Part 33 Akad Nikah 2 "Kak, kok dari tadi diam saja ,sih?" ucap Karen saat aku mulai menyiapkan henna. Aku tak boleh terus diam dan pasif seperti ini. Aku harus menetralkan hatiku, karena yang akan terjadi beberapa jam kedepan, pasti lebih menyakitkan. Dan aku harus tetap kuat dan tegar. "Eh, maaf, Kak. Mikirin sesuatu yang tadi tertinggal di rumah, hehehe," jawabku. "Memangnya apa yang ketinggalan Kak?" tanya Karen lagi. "Itu, jam tangan yang selalu menemani kerjaku Kak. Kok rasanya ada yang kurang tanpa dia. Tadi pagi agak terburu-buru soalnya, bangun kesiangan sih." Sebuah jawaban spontanitas yang sangat tak masuk akal menurutku, tapi tak apalah yang pentimg sedikit menghilangkan rasa gugupku. Aku pun kemudian mulai melukis tangan lembut Karen. "Aku nggak nyangka loh, jika Kak Ru

