Aluna menghitung waktu, perjalanan dia dari rumah Arten menuju rumah ibunya jika tidak tertidur butuh waktu dari pagi sampai sore. Tetapi memaksa para anak buah Arten untuk tidak istirahat juga merupakan sebuah penyiksaan. Terlebih lagi jalanan berbelok - belok tajam dan sangat jauh. "Kamu sedang memikirkan apa? " tanya Arten yang baru saja datang. "Kira - kira alat medis dan juga dokter Joe bisa sampai sini kapan?" "Kalau pakai mobil ya sama seperti kita, " jawab Arten santai. Aluna menghembuskan napas berat, terasa begitu sesak sampai dirinya benar - benar sulit bernapas. Tiba - tiba air mata Aluna menetes, dia sungguh belum rela jika ibunya meninggal sedangkan dia sendiri belum mendengar suara ibunya yang sudah dia rindukan selama ini. Arten kasihan juga melihat Aluna seperti

