“Nyonya,” panggil Slevi merasa cemas karena hampir tiga jam Olevey sama sekali tidak ke luar dari kamar mandi. Setelah sarapan, Olevey yang terlihat kurang enak badan segera masuk ke kamar mandi dan belum ke luar sampai saat ini.
Slevi merasa dirinya salah karena tidak sigap saat sudah melihat wajah sosok yang ia layani terlihat begitu pucat dan kehilang rona cantiknya. Slevi kembali mengetuk pintu kamar mandi. “Nyonya, apa Anda baik-baik saja? Apa saya boleh masuk?” tanya Slevi lagi. Para bawahan Slevi saat ini juga terlihat sangat cemas dengan kondisi nyonya mereka yang sejak tadi bersuara.
Slevi yang benar-benar merasa cemas, tidak bisa menahan diri untuk meraih gagang pintu dan berniat untuk membuka pintu kamar mandi tersebut. Namun, suara Olevey menghentikan Slevi. “Tidak perlu cemas, Slevi. Aku hanya tengah menenangkan diri,” ucap Olevey dengan suara yang terdengar begitu lemah.
Tentu saja Slevi yang mendengar hal itu semakin dibuat cemas saja. Slevi bertanya-tanya, sebenarnya apa yang terjadi hingga sang nyonya seperti ini? Padahal akhir-akhir ini, Slevi selalu melihat Olevey yang terbangun dengan senyum merekah. Olevey juga menjalani hari dengan penuh semangat, karena alasan yang tentu saja Slevi tidak ketahui. Hanya saja, tiba-tiba pagi ini Slevi melihat Olevey yang terbangun dengan sekujur tubuh yang basah oleh keringat dingin. Olevey juga terlihat begitu pucat, seakan-akan tengah sakit. Namun, saat ditanya oleh Slevi, Olevey sama sekali tidak mengatakan apa yang ia rasakan dengan jujur.
“Slevi, apa yang harus kita lakukan? Nyonya sudah terlalu lama di dalam sana. Sebentar lagi juga sudah memasuki waktu makan siang. Bukankah, Yang Mulia Raja ingin makan siang bersama dengan Nyonya?” tanya salah satu rekan Slevi.
Slevi yang mendengar pertanyaan rekanya itu tentu saja merasa cemas. Ia kembali mengetuk pintu kamar mandi dan berkata, “Nyonya, lebih baik saya masuk. Saya akan membantu Nyonya, jika Nyonya memang tengah melakukan sesuatu atau butuh hal yang sulit. Nyonya saat ini harus segera bersiap untuk makan siang.”
Hanya saja, Slevi sama sekali tidak mendapatkan sahutan apa pun. Ia menggigit bibir bawahnya cemas dengan situasi ini. Saat Slevi berniat untuk membuka pintu kamar mandi, sebuah suara sudah lebih dulu menghentikan Slevi. “Berhenti.”
Slevi menoleh dan segera memberikan hormat pada Diederich yang ternyata datang dengan ditemani oleh Exel. Tentu saja, Exel selalu berada di sisi Diederich sebagai abdi yang paling setia. Namun, semua orang termasuk Slevi sendiri, sama sekali tidak menyadari pandangan Exel yang tertuju pada pelayan Olevey tersebut. Hanya saja, mungkin karena tatapan Exel terlalu tajam padanya, Slevi pun ternyata merasakan hal tersebut dan mengangkat pandangannya. Slevi memerah saat melihat pandangan Exel yang hanya tertuju padanya.
“Apa Olevey masih berada di kamar mandi?” tanya Diederich tiba-tiba membuat Slevi bersyukur sebab pertanyaan itu bisa mengeluarkan dirinya dari situasi yang terasa memalukan. Tadi, Slevi hampir saja mengingat apa yang terjadi tadi malam dengan Exel.
Slevi berdeham. “Iya Yang Mulia, kami sama sekali tidak bisa membujuk Nyonya untuk ke luar dari kamar mandi, sementara kami tidak mengetahui apa yang sebenarnya dikerjakan Nyonya di dalam sana. Saat kami bertanya pun, Nyonya sama sekali tidak memberikan jawaban,” ucap Slevi.
Diederich mengangguk lalu berkata, “Pergilah. Aku yang akan mengurusnya.”
Tentu saja, semua orang yang mendengar hal tersebut tidak membatah sedikit pun dan segera melangkah untuk ke luar dari ruangan yang memang disediakan secara khusus untuk Olevey. Sepeninggal semua orang, Diederich pun berdiri di depan pintu kamar mandi dan mengetuknya pelan. “Eve,” panggil Diederich. Namun, Olevey sama sekali tidak memberikan respons yang jelas saja membuat Diederich mengernyitkan keningnya. Diederich menarik tangannya dan pintu kamar mandi tersebut terbuka dengan sendirinya.
Diederich melangkah memasuki kamar mandi dan mengernyitkan keningnya saat melihat Olevey yang tertidur dalam bak berendam yang hampir menenggelamkan dirinya. Diederich berdecak saat bisa membaca rencana Olevey yang memang sengaja berendam untuk meredakan rasa panas dan sakit yang menyerang sekujur tubuhnya. Mungkin benar, apa yang dilakukan Olevey ini memang bisa meredakan rasa panas dan sakit yang ia rasakan. Namun, Diederich bisa memastikan jika hal ini tidak akan bertahan terlalu lama.
Diederich mengulurkan tangannya dan menyentuh kening Olevey yang dihiasi butiran keringat dingin. Tentu saja, Diederich tahu seberapa tersiksanya Olevey saat ini, karena ia juga merasakan hal yang sama. Diederich sama-sama merasakan sakit yang sama besar dengan dirasakan oleh Olevey. Bahkan, rasa tersiksanya Diederich saat ini, jelas lebih besar daripada Diederich karena rasa sakit Diederich ditambah dengan nafsu yang jelas membutuhkan pelepasan secepatnya. “Rasa sakit ini akan semakin menggila malam ini. Karena malam ini, adalah puncak masa penyatuan penyempurnaan,” ucap Diederich.
***
“Panas,” gumam Olevey lalu terbangun dari tidurnya. Saat itulah Olevey tersadar jika dirinya sudah berpindah dari kolam berendam ke atas ranjangnya. Bajunya juga sudah berganti, menjadi gaun tidur tipis yang terasa nyaman untuk digunakan tidur. Olevey menghela napas saat melihat langit yang sudah gelap dan dihiasi oleh bulan merah yang berpendar dengan misterius. Olevey mengerang saat merasakan panas yang menyiksa di sekujur tubuhnya. Saking panasnya, Olevey merasa jika tubuhnya terasa sangat sakit. Olevey merasa dirinya seperti tengah dibakar.
Namun, rasa panas ini berbeda dengan rasa panas jiak terbakar dengan api. Ada rasa panas yang berbeda, dan Olevey sendiri tidak mengenal rasa panas ini. Olevey merasakan pandangannya berkunang-kunang. Rasanya, tidak sadarkan diri akan terasa jauh lebih baik daripada sadar dan merasakan sakit seperti saat ini. Olevey berusaha turun dari ranjang. Ia ingin meredakan rasa sakit ini, sepertinya berendam seperti tadi siang adalah pilihan yang paling tepat. Sayang sekali, kaki Olevey sama sekali tidak bisa diajak kompromi. Kaki Olevey melemas dan membuatnya meluruh begitu saja. Olevey meringis saat merasakan lututnya menghantam lantai dengan cukup keras.
Olevey terkejut saat tiba-tiba tubuhnya terangkat di udara dan dipindahkan begitu saja ke atas ranjang. Tentu saja Olevey sangat terkejut, tetapi ia sadar jika ini adalah dunia iblis. Hal mustahil di dunia manusia, adalah hal lumrah di sini. Saat mengedarkan pandangannya, Olevey sadar jika Diederich ada di sana. Hal yang paling gila baru pertama Olevey rasakan saat matanya sama sekali tidak bisa berpaling dari pemandangan indah berupa dan dan perut bidang Diederich yang tampak begitu jelas, karena jubah tidur yang dikenakan Diederich tidak diikat dan dibiarkan terbuka begitu saja.
Diederich bergerak dengan perlahan dan menaiki ranjang. Olevey bertanya-tanya pada dirinya sendiri, alasan mengapa dirinya tidak beranjak menjauh saat Diederich mendekat dan pada akhirnya berhasil mengungkungnya seperti saat ini. Diederich mengulurkan tangannya dan menyentuh kening Olevey yang tampak berkeringat dingin. “Ini adalah efek dari penandaan yang belum sepenuhnya sempurna karena kita belum melakukan penyatuan,” bisik Diederich.
Olevey berusaha mati-matian untuk menahan dorongan gila di mana dirinya ingin menarik dan mendekat erat Diederich. Olevey menggelengkan kepalanya dan berkata, “Omong kosong. Aku sama sekali tidak apa-apa. Aku hanya merasa terlalu gerah.”
Diederich berdecih lalu menyeringai. “Jangan membodohi dirimu sendiri, Olevey. Menolak kenyataan sama sekali bukan hal menguntungkan bagimu. Jika kau terus menolaknya, kau yang akan tersiksa. Saat ini adalah malam puncak masa penyatuan. Semua orang yang sudah melakukan penandaan akan merasakan birahi yang sangat kuat. Seperti saat ini, aku merasa hampir gila. Aku ingin menyentuhmu, membuatmu mengerang dan menggila bersama hingga mencapai puncak. Aku yakin, kau juga merasakan hal yang sama seperti yang akau rasakan,” bisik Diederich.
Olevey terkekeh meremehkan. “Jangan gila, mana mungkin aku merasakan ha menjijikan seperti itu padamu! Aku manusia, dan kau iblis, kita sama sekali tidak bisa melakukan hal semacam itu. Sebaiknya, kau kembalikan aku ke dunia manusia,” ucap Olevey.
Diederich bangkit dan melepaskan jubahnya sebelum kembali mengungkung Olevey dengan tubuhnya yang kekar serta terlihat begitu mengagumkan itu. “Sepertinya, aku sama sekali tidak mengulur waktu lagi. Mari kita mulai, kita lihat siapa yang akan kalah dalam permainan gairah ini,” ucap Diederich lalu mencium bibir Olevey yang sama sekali tidak bisa menghindar dan hanya bisa mengerang tertahan. Firasat buruk menghinggapi hati Olevey. Hari ini, Olevey yakin jika dirinya akan kehilangan sesuatu yang sangat berharga bagi dirinya sendiri.