Menjelang pagi Aluna membuka kedua matanya secara perlahan, pertama kali yang dia lihat adalah wajah tampan Arten. Dalam keadaan tidur saja Arten begitu menawan. "Arten, kamu benar - benar sudah menghancurkan hidupku. Dan kini aku harus berpura - pura untuk melayanimu. Tidak tahukan jika hatiku lebih sakit? Januar, maafkanlah aku karena sudah mengecewakanmu." Aluna bangun secara perlahan, mencari ke sekeliling jika ada suatu benda yang bisa digunakan untuk untuk membunuh Arten. "Pisau, dengan pisau aku bisa membunuhnya sekali menghunus. Jika tidak langsung mati nanti Arten bisa menyerang balik dan akulah yang game over." Aluna memakai baju lalu berjalan ke dapur, mencari pisau yang paling tajam. Baru saja menyentuh gagangnya, tiba - tiba sudah ada tangan yang melingkar ditubuhnya.

