Aldrick

810 Kata
Beberapa pelayan restaurant mewah di tepi pantai itu telah menyiapkan segala pesanan atas nama Frederick Carollino dan Valeria Roseandra Corlyn. Kedua anak mereka, Marchello, dan Meechella memesan satu restaurant untuk malam ini. Mereka hanya ingin, makan malam kedua orang tuanya berjalan dengan baik dan lancar. Hanya itu kado yang bisa mereka berikan pada Erick dan Valeria selain doa agar kedua orang tuanya itu bisa mendapatkan keturunan yang telah mereka tunggu-tunggu selama umur pernikahan. Apa lagi yang bisa diharapkan pasangan suami istri selain seorang anak? Meskipun Valeri telah memiliki Marchello sebagai anak kandung, lalu Meechella keponakan yang telah dia samakan dengan putrinya sendiri, dan Rebecca anak orang lain namun serasa sebagai anak kandungnya. Tapi ini pembahasan berbeda, Valeria dan Erick tetap membutuhkan buah hati mereka. "Bagaimana penampilanku malam ini? Kenapa kamu melihatku begitu, Sayang?" tanya Valeria menatap suaminya dengan wajah bingungnya. Erick menggeleng. "Tidak, kamu hanya sangat cantik sampai aku ingin mengurungmu di bawahku," jawab Erick dengan begitu menggoda. Valeria tersipu malu, walau umur mereka menginjak pada kepala empat. Akan tetapi keromantisan rumah tangga mereka berdua tidak bisa dibilang remeh. Berkali-kali, hujan badai menerjang hubungan mereka namun cinta menjadi tiang penyangga agar rumah tangga yang mereka bangun tidak bisa runtuh begitu saja apapun yang terjadi nantinya. "Kamu ini, suka sekali membual," ucap Valeria tidak percaya dengan ucapan suaminya. "Serius, aku tidak bercanda," tutur Erick penuh keyakinan. Sempat mereka bertengkar hebat sampai Valeria memilih pergi dari rumah karena kesalahpahaman yang pernah terjadi. Dan saat itu pula, prabara rumah tangga keduanya benar-benar dimulai. Entah sampai kapan Erick menutupi kenyataan itu dari Valeria. Cepat atau lambat, Aldrick akan tumbuh besar dan tahu bagaimana status dirinya sebagai seorang anak yang disembunyikan oleh ayahnya sendiri. "Aku beruntung, memiliki suami seperti dirimu," kata Valeria merangkul lengan suaminya sambari berjalan di tepi pantai menatap hambaran pasir luas di depan mereka. Valeria sungguh merasa beruntung memiliki Erick dalam hidupnya. Dia tidak tahu jika lelaki lain, mungkin saja mereka akan menceraikan Valeria karena belum juga mampu memberikan mereka keturunan. Untunglah, suaminya adalah Erick. Lelaki itu sangat mengerti ketidakberdayaan Valeria sebagai seorang manusia.  Anak adalah rejeki, dan Erick tidak pernah menuntut istrinya memberikannya keturunan jika itu hanya memperkeruh keadaan. "Sayang, dengarkan aku," ucap Erick berhenti, hingga Valeria ikut berhenti bersama dengannya. Kening Valeria berkerut, menatap suaminya penuh dengan tanda tanya. "Why? Kamu mau mengatakan sesuatu?" tanya Valeria penasaran. Erick menangkup wajah Valeria, matanya menyapu seluruh wajah istrinya penuh dengan rasa cinta. Dielusnya pipi Valeria secara lembut, penuh kasih. "Berjanjilah, apapun yang nanti ke depannya terjadi kamu akan mempercayaiku," tutur Erick semakin membuat Valeri menatap suaminya bingung. Valeria tidak mengerti arah pembicaraan suaminya saat ini.  "Sayang, apa yang kamu maksud?" tanya Valeria meminta penjelasan. "Kamu hanya perlu mendengarkanku, tidak usah percaya yang lainnya. Hanya satu yang perlu kamu ingat. Aku tidak mungkin melukaimu," jelas Erick meyakinkan Valeria. Suatu hari nanti, Erick pasti akan mengatakan segalanya kepada Valeria. Erick akan meminta pengampunan atas kekhilafan yang pernah terjadi hingga lahirlah Aldrick dalam hidupnya. Erick tidak ingin menjadi suami yang memberikan kamuflase pernikahan idaman, sedangkan kenyataannya berbanding terbalik. Yah, ini memang salahnya. "Aku akan mempercayaimu, aku tahu kamu tidak akan menyakitiku," jawab Valeria yakin, jika cinta Erick kepada dirinya di atas segalanya. Bahkan Erick mungkin lebih mencintai Valeria ketimbang dirinya sendiri. Saking cintanya, dalam hidup Erick hanya ada bagaimana cara membahagiakan Valeria di tengah keinginan mereka mendapatkan keturunan. Erick membawa tubuh Valeria ke dalam pelukannya. Berterimakasih kepada Tuhan karena sudah menyatukan dirinya dengan wanita yang sempat dia pikir akan menjadi milik saudaranya sendiri. Tuhan memang memegang kendali pada jodoh manusia. "Ayo, kita makan makanannya," ajak Erick diangguki Valeria. Mereka berjalan dengan tangan saling menggenggam satu sama lain. Rona wajah bahagia tercetak jelas di sana. Bahkan orang lain akan ikut merasakan kebahagiaan sepasang suami istri itu ketika mereka berpapasan dengan Valeria dan Erick. Hanya saja restaurant itu begitu sepi karena bokingan Marchello dan Meechella sebelumnya. "Mama, itu Papa sama siapa?"  Seorang anak laki-laki menarik ujung baju mamanya. Ibu dan anak itu menatap sosok pasangan Erick dan Valeria di depan sana. Aldrick, menatap papanya yang tengah asyik bercanda gurau dengan wanita lain. Anak itu bingung, tidak mengerti kenapa bukan dia dan sang mama yang berada di sana bersama papanya. Air mata Yessinia meluruh, di saat dia mati-matian menjaga putranya seorang diri. Erick malah sibuk menjaga hati istrinya. Padahal, anak adalah darah dagingnya sendiri. Lalu kenapa Erick sangat sulit meluangkan waktunya bersama dengan Aldrick? Tidak masalah jika Erick tidak menikahinya. Toh Erick telah menjanjikan status hukum yang jelas untuk Aldrick. Semua itu sudah lebih dari cukup bagi Yessinia. "Ma, kita enggak diajak Papa makan juga?" tanya Aldrick dengan polosnya. Tidak mengerti jika dia dan sang mama adalah orang-orang yang disembunyikan papanya dari dunia luar. "Aldrick mau makan malam sama Papa?" tanya Yessinia menghapus air matanya. Anak lelaki itu mengangguk mengiyakan. Sudah lama mereka tidak makan malam bersama. Sepertinya akan sangat membahagiakan jika mereka bisa makan malam bersama-sama lagi. "Kalau begitu, pergilah ... susul papamu," jawab Yessinia dengan helaan napasnya panjang. Menurut Yessinia, sudah saatnya Erick mengatakan kepada seluruh dunia jika Aldrick adalah putranya. Terlebih kepada Valeria, wanita itu harus menerima Aldrick seperti Erick menerima Marchello seperti putranya sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN