Pagi yang cerah. Sang surya tidak begitu garang bersinar, tetapi cukup menembus kaca tempat Deyana berdiri. Wanita itu mendengkus kesal, melihat dua puluh pesan w******p yang dia kirim ke telepon genggam Bayu, masih abu-abu dan centang satu. Benaknya bertanya-tanya, ke mana pria itu? Padahal kemarin, dia sudah memberi kabar berada di bandara Changi. Biasanya, Bayu akan langsung menghampiri setiap kali dia meminta. Namun, kali ini, pria tersebut menghilang tanpa kabar. 'Kamu ke mana, sih?! Bisa-bisanya kamu cuekin aku, kek, gini!' Deyana berjalan mondar-mandir di depan jendela hotel tempat dia menginap. Wajah wanita itu memerah dengan rahang mengeras dan bibir terkatup rapat. Berkali-kali dia menjambak rambutnya sendiri, sebagai bentuk kekesalan. Bila amarah sudah memuncak ke puncak ke

