02. MENYEBALKAN

1115 Kata
"Cell, pinjem pulpen punya lo dong, punya gue macet nih," rayu Weeby pada Marcell, teman sebangkunya. Tidak lupa dia memasang raut wajah puppy eyes agar Marcell mau menolongnya. Dengan terpaksa, Marcell menghentikan aksi menyalin catatan dan seketika beralih menatap Weeby dengan sorot mata mematikan. "Ogah, makan tuh pulpen, sukurin!" Alih-alih meminjamkan pulpen pada Weeby, Marcell malah memaki cewek di sampingnya ini habis-habisan. Mendengkus sebal, Weeby memutar bola matanya. Selalu saja begitu, Marcell adalah cowok yang menyebalkan. Dan Weeby tidak suka dengan sifatnya itu. Kalau saja Bu Rena, guru BK yang mengampu kelasnya tidak mengatur tempat duduk, Weeby sangat ogah-ogahan kalau sebangku dengan Marcell. Dengan terpaksa ia harus menurut. "Tapi pulpen gue macet, lo jahat banget sih sama gue, gue kan cewek dan elo kan cowok, masa nggak mau ngalah sih?" tukas Weeby menggebu-gebu. Jengkel. "Bodo amat, ini pulpen gue, dan gue ada berhak untuk melakukan apa aja," balas Marcell sarkastik, tidak peduli dengan Weeby yang sudah mencak-mencak ditempatnya. "Lha terus gue gimana dong?!" "Makanya, beli pulpen itu nggak usah di Jakarta, udah tau Jakarta sering macet, ya jadinya gitu. Pulpen lo ketularan," ucap Marcell remeh sembari terkekeh diakhir kalimat yang ia ucapkan. "Ih Marcell, lo ngeselin banget sih, mau gue sumpal mulut lo pake kaos kaki busuk gue?" omel Weeby sembari mengentakkan kakinya kesal, giginya bergemeretak menahan amarah. Marcell terkekeh pelan, "lagian apa susahnya sih lo ijin terus pergi ke koperasi buat beli pulpen? Itu aja repot, lo-nya aja yang banyak tingkah," hardik Marcell membuat Weeby harus mengembuskan napasnya berulang kali dengan gusar. Memang setiap hari ia harus menerima ini semua. Omelan dan tudingan selalu Weeby dapatkan dari Marcell. Weeby berusaha untuk tetap tenang. "Nggak mau," ucap Weeby mantap. Ia menggelengkan kepalanya berulang kali. "Ya udah terserah lo aja deh, gue nggak mau ngurusin lo kalo Bu Halimah nanti ngecek tulisan satu persatu. Siap-siap aja lo kena ceramahan yang bejibun itu," jelas Marcell panjang lebar, menakut-nakuti Weeby. "Ih ... gue pengin makan lo hidup-hidup jadinya! Jadi cowok nggak ada pengertiannya banget," maki Weeby. Berulang kali ia memukul lengan Marcell yang kokoh. Sementara Marcell merasa tidak keberatan, bagi dirinya, pukulan Weeby adalah berupa pijitan ringan untuknya. Sangat mengenakkan. Weeby benar-benar merutuki nasibnya, kenapa dia bisa kenal dengan cowok model seperti Marcell ini? Mau sampai upin ipin udah gede pun, Marcell sepertinya tidak akan minjemin pulpen untuknya, Weeby sangat kesal setengah mati memiliki teman bangku yang pelitnya minta ampun macam Marcell ini. Untuk beberapa detik selanjutnya, Weeby mengedarkan pandangan sekitar. Mencari sosok kedua sahabatnya. Namun, s**l ya tetap s**l. Netta sedang sibuk menyalin tulisan, beberapa kali Weeby memanggil namanya pun dia tetap tidak mendengar. Kalau Kenya? Ah, Weeby tidak bisa berharap pada sahabatnya satu ini, tempat duduknya sangat jauh dari bangku yang Weeby duduki. "Weeby, kamu kenapa?!" Spontan Weeby langsung menatap Bu Halimah, guru itu tengah menatap ke arahnya dengan muka datarnya. Weeby langsung gelagapan setengah mati. Ia sungguh gugup. "A... anu Bu, ini... emm." "Weeby nggak mau nyalin catatan Bu, lebih baik dixeramahin katanya, biar mulut Ibu biar pegel." Weeby sungguh frustrasi, beraninya Marcell bicara seperti itu kepada Bu Halimah? Dengan tatapan garang yang siap menerkam, Weeby menyorot tajam wajah Marcell. Ia tidak akan mau mengampuni Marcell setelah ini. Nggak akan dan jangan harap Weeby mau melakukan hal itu! Marcell benar-benar membuatnya kesal. Bukan Marcell namanya kalo tidak buat usil dan seenaknya, ia sama sekali tidak merasa bersalah telah melakukan perbuatan itu, terlebih lagi membuat Weeby malu setengah mati. Marcell benar-benar manusia 'rese semuka bumi. Dan yang membuat Weeby semakin kesal adalah Marcell malah nyengir tanpa dosa. Berdecih kecil, lantas Weeby langsung mengedarkan pandangan pada Bu Halimah kembali setelah ucapan beliau selanjutnya sukses membuat jantungnya kaget. "Betul itu Weeby?!" tanya beliau tegas. "Eh, mana ada Bu, Marcell ngarang, nggak usah percaya sama omongan Marcell Bu, mulutnya emang kadang suka error," ucap Weeby sesekali melirik Marcell. Bu Halimah tidak berkata-kata setelah itu, beliau mengunci mulutnya. Namun, ucapan Marcell setelahnya mampu membangkitkan kemarahan Weeby. "Kalo Ibu nggak percaya sama saya, coba aja cek bukunya, nih lihat Bu, kosong, kan?" Marcell mengangkat buku catatan Weeby yang masih putih dan mulus. Tanpa ada coretan sedikitpun. Bu Halimah lantas menggelenglan kepalanya berulang kali. "Kamu kenapa nggak pinjem pulpen Weeby? Dan kamu Marcell, kenapa nggak pinjemin Weeby pulpen?" Seketika sudut bibir Weeby terangkat. Baru saja ia akan mengucapkan sesuatu untuk berseru protes, spontan Weeby tahan karena Marcell sudah melayanglan perkataannya kembali. Weeby hanya bisa mendesah ringan. Dia kalah cepat. "Dianya aja yang nggak mau Bu, katanya males nulis, lebih baik denger ibu ceramah biar mulut ibu jebol," ucap Marcell sembari melirik Weeby yang sudah menatap dirinya sedari tadi dengan mata melotot tajam. "Eh, kenapa jadi gue? Elo-nya aja yang pelit, amit-amit jabang bayi. Kenapa gue punya teman sebangku kayak lo ini, ya?" Weeby tidak terima dengan semua tuduhan Marcell. Marcell terlalu pandai menghasut Bu Halimah. Dan siaalnya lagi, guru itu malah lebih percaya pada ucapan Marcell. "Weeby! Sekarang kamu berdiri di depan kelas, sini!" perintah Bu Halimah dengan suara tegasnya. Weeby seketika langsung menolak mentah-mentah, ia merasa bahwa dirinya tidak salah dalam hal apapun. Dan kenapa harus dirinya yang dihukum? Memang sialaan! Dan ini semua adalah ulah Marcell, si cowok nyebelin! Percuma saja Weeby menghindar, nyatanya Bu Halimah tetap bersih keras menyuruh Weeby untuk berdiri di depan kelas. Dengan berat hati, Weeby menurut. Sebelum benar-benar melangkah maju, Weeby melempar hunusan mata elangnya pada Marcell yang sudah merasa menang. Weeby berdecih seraya mengumpat pelan, lalu dilanjutkan mengangkat bokongnya dari kursi. Kini Weeby benar-benar kalah telak dari Marcell. "Sialaan lo!" umpat Weeby yang ditujukan untuk Marcell. Setelah berdiri dengan tegap didepan kelas, Weeby tidak henti-hentinya melayangkan mata nyalangnya pada Marcell. Tingkat kekesalannya bertambah drastis ketika Marcell malah membalas mengejek, apalagi menjulurkan lidahnya. Jujur saja, Weeby merasa tersakiti, teraniyaya, dan terbebani duduk satu bangku dengan iblis kelas satu ini. Weeby juga sudah berusaha meminta teman yang lain untuk menukar tempat duduk. Namun, tetap tidak ada yang mau menerima permintaan Weeby. Karena mereka juga tahu bahwa Marcell sangat jahil dan suka mengganggu. Itu membuat mereka tidak nyaman. "Yang tegap, mata lurus ke depan!" ucap Bu Halimah keras. Sabar Weeby, sebentar lagi jam Bu Halimah selesai. Dengan mengandalkan kedok pura-pura tuli, Weeby langsung bersandar pada papan tulis. Punggungnya benar-benar pegal. "Kamu dengar nggak apa yang saya perintahkan? Berdiri yang tegap, hormat kalo perlu!" "Tapi saya capek Bu, jangan nyiksa gini lah, masa Ibu tega sih sama saya? Nanti kalo ibu kena karma saya nggak ikut-ikutan lho, Bu!" Mendengar perkataan tidak sopan dari Weeby sukses membuat Bu Halimah marah besar. "WEBBY! IBU MAU KAMU KELUAR DAN LARI SEPULUH PUTARAN! SEKARANG JUGA!" Seketika saja lutut Weeby terasa lemas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN