LIMA

1479 Kata
*** Pak Willy menatap Axel dan Sisi bergantian. Setelah teriakan Sisi yang begitu nyaring terdengar oleh Pak Willy, akhirnya mereka berdua di giring masuk ke ruang BK. Pak Willy benar-benar tidak menduga bahwa Ketua Osis yang terlihat perfect bisa masuk juga ke ruang BK. "Kenapa kamu bisa ada diluar saat jam pelajaran?" tanya Pak Willy dengan menatap lurus ke wajah Sisi. "Saya----saya diminta keluar dari kelasnya Pak Seno, Pak!" jawab Sisi terbata. Pandangannya menunduk. "Pak Seno? Apa yang kamu lakukan, Sisi?" Pak Willy menghela nafas berat. Selama 2 tahun, ini pertama kalinya Sisi bermasalah dan berakhir diruang BK. "Saya membuat kegaduhan, Pak?" jawab Sisi pelan. Mata Pak Willy sempat mendelik sesaat, tak percaya jika seorang Delisia Xiena akan dikeluarkan saat jam pelajaran berlangsung hanya karena ribut. Mata Pak Willy beralih menatap Axel yang hanya memasang wajah datarnya. "Lalu kenapa kamu ada dikantin? Banyak hal yang bisa kamu lakukan selain ke kantin. Kamu bisa ke perpus atau mungkin ke ruang Osis." "Maaf, Pak tadi saya---" "Saya yang mengajaknya ke kantin, Pak!" potong Axel cepat. Mata Pak Willy dan Sisi langsung menatap ke arahnya. "Kamu anak baru itu, kan?" tanya Pak Willy. Axel mengangguk. "Benar, Pak. Panggil saya Ax!" "Kamu kalau mau nakal jangan mengajak Sisi. Kamu tidak tau dia siapa? Sisi itu Ketua Osis di sekolah ini. Harusnya dia memberi contoh yang baik. Kamu juga baru tadi pagi masuk ke lingkungan ini. Jangan membuat onar seperti apa yang kamu lakukan di sekolah sebelumnya." Axel hanya tersenyum miring. Rupanya guru disini sudah membaca riwayatnya. "Baik, Pak!" "Oke," Pak Willy menarik nafas panjang dan membuangnya dengan cepat. "Sebenarnya kesalahan kalian tidak fatal tapi karena kalian lari dari saya, maka saya akan memberikan sebuah hukuman!" Sisi menelan salivanya pelan. Bagaimana mungkin ini terjadi? Bagaimana kalau semua siswa-siswi disini tau seorang Ketua Osis mendapatkan hukuman dari Pak Willy? Sisi tampak tegang menunggu perkataan Pak Willy selanjutnya berbeda dengan Axel yang tampak tersenyum miring. Baginya ini sudah hal yang biasa. Membersihkan perpus, toilet atau mungkin lari keliling lapangan. Apapun akan ia lakukan asalkan bisa bersama Sisi. "Kalian di skors selama 3hari. Belajarlah dirumah dan renungi kesalahan kalian!" Keputusan Pak Willy membuat mata Sisi dan Axel membelalak. Bagaimana bisa hanya karena pergi ke kantin mereka mendapatkan skorsing? "Pak!!" seru Sisi dan Axel bersamaan. Mereka saling menatap sebentar lalu kembali menatap Pak Willy. "Kenapa di skors, Pak?" suara mereka kembali keluar secara bersamaan. Sisi mendengus sebal menatap Axel. Wajah Axel yang awalnya datar kini berubah tegang. Bagaimana tidak tegang. Daddy dan Mommynya sudah memberi peringatan padanya agar tidak membuat masalah lagi. Jika ia tidak menurut maka ia akan dikirim ke Luar Negeri dan menyelesaikan pendidikannya disana. Lalu bagaimana dengan Sisi? Ia sudah menemukan Sisi dan tidak mungkin ia akan melepaskan gadis itu lagi. "Pak, tolong jangan skorsing, Pak. Saya mau melakukan apapun agar tidak di skors!" pinta Axel. Sisi hanya menatap bingung ke wajah Axel. Ia heran, kenapa Axel yang terlihat menyebalkan itu takut sekali jika harus di skors? Pak Willy menggeleng pelan. "Tidak bisa, Ax. Sekarang kalian boleh keluar dan melanjutkan belajar di kelas. Bilang sama Pak Seno saya yang menyuruh kalian masuk kelas!" Axel mendengus pelan dan beranjak dari kursinya. Diikuti Sisi yang melangkah pelan dibelakangnya. Axel meraup wajahnya dengan kasar sementara Sisi hanya pasrah saja menerima keputusan itu. Tak ada seorangpun yang akan mengkhawatirkannya. Tapi hanya satu hal yang ia takutkan. Semua penghuni SMA BAKTI DUA akan mendengar kabar ini. Hancur sudah reputasinya. *** "AAAAAKH SIALAN. SEMUA GARA-GARA AXEL!" teriak Sisi. Ia mendaratkan bokongnya dengan kasar di salah satu kursi ruangan Osis. Dipta menyusul dan berdiri tak jauh darinya. "Lo kenapa, Si?" Sisi mendengus dan mengusap wajahnya dengan kesal. "Bete gue sama Axel. Tuh cowok bener-bener nyebelin banget!" sungut Sisi. Dipta menatap lekat wajah Sisi yang tampak muram. Dalam hati, Dipta membenarkan ucapan Sisi, anak baru itu memang sangat menyebalkan. Baru masuk saja dia sudah berani mengusirnya dari tempatnya sendiri. Ia semakin kesal saat mengetahui Axel sepertinya berniat mendekati Sisi. "Bete apa bete?" celetuk seorang cewek yang tiba-tiba masuk dan langsung mengambil duduk ditempatnya. Elsa Riski. Dia adalah sekretaris Osis. Sedikit sensi sama Sisi karena ia kalah voting. Padahal ia ingin sekali menjabat sebagai ketua Osis. Eca, semua orang memanggilnya seperti itu. Ucapan pedasnya membuat siapapun tak ingin berurusan dengannya. Sisi menatap tajam kearah Eca. "Maksud lo apa?" desis Sisi. Eca mengangkat kedua pundaknya. "Masa lo nggak ngerti maksud gue, sih? Atau pura-pura nggak ngerti? Axel itu cakep, cool dan pastinya semua cewek langsung baper liat dia. Masa lo nggak ngerasain hal itu semua?" Sisi menggeram kesal. Dipta hanya mendengus pelan sambil menggelengkan kepalanya. Ia tau, sudah lama terjadi perang dingin antara Sisi dan Eca. Perselisihan mereka dimulai saat pemilihan Ketua Osis dan berlanjut hingga sekarang. "Udah nggak usah pada ribut cuman gara-gara anak baru itu. Nggak penting banget!" Dipta mencoba menengahi. "Siapa yang ngajak ribut coba. Gue cuman mencoba membenarkan aja. Lebih baik jujur apa adanya daripada munafik!" Ucapan Eca sukses membuat Sisi langsung bangkit dari tempat duduknya. Kalau saja Dipta tidak menahan lengan Sisi, sudah dipastikan Eca akan mendapatkan hadiah spesial. "Ini ada apaan, sih?" Tharisa yang baru saja muncul menjadi pusat perhatian teman-temannya. Nama panggilannya Risa. Dia adalah bendahara. Risa perlahan duduk dikursinya yang letaknya bersebelahan dengan Eca. "Tau tuh si Bos. Lagi bete sama anak baru katanya!" jelas Eca sambil tertawa mengejek. "Ca, lo bisa diem nggak?" bentak Dipta ikut emosi. "Oooh kalian lagi ngomongin Axel?" celetuk Risa. Emosi Sisi perlahan meredam dan Dipta mengajaknya kembali duduk ditempatnya. "Axel cakep gila. Gue masih nyelidiki doi udah punya cewek belum!" "Sinting!" umpat Sisi. "Kasih tau gue ntar kalo udah nemu hasilnya!" sahut Eca. "Lo juga ngebet banget kayaknya, Ca!" balas Risa. "Secara. Dia masuk dalam type cowok gue. Udah cakep, putih, cool trus apa lagi ya---" "Ini ruangan Osis. Kenapa malah bahas soal anak baru itu?" sela Dipta emosi saat melihat kedua temannya masih saja membahas soal Axel. Apa menariknya cowok sengak itu? "Eh iya, gue hampir lupa guys," Risa mengeluarkan selembar kertas dari map yang sedari tadi dibawanya. "Siang ini kita rapat soal kegiatan rutin Jumat Berkah. Bu Yola udah setuju kan, Si?" tanya Risa dan hanya diangguki oleh Sisi. "Ya udah, pulang sekolah langsung ngumpul disini ya. Jangan sampe telat!" ingat Risa. Dipta mengangguk, Sisi hanya terdiam sementara Eca masih saja tersenyum. Tersenyum sinis ke arah Sisi. *** Sisi melirik jam tangannya. Sudah satu jam mereka mengadakan rapat untuk membahas acara Jumat Berkah. "Oke. Kayaknya rapat hari ini cukup, ya. Kalo ada info tambahan segera kita rapat lagi!" ucap Sisi menutup rapat siang ini. Risa mengangguk dan segera membereskan kertas-kertasnya. Eca juga sibuk dengan aktifitasnya. Dipta mempercepat pekerjaannya saat melirik ke arah Sisi yang ternyata sudah selesai membereskan perlengkapannya. "Gue duluan guys!" pamit Sisi. "Yoi!" yang menyahut hanya Risa sementara Eca hanya menatap sebentar ke arah Sisi dan kembali fokus dengan beberapa kertas ditangannya. Sisi yang baru saja membuka pintu ruangan mendadak terhenti karena panggilan Dipta. "Si, pulang bareng yuk!" ajaknya. "Gue bisa pulang sendiri kali, Dip!" sahutnya dengan tersenyum lembut dan melangkah keluar. "Gue serius, Si---" "Gue lebih serius lagi, Dip. Lagian gue juga mau mampir ke suatu tempat. Gue duluan, ya!" Sisi langsung melangkah cepat meninggalkan Dipta yang terdengar mendesah kecewa. Sisi berjalan sambil memegangi tali tas ranselnya. Melewati halaman parkir yang sudah sepi. Langkahnya terus berlanjut hingga keluar pintu gerbang sekolahnya. Ia berdiri didepan pagar sekolahnya, membuka hpnya dan memesan ojol. Harusnya tadi sebelum keluar dari ruang Osis ia memesan ojol terlebih dahulu. Saat pandangan matanya tengah fokus menatap layar ponselnya, suara deruman mobil membuat konsentrasinya buyar. Sisi mendapati sebuah mobil mewah berwarna hijau tosca berhenti didepannya. Sisi berusaha tak menghiraukan mobil itu dan segera memesan ojol. Kaca mobil mewah itu terbuka perlahan. "Mau pulang bareng?" Sisi mendongak dengan kening mengernyit. Axel. Sisi membuang nafas kasar dan tak mengubris kehadiran Axel yang saat ini sedang menunggu jawabannya. Merasa tak ada jawaban dari Sisi, Axel tak kehilangan akal. Ia sengaja membunyikan klakson mobilnya berkali-kali, hanya untuk mendapatkan perhatian Sisi. Sisi mulai geram. Ia memasukkan ponselnya ke dalam saku bajunya dan menghampiri mobil Axel. "Lo bisa pergi nggak?" usir Sisi. "Nggak. Sebelum lo ikut gue!" Sisi tertawa pelan. Axel sama sekali tidak berubah. Pemaksa. "Gue nggak mau pulang sama lo, gue nggak mau liat muka lo dan gue nggak mau ada lo dihidup gue lagi!" Axel tak menunjukkan ekspresi apapun. Ia menatap Sisi dengan alis saling bertautan lalu keluar dari mobilnya dan menghampiri Sisi. "Ngapain masih disini? Pulang sana!" usir Sisi. Axel terdiam. Ia sengaja menunggu Sisi karena ada satu hal yang ingin ia sampaikan pada Sisi. Ia juga tak mungkin bisa pulang karena hukuman skorsing itu. Daddy dan Mommynya pasti menanyakan kenapa ia tidak masuk sekolah dan bisa dipastikan ia langsung terbang ke Luar Negeri. "Kok malah ngelamun? Pulang sana!" usir Sisi lagi. Axel langsung tersadar dan menatap wajah Sisi yang tampak kesal. "Selama di skors, gue nginep di rumah lo!" *** Surabaya, 11 Mei 2018 *ayastoria
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN