Bertemu Putra

1612 Kata
Satu tahun kemudian ... Sabtu ini, untuk ke sekian kalinya, Windy mencoba peruntungannya. Subuh ini, wanita itu kembali ke kamar mandi dan diam-diam melakukan tes kehamilan tanpa diketahui oleh suaminya. Entah berapa buah testpack yang sudah dihabiskan oleh Windy untuk memeriksa kondisinya. Sudah satu tahun dua bulan ia menikah dengan Irfan, namun Tuhan masih belum juga menitipkan benih Irfan di rahimnya. Subuh ini, ia kembali ingin mencoba peruntungan. Sebab seharusnya ia sudah datang bulan seminggu yang lalu. Dengan tangan sedikit gemetar, Windy mulai membuka benda kecil itu. Ia mencelupkan benda itu kedalam wadah yang sudah berisi air seninya sendiri. Windy menunggu dengan perasaan berdebar, berharap kali ini ada garis dua. Tak lama, garis itu keluar. Satu buah garis merah muda terlihat jelas di sana. Windy menghela napas, usahanya masih sia-sia. Ia belum juga berhasil. Windy segera mengemasi semua barang-barang yang ia gunakan untuk melakukan tes kehamilan. Karena kecewa, Windy membiarkan begitu saja benda kecil itu terletak di atas bak mandi. Wanita itu kemudian berlalu menuju dapur, ia harus menyiapkan bahan-bahan untuk masakannya pagi ini. Seperti biasa, windy mulai sibuk di dapur. Jam dinding baru menunjukkan pukul 4.30 dini hari. Baru saja Windy hendak menyalakan kompor, tiba-tiba ia dikejutkan oleh kedatangan Irfan. Pria itu mendekapnya dari belakang. Ia mendekap Windy dengan hangat dan begitu erat. Berkali-kali ia ciumi tengkuk istrinya itu. Windy seketika meremang. “Abang ... tumben bangun sepagi ini?” Windy tidak kuasa menolak kehangatan dan belaian yang diberikan suaminya. “Hari ini, kamu tidak perlu memasak. Kamu juga tidak perlu melakukan apa pun. Hari ini, aku yang akan melayani istriku tercinta.” Irfan menuntun Windy duduk di kursi makan. Berkali-kali jemari pria itu membelai wajah dan puncak kepala istrinya. “Ada apa? Bukankah ulang tahunku masih beberapa hari lagi?” Windy heran. Irfan belutut, ia memegangi pergelangan tangan Windy dan mengecup punggung tangan itu berkali-kali. Pria itu lalu menyentuh lembut perut datar istrinya. Netranya tiba-tiba berkaca-kaca. Ia menciumi perut Windy sebanyak tiga kali kemudian kembali menatap wajah istrinya yang masih bingung. “Abang, abang kenapa?” “Terima kasih, Sayang ... terima kasih.” “Terima kasih untuk apa? Bukannya semalam kita tidak melakukan apa pun?” Windy masih bingung. Ia benar-benar bingung dengan sikap Irfan yang terkesan begitu aneh. “Kamu masih mau merahasiakannya?” Irfan tersenyum lembut. “Merahasiakan apa? Abang jangan bikin aku bingung. Aku tidak merahasiakan apa pun. Jangan-jangan, semalam abang bermimpi ya? Atau abang demam?” Windy menyentuh dahi suaminya, normal. “Windy ... jangan berpura-pura, abang tidak suka.” “berpura-pura apa? Justru aku benar-benar bingung. Abang tiba-tiba datang, terus mengucapkan terima kasih, lalu menciumi perutku. Oh, aku mengerti. Bang, aku minta maaf ... aku gagal lagi memberimu keturunan. Tadi aku sudah melakukan tes kehamilan, hasilnya masih negatif. Maaf ya ....” Windy membelai lembut wajah suaminya. “Apa seperti ini yang namanya negatif?” Irfan menunjukkan benda kecil yang kini menampilkan garis dua. Satu garis berwarna terang dan satu garis lagi agak samar tapi masih jelas terlihat. “Abang dapat dari mana?” Windy tersentak. “Aku menemukannya di atas bak mandi. Aku pikir kamu sengaja memberi kejutan.” Windy menggeleng, “Tadinya yang keluar hanya satu garis, aku kecewa dan aku meninggalkannya begitu saja di atas bak mandi.” Irfan bangkit, kembali ia membelai rambut istrinya seraya menciumi ke dua netra Windy. “Ternyata kamu salah. Kamu terlalu cepat meninggalkannya di sana tanpa menunggu lebih lama. Nanti siang kita akan ke klinik untuk memastikan. Tapi walau demikian, hari ini aku yang akan melayani ratuku. Okay ....” Windy begitu bahagia, ia tidak menyangka jika Allah akhirnya memberi kepercayaan lagi untuknya. Ia akan memberikan keturunan untuk Irfan. Darah dagingnya sendiri. Irfan begitu bersemangat menyiapkan semua bahan untuk ia masak. Pria itu sungguh memanjakan istrinya, calon ibu dari darah dagingnya. *** Malam ini, Irfan mengundang semua keponakan Windy untuk makan malam dan menginap di rumahnya. Pria itu sudah memesan banyak sekali makanan dari restoran ternama. Dian yang memang sudah datang sedari siang, membantu menghidangkan semua makanan-makanan itu di atas meja makan. Semua sudah tertata dengan rapi dan begitu menggugah selera. “Bagaimana Dian, semua sudah beres?” Irfan menyapa Dian yang tengah sibuk menata meja makan, sementara Windy tidak diperkenankan untuk membantu. “Sudah dong, Om. Oiya om, selamat ya ... sebentar lagi, kami akan punya adik baru lagi.” Dian menatap Irfan, gadis itu sangat bahagia. “Terima kasih Dian. Oiya, Angga jadi diundang’kan? Sebelum dia datang melamar, om mau selidiki dulu. Apa pria itu pantas untuk keponakan tersayang kami ini.” “Iya, katanya akan datang. Tapi om jangan sadis-sadis ya sama Angga, soalnya aku sayang banget sama Angga. Aku nggak tega.” “Om tidak janji. Angga harus siap mental untuk menghadapi om, sebelum ia bisa di terima di keluarga kita.” Irfan berlalu seraya tersenyum kecil. “Om Irfan ....” Dian merengut. Gadis itu merasa beruntung berada di tengah-tengah keluarga yang hangat. *** Fandy—putra Windy bersama mantan suaminya yang bernama Putra—sudah besar, ia sudah berusia satu tahun empat bulan. Sudah belajar mengucap kosa kata ringan. Wajahnya semakin hari semakin mirip dengan Putra. Kini, Fandy sudah bisa berlari kencang. Ia sedang bermain dan bergelut dengan Langit dan Mentari. Rumah itu begitu ramai dan hangat. Canda tawa dan suka cita menghiasi malam itu, malam di mana Irfan sengaja mengumumkan berita kehamilan Windy kepada semua keponakan Windy dan calon suami Dian. Apa yang dikhawatirkan Dian, ternyata tidak terjadi. Irfan malah tampak begitu akrab dengan Angga. Angga bangga memiliki keluarga yang merupakan senior yang sudah berpengalaman puluhan tahun di bidang konstruksi. Pria itu belajar banyak hal dari Irfan. Apalagi, Angga akan meneruskan perusahaan ayahnya. Tentu ia butuh seseorang yang bisa menyokong dan mendukungnya. “Umi, Angga kelihatannya akrab ya sama om Irfan. Mudah-mudahan om Irfan suka sama Angga.” Dian berkata pada Windy seraya menatap kekasihnya yang tengah bercengkrama dengan suami bibinya. “Umi yakin, Om Irfan pasti menyukai Angga. Mereka berdua sama-sama baik. Mereka berdua sama-sama memiliki latar belakang pendidikan yang sama. Semoga kelak, Dian bisa bahagia bersama Angga.” Windy menatap keponakannya dengan tatapan penuh sayang. “Iya, Umi. Dian juga berharap begitu.” Pasangan bibi dan keponakan itu pun saling berpelukan hangat, melepaskan segenap cinta dengan penuh kasih sayang. *** Minggu ini, semua orang masih berkumpul di rumah Irfan. Semua, kecuali Angga. Angga belum resmi menjadi anggota keluarga, tentu ia belum diizinkan menginap di rumah itu. Jam dinding sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Windy dan Irfan sudah bersiap hendak pergi ke undangan pernikahan salah seorang pejabat PU. Hanya Fandy yang ikut dengan mereka, sementara Langit dan Mentari menunggu di rumah dengan kesibukan mereka masing-masing. Irfan dan Windy memang terlihat sangat serasi. Windy terlihat begitu cantik dan anggun dengan balutan gaun berbahan velvet kombinasi brukat tile model terbaru. Gaun berwarna maroon itu begitu cantik dan membuat si pemakainya semakin cantik. Sementara Irfan menggunakan kemeja batik berwarna senada. Fandy juga tidak kalah keren dengan kemeja batik yang sama persis seperti yang dikenakan ayahnya. “Semuanya ... umi dan om berangkat dulu ya ... jaga rumah baik-baik.” “Iya umi, hati-hati.” Irfan mulai mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju sebuah gedung tempat pesta pernikahan itu berlangsung. Berkali-kali pria itu mencuri-curi pandang, menatap kagum atas kesempurnaan ciptaan Tuhan pada diri Windy. Tak lama mobil itu berhenti. Mereka turun dan langsung disambut hangat oleh beberapa penjaga pesta itu. Irfan memang cukup di kenal di kalangan PU. Beberapa tamu undangan mengenali Irfan. Mereka bercengkrama sesaat sebelum menikmati hidangan yang sudah disediakan. “Auh ....” Seorang pria tanpa sengaja menabrak Windy. “Ma—maaf, saya tidak sengaja.” Pria itu menatap Windy, begitu juga wanita itu. Netra mereka beradu cukup lama. Tiba-tiba Windy salah tingkah dan berdebar, pria itu pun sama. “Ada apa, Sayang?” Irfan melihat istrinya salah tingkah. Tanpa sengaja netranya juga beradu dengan netra pria yang tanpa sengaja sudah menabrak istrinya. “Hai, apa kabar?” Pria itu lebih dulu menyalami Irfan. Ia tampak ramah. “Hai ... sudah lama tidak berjumpa.” Irfan membalas jabatan itu dengan hangat. “Windy, apa kabar?” pria itu beralih menatap Windy. “Alhamdulillah, aku sehat. Kenalkan, dia suamiku.” Windy sedikit salah tingkah. “Ya, aku sudah tau. Viona yang memberi tahuku. Semoga kalian bahagia.” Putra memukul pelan bahu Irfan. “Terima kasih,” jawab Irfan, ramah. “Oiya, maaf ... kebetulan kita bertemu di sini. Saya ... Saya memohon izin kepada anda sebentar saja, apakah boleh? Saya hanya ingin meminta maaf pada windy, itu saja.” “Oh ... silahkan, tidak masalah.” “Windy, demi Tuhan, saya minta maaf atas semua yang sudah saya lakukan padamu dulu. Saya menyesal, saya harap kamu tidak mendendam.” Netra Putra berkaca-kaca. “Sudahlah, Bang ... aku sudah memaafkan semuanya. Aku sama sekali tidak dendam padamu. Aku berharap kamu juga bahagia.” “Baiklah ... saya tidak ingin menganggu kebahagiaan kalian. Saya permisi.” Putra berlalu, sementara Irfan segera mendekap kembali istrinya. Ketika Irfan sedang bercengkrama dengan seseorang, Windy menoleh ke belakang. Ia melihat Putra tengah berbincang dengan seorang anak kecil, ia adalah Fandy. Fandy sedari tadi memang asyik berlarian bersama teman-teman barunya. Fandy meminta sesuatu dan Putra membantu pria kecil itu mengambil sesuatu yang ia inginkan. Windy melihat, Putra menatap Fandy cukup lama. Fandy menyalami tangan Putra dan adegan itu berakhir dengan sebuah kecupan ringan Putra yang bersarang di pipi Fandy. Windy segera menepis padangannya. Netranya berkaca-kaca. Putra ... maafkan aku, aku sudah berdosa menyembunyikan kehadiran Fandy darimu. Tapi aku belum siap untuk kehilangan putraku. Semoga kau bahagia di luar sana dan Fandy akan bahagia bersama kami. Windy kembali melihat ke arah belakang. Putra sudah menghilang dan pergi dari gedung itu. Sementara Fandy datang menghampirinya dan Irfan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN