Entah apa yang ada di pikiran Tama sampai bisa merencanakan ide gila itu. Sampai sampai Dhira mengurungkan niatnya untuk ke perusahaan dan berujung uring uringan di atas kasur. Sejak siang hingga malam, Dhira mengurung dirinya di dalam kamar. Bahkan panggilan dari kedua orang tuanya melalui pelayan rumah tangga di abaikannya. Bahkan Dhira tak menghiraukan makan malamnya. Anehnya lagi, Dhira begitu sulit untuk memejamkan matanya. Ya, meski pun hari masih jam setengah sembilan malam. Beberapa kali nada panggilan di ponselnya berdering, tak satu kali pun Dhira menjawabnya. Tidak peduli, siapa pun penelpon dan seberapa penting berita yang ingin mereka sampaikan. Dhira tetap tidak berniat untuk berbicara pada siapa pun. "Bisa bisanya si gila itu berpikir bodoh," desisnya sambil memukul muku

