyumnya tanpa sadar saat menatap figura foto keluarga besarnya di atas meja. Terlihat betapa bahagianya mereka ketika berkumpul seperti itu. Tibalah waktu untuk meeting, Erick meninggalkan ponselnya menuju ruangan meeting yang letaknya satu lantai di atas ruangannya. Semuanya telah siap, bersamaan dengan kedatangan tamu perusahaan dari luar negeri. Bahkan Arkana Carollino juga menyempatkan diri datang ke perusahaan induk sebagai wakil dari Ivander—papanya. "Valeria mana?" tanya Arkana menyapa Erick. Erick berdecak kesal, yah seperti itu kebiasaan Arkana selalu saja menanyakan istrinya. "Kamu bertanya kabar seorang wanita di depan suaminya? Ckck," cibir Erick membuat Arkana terkekeh. "Dia kan saudara ipar aku, plus ibunya Marchello!" seru Arkana mencari pembelaan. Erick hanya memutar bola matanya jengah. Arkana memang ahli dalam bersilat lidah. Kalau tidak begitu, maka Marchello tidak akan lahir di dunia ini dan menjadi kebanggan banyak orang. Meeting telah dimulai, mereka terlihat sangat fokus pada setiap pembahasan, mencerna secara detail semua sub bab yang akan menjadi project kerja mereka nanti ke depannya. Waktu telah berlalu, tidak terasa suara adzan dhuhur terdengar begitu remang-remang di dalam ruangan pertemuan itu. "Sepertinya kita sudahi dulu pembahasan kita hari ini, kita lanjutkan besok pagi di jam yang sama," jelas Erick mengakhiri pembicaraan mereka pada pertemuan kali ini.  Klien Erick dan Arkana segera merapikan barang-barangnya. Sebagai tuan rumah, tentu saja Erick dan Arkana menawarkan diri mengajak kliennya makan siang bersama demi mempererat tali silahturahmi sebelum project terlaksana. "Tentu saja saya tidak akan menolaknya, Pak," jawab klien mereka menepuk bahu Erick dan Arkana silih berganti. "Mohon maaf, Pak Erick. Sejak tadi ponsel Anda terus berdering," ucap sekretaris pribadi Erick membuat lelaki itu mengerutkan keningnya penasaran. Sekretaris Erick menyodorkan ponsel lelaki itu tanpa mengurangi rasa hormatnya pada atasan. Setelah itu sekretaris Erick mohon untuk undur diri menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim dan makan siang. Nomor tidak dikenal tertera di layar ponselnya. Ada sebelas panggilan suara tidak terjawab di sana. "Maaf, saya angkat telepon dulu," pamit Erick memasrahkan kelanjutan kepada Arkana. Erick kembali menghubungi nomor tidak dikenal itu. Beberapa detik akhirnya pun panggilannya diangkat. Di seberang sana terdengar suara berisik seperti tengah dalam perjalanan. "Erick? Kamu di mana?" tanya seseorang di seberang sana. Yessinia? Dia memakai nomor baru lagi untuk menghubungi Erick. "Kamu ganti nomor lagi? Sudah berapa kali aku bilang, jangan menghubungiku kalau tidak ada sesuatu yang penting!" jawab Erick kesal. "Ini penting Erick! Hari ini Aldrick akan lomba paduan suara bersama timnya. Dia ingin papanya datang melihatnya!" ucap Yessinia menegaskan keinginan Aldrick. Anak itu memang menginginkan papanya datang untuk melihat pentasnya seperti orang tua teman-temannya. Dia juga ingin ditemani kedua orang tuanya saat pentas paduan suara meski itu bukan lomba jenjang nasional ataupun provinsi. Tetap saja, Aldrick ingin diberikan apresiasi oleh mama dan papanya. Erick menepuk keningnya karena melupakan acara lomba paduan suara yang sudah Aldrick infokan kepada dirinya. "Sudahlah! Mungkin Aldrick tidak penting bagimu!" ucap Yessinia tanpa menunggu jawaban dari papa putranya itu. "Yessi! s**t! Ditutup lagi!"  Erick melihat jam tangan yang melingkar di pergelangannya. Masih ada waktu setengah jam, dia bisa menuju gedung tempat Aldrick putranya lomba paduan suara. Lelaki itu segera menghubungi Arkana, meminta maaf karena ada kepentingan mendesak hingga tidak bisa ikut makan siang dengan Arkana dan klien mereka. "Mama awas!" teriak Aldrick saat mobil di depannya berhenti secara mendadak. Mendengar teriakan dari putranya, jelas saja Yessinia secara spontan membuang setirnya ke arah kiri hingga menabrak pembatas jalan. Suara dentuman, bersamaan dengan percikan api karena bamper body mobil menggesek besi pembatas jalan menimbulkan suara yang sangat memekakkan telinga. "Mama! Arkhhh!" teriak Aldrick sebelum kegelapan mulai menyergapnya. Tangan Yessinia bergetar lemah, sekuat tenaga dia ingin meraih tubuh putranya tapi rasanya tubuh Yessinia sudah tidak sanggup lagi terjaga. Gelap! Yessinia dan Aldrick telah kehilangan kesadarannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN