Morana

1504 Kata
Sore yang sepi tidak aman bagi seorang wanita berjalan sendirian. Morana justru melenggang santai melewati jalanan sepi dan remang-remang. Sementara dia tahu di depannya sudah menunggu sekelompok pria sedang nongkrong sambil menghisap rokok dan minum-minuman. Mereka terdiri dari lima pria.  Kegiatan bercengkrama mereka sontak teralihkan ketika melihat eksistensi Morana. Dia berjalan anggun tanpa pengawalan. Ditambah dengan gaun merah serta dandanan wanita itu yang mencolok bagai wanita kelas atas dari pesta. Ketukan wedges hitamnya terdengar kian dekat.  Para lelaki itu saling melirik menyeringai saling memahami seakan berbicara melalui telepati. Lalu mereka beranjak dan menghadang Morana, yang membuat langkah jenjangnya terhenti.  Sedatar papan tatapan Morana pada mereka. Hanya ada seraut jutek yang dingin di wajah mulusnya.  "Hai, wanita. Apa yang membuatmu nekat berjalan sendirian di tempat begini?" goda salah satu lelaki itu. Seraya mata mereka tidak puas jika cuma satu kali mengamati penampilan Morana. Bisa dikatakan gaya wanita itu mengundang perhatian lelaki golongan mereka.  Seulas senyum penuh arti terbit di bibir merah Morana. "Aku hanya ingin satu. Satu yang lumayan wangi dibanding kalian sisanya." Tentu saja ucapan Morana tidak mereka mengerti maksudnya. Morana tetap diam di tempat. Menunggu mereka semakin dekat untuk bisa menyentuhnya.  Barulah ketika itu, terdengar teriakan melengking di langit sore yang mendung. Peristiwa itu terjadi dalam beberapa detik saja untuk membuat mereka tersungkur pingsan di tanah, dengan menyisakan seorang pria yang kini berdiri gemetar di hadapan Morana layaknya tikus kepergok kucing. Lelaki itu bahkan tidak mampu menggerakan kakinya.  Morana menyeringai, dengan sengaja menunjukan gigi taringnya dan berhasil semakin menakuti lelaki angkuh tersebut. "Kau milikku untuk hari ini, boy." Dibelainya pipi lelaki itu dengan kuku panjang hitamnya. Biasanya tidak ada yang bisa mengabaikan tatapan s*****l Morana. Tapi dalam situasi begini, lelaki itu justru melihat Morana adalah monster berwujud wanita s3xy.  "Tapi tidak di sini, boy. Beberapa manusia sedang menuju kemari dan keberadaan mereka akan mengganggu ritual makanku. Ayo ikut aku ke tempat yang asik." Syok berat membuat lelaki itu jatuh pingsan. Morana menghela napas lelah. "Kenapa kau harus merepotkanku?" keluhnya, dan pada akhirnya dia menggendong mangsanya hingga menemukan lokasi sesuai untuk menikmatinya penuh rasa syukur. Yakni, ketika dia melihat ventilasi sebuah bangunan.  Dengan sekali melompat, Morana menjebol masuk dan kaca ventilasi pecah berhamburan. Kemudian berpijak di lantai dengan mulus. Tanpa berlama-lama lagi dia menancapkan taringnya ke ceruk leher lelaki itu. Menghisap dar4hnya kuat dan rakus sampai cairan merah itu meleleh di area bibirnya.  Morana tidak suka diganggu tapi kedatangan seorang manusia tanpa permisi telah mengubur napsu makannya pada lelaki ini. Sehingga dia kesal dan mendekati wanita muda -yang terlihat asing baginya berada di rumah ini.  Morana mengamati wanita muda itu, sambil terheran-heran. "Apa kau mainan Elliot?" Lalu dia maju selangkah lebih dekat. Mengendus bau tubuh Rinelda. "Baumu sangat enak." Dia menghirupnya dengan ekspresi sangat menikmati.  "Tapi aku tidak suka langsung memakanmu sebelum menyiksamu dulu seperti kambing bodoh." Jeda sesaat. "Oh ya, bagaimana kalau seperti ini!" sentaknya menarik tangan Rinelda dan melemparkannya bak kertas tak berguna ke udara. Aksinya tersebut jelas bisa membuat wanita muda itu mati karena jatuh dari ketinggian ini.  Tapi seringai puas justru terukir di wajah Morana yang berbinar-binar menonton Rinelda sekarat di bawah sana, dengan tubuh yang mulai digenangi dar4h.  "MORANA!!!!" Wajah senang Morana mendadak datar. Tepat di belakangnya, Elliot membuka pintu lebar-lebar disertai raut murkanya yang berasap. Morana terlihat tenang saja. Dia tersenyum miring, kemudian membalikan badan bersamaan ketika Elliot menyerangnya tiba-tiba. Sampai membuat pagar pembatas itu terbelah dengan tubuh Morana yang terdorong kuat.  Morana mendarat di tembok sejenak saat Elliot terjun ke bawah mendekati tubuh terkapar Rinelda. Tampak Elliot merana seraya membisikan nama Rinelda dengan kecemasan yang tidak biasa. "Rinelda, sayang ...," lirihnya sambil mengulurkan tangan kanannya dan jemari putih tersebut kelihatan gemetar saat hendak meraih wajah Rinelda.  Kedua mata Rinelda telah tertutup rapat. Bibirnya memucat, menandakan keselamatan nyawanya perlahan tapi pasti meninggalkan jasadnya. Begitu juga pada kulit wajah Rinelda yang Elliot bingkai pipinya menggunakan telapak tangan, semakin terlihat sewarna pucat seperti dirinya. "Jangan seperti ini. Setelah sekian lama aku menunggu, jangan pergi lagi," desau Elliot bernada putus asa.  Elliot tidak dapat membayangkan jika wanita ini meninggalkannya secepat ini setelah pertemuan yang baru hitungan jari. Sampai kemudian sebilah pisau kecil tertangkap netra biru Elliot di telapak tangan terbuka Rinelda di seberang kiri. Elliot tertegun ketika secercah ide melintasi pikirannya.  Sebuah pemandangan manis sekaligus memilukan, membakar benak Morana sebagai penonton. Dia memicingkan mata. Aneh. Sangat aneh melihat Elliot begitu peduli pada manusia itu.  Apa yang sebenarnya terjadi?  Sampai tindakan di luar perkiraan Morana, dia saksikan dengan terkaget melihat Elliot meraih pisau kecil dari tangan Rinelda dan menggoreskannya pada telapak tangannya sendiri hingga berdar4h, sebelum dia hisap ke mulutnya lalu merunduk ke wajah Rinelda hanya untuk menempelkan bibir mereka dan mentransfer dar4hnya.  Morana tidak pernah menduga hal tersebut akan Elliot lakukan pada seorang manusia. Itu artinya, wanita muda di sana adalah manusia berharga bagi Elliot. Fakta ini sayangnya tidak Morana sukai. Morana memalingkan wajah dengan kesal, sementara area bibirnya telah bersih dari dar4h -dia mengusapnya dengan sapu tangan.  Elliot tidak mengatakan apapun padanya. Laki-laki itu segera mengangkat Rinelda di kedua lengan kokohnya ala puteri. Kemudian melompat ringan ke pintu tadi dan mengabaikan Morana yang terdiam bingung. Di satu sisi dia merasa seperti angin lalu oleh Elliot. Di sisi lain dia berpikir Elliot pasti akan memarahinya habis-habisan. Tapi Morana memilih dimarahi Elliot daripada diabaikan. Itu sangat sakit sekali.  Kesal. Morana menggigit bibir bawahnya. "Siapa sebenarnya wanita itu?" geram Morana.  Morana mengikuti arah perginya Elliot. Hingga dapat dia ketahui laki-laki itu membaringkan Rinelda di tempat tidur dengan perlahan. Perlakuan Elliot seperti ini langsung mengerutkan hati Morana menjadi masam.  Sedangkan Elliot tampak sangat khawatir menatapi wajah Rinelda tanpa bisa dia lihat kedua mata bulatnya. Elliot sedih. Khawatir luar biasa menjerat dad4 Elliot lebih kuat dan lebih kuat lagi.  Tapi Morana sudah tidak betah menahan diri sebagai penonton. Maka dia menginterupsi Elliot untuk menjawabnya. "Aku baru pertama ini menemui seorang manusia di kastilmu. Siapa sebenarnya wanita itu? Apa kau sudah memutuskan untuk membawa seorang mainan?" Akhir kalimat Morana terdengar pedas. Sayangnya, Morana tidak tidak tahu cara bicara dengan hati-hati.  Sehingga aura kelam bertambah gelap terlihat dari punggung Elliot. "Ada apa kau ke rumahku?" Terdengar tidak ada keramahan dalam nada suaranya yang datar dan dalam. Kontrol emosinya tampak stabil. Elliot menahan diri untuk tidak bertindak gegabah. Meski kini di dalam hatinya sudah ribut bak angin beliung.  "Hanya ingin menyapamu. Aku tahu kau kesepian jadi aku datang untuk menghiburmu." "Ya," geram Elliot seraya bangun perlahan. "Kau hampir membuatku kesepian selama-lamanya." Lalu Elliot memutar tumitnya dengan lambat, berbalik arah, dan Morana menahan napas dalam.  Morana menegang kaku. Melihat Elliot saat ini, membuat dia merasa seolah telah membangkitkan iblis tidur yang berbahaya. Morana benci mengakui hal tersebut, bahwa dia sedang gemetaran dibalik sikap anggunnya yang dia pertahankan selues mungkin untuk menyembunyikan sedikit ketakutannya saat ini. Karena, Elliot di hadapannya sekarang bukan terlihat seperti Elliot yang biasanya dia kenal.  Meskipun Elliot bukan sosok dengan kepribadian ceria maupun banyak bicara, sikap Elliot yang selama ini masih lebih baik ketimbang tatapan mata sedingin alaskanya yang seruncing ujung pedang itu. "Apakah hanya itu alasanmu?" Kata-kata itu mungkin terdengar biasa saja, namun saat Elliot yang mengatakannya dalam ketenangan stabil, wajah datar, ditambah sorot mata mengintimidasi, justru terdengar seolah-olah mengucapkan 'apa kalimat terakhirmu sebelum mati?' Karena begitulah yang Morana rasakan dari kepekaan nalurinya.  "Bukankah memang itu faktanya? Dia adalah manusia, makanan kita yang mudah mati hanya dengan---"  "Sekali mau bicara lagi, aku tidak bisa menjamin lidahmu masih ada di tempatnya." Ancaman mutlak lolos dari mulut Elliot. Yang langsung membungkam lisan Morana karena tercekat melihat mata biru Elliot telah berubah merah di dalam kegelapan ruang kamar. Tapi sedetik kemudian wanita itu seakan tidak dibiarkan bernapas lega ketika Elliot telah melesat cepat ke hadapannya, memperlihatkan begitu jelas sepasang iris merah Elliot yang berkilat-kilat menyimpan emosi. "Apa kau mengerti, nona Morana?" Elliot menekankan dua suku kata terakhirnya. Hanya untuk menegaskan bahwa dia tidak takut jika harus melukai Morana kapan pun.  Oh tentu saja bukan karena perbedaan gender di antara mereka. Elliot tidak peduli siapa yang dia lukai, mau perempuan ataupun laki-laki. Karena dunia mereka tidak memandang latar belakang dalam pertarungan apalagi memilah orang yang harus dilawan. Fakta bahwa Elliot memiliki status lebih tinggi dari Morana, membuat Morana diam-diam menggigil ketakutan bak seekor tikus memohon di hadapan kucing besar. Morana pikir masih lebih baik jika dia menghadapi pertarungan dengan para Ksatria istana, daripada laki-laki itu menggunakan statusnya yang sudah pasti dapat mengancam keberlangsungan keluarganya nanti jika dia tidak berhenti mengusik emosi laki-laki ini.  "Pergi dari rumahku atau kau butuh pengawalan?" usir Elliot. Menggeram rendah, dan saat dia bicara, kedua taringnya terlihat sama mengancamnya.  Morana mendengus. "Baiklah. Aku tidak akan menyentuh wanita itu lagi." Elliot memicing tajam. Perkataan Morana tidak mudah Elliot percaya meski wanita ini belum pernah membohonginya. "Aku berjanji sebagai puteri bangsawan vampir yang tidak pernah melanggar sumpahnya." Morana menciut diam sambil melangkah mundur menjaga jarak dari Elliot yang tampak menyeramkan di matanya. Kemudian pintu kamar itu tertutup rapat di depan punggung Elliot. Seolah tidak mengizinkan Morana masuk ke kamar ini lagi -mendekati Rinelda. Kemudian tanpa mengatakan apa-apa lagi, Elliot melenggang dan bayangannya ditelan kegelapan lorong panjang.  ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN