“Windy ….” Seorang wanita paruh baya mendekati Windy. Ia memegang bahu Windy dari belakang. Windy tentu saja tersentak diperlakukan demikian. Ia pikir siapa yang tiba-tiba saja menyentuh bahunya dari belakang. Ternyata ia adalah Santi. “Mama, apa kabar?” Wajah Windy seketika berubah. Ia tersenyum lalu menyalami ibunda Putra itu dengan takzim. Ke netra Santi seketika berkaca-kaca. Ia tatap wajah menantunya dengan saksama. Ia belai wajah Windy dan ia usap ke dua mata Windy secara bergantian. “Mama, ada apa?” tanya Windy ketika salah satu mata Santi meneteskan air mata.” Santi langsung menunduk seraya menyeka air matanya. Ia menggeleng. “Mama hanya ingin minta maaf. Entah kenapa mama begitu bodoh dulunya. Entah setan apa yang merasuki hati mama kala itu hingga tega menyakiti wanita sepe

