Adelia baru saja selesai menata meja makan, untuk makan malam, saat Fairuz berjalan mendekat. Wanita itu tersenyum menyongsong kedatangan sang papa. Dua bulan lebih hanya berkomunikasi via telepon genggam. Sesekali melakukan panggilan video bila Nika rindu kepada pria itu. Kesibukan Fairuz sebagai anggota dewan menyita seluruh waktunya. Apalagi sekarang musim pencalonan kembali digelar. Pria itu bermaksud mencalonkan diri kembali untuk satu dekade lagi. Dia merasa, tugas-tugasnya belum rampung bila hanya menjabat satu kali saja. "Papa, kok, enggak ngasih kabar mau pulang?" Adelia mencium takzim tangan Fairuz dan meraih tas kerja pria itu. "Sengaja." Fairuz merengkuh bahu Adelia dan menuntunnya menuju ruang makan. "Mana Nika? Biasanya dengar suara mobil Papa langsung lari?" "Udah ti

