Bab 5.Rumah Petak Kelam

1107 Kata
Sebenarnya Kayla tidak menyalahkan soal rumah petak yang pernah ia sewa dulu. Hanya saja dia sedang siall bertemu dengan orang-orang yang tidak tepat. Manusia yang tinggal di sana bisa dikatakan mereka yang bekerja lepasan sebagai buruh atau pekerjaan tidak formal lainnya. Satu rumah kecil dengan tiga kamar tidur dan sebuah ruang tamu kecil. Bahkan kamar mandi hanya satu dan tidak ada dapur. Beberapa penghuni tetangga yang tinggal bersebelahan dengan rumah kecil biasanya sering berkumpul melakukan aktivitas di sisi gang dekat rumah sewa mereka. Ada yang bermain judi, ada yang mabuk-mabukkan bahkan ada penghuni yang pekerjaannya penjaja lender kadang bertengkar dengan istri penghuni lain menuduhnya menggoda suami mereka. Setiap hari Kayla sengaja memakai jaket menutup rapat seluruh tubuh sampai kepala demi menghindari godaan laki-laki genit yang sering duduk-duduk di sana. Di jam sama setiap Kayla sampai ke rumah tersebut biasanya para istri menarik suaminya masuk supaya tidak melihat dan menggoda Kayla. Risih, itu sudah pasti. Tapi mau bagaimana lagi, hanya rumah petakan itu yang masuk dalam dompetnya. Menulikan telinga, pura-pura tidak melihat dan bersikap acuh adalah cara terbaik menghindari keributan dengan para tetangga atau sesama penghuni rumah. Di rumah itu selain dirinya, ada satu pasangan suami istri dengan satu putri dan seorang duda paruh baya bernama Arfan. Dia yang paling sering menawarkan Kayla makanan atau menunggunya di depan rumah. Bukannya tidak tahu terima kasih tapi Kayla merasa canggung juga risih apalagi pria ini usianya sudah seperti ayahnya. Meski tidak genit tapi setiap kali beradu tatap membuat Kay tidak nyaman. “Tadi ada anak kecil menjual anting-anting. Karena kasihan saya memakai uang upah hari ini membeli anting. Tapi saya tidak punya istri jadi saya pikir anting ini cocok buat kamu saja.” Arfan yang menunggu Kayla pulang, membuntuti gadis itu sampai di depan pintu kamar Kayla. Lihat kan, mana ada pria sembarangan memberikan barang ke perempuan lain. Apa jadinya kalau sampai dilihat orang lain, pasti akan berpikir Kayla dan Arfan memiliki hubungan tidak lazim. “Maaf, disimpan saja. Saya tidak suka memakai anting.” Tolak halus Kayla. “Tapi ini saya beli pakai uang gaji saya, sungguh sayang kalau tidak ada yang mau memakainya.” Ucap Arfan mulai memaksa, wajahnya terlihat kecewa. “Begini saja, saya titip di Om dulu. Nanti kalau saya mau baru saya ambil. Seperti itu saja tidak apa-apa kan.” Sahut Kayla. Pasangan suami istri itu keluar dari kamar dan melihat Arfan berada di depan kamar Kayla membuat gadis itu makin tidak nyaman. “Saya lelah mau istirahat. Terima kasih atas perhatiannya. Saya permisi dulu.” Tanpa menunggu Arfan yang hendak bicara, Kayla segera masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu. Tidak tanggung-tanggung, bukan hanya satu tapi Kayla memakai empat slot kunci sekaligus saking takut diganggu. Seperti itulah setiap hari, rasa takut untuk pulang ke rumah petakan itu harus ia lalui setiap hari karena nasib jadi orang miskin. Mamanya saja sudah tahu dia tinggal disana hanya memintanya pulang ke rumah saja kalau dia takut. Rumah? Bagi Kayla dia tidak memiliki rumah, yang dimaksud mamanya bukanlah rumah miliknya tapi rumah suami ketiga yang ia nikahi sepuluh tahun silam. Bahkan demi memberi keturunan, Rika sang mama sampai rela melahirkan lagi ketika usianya hampir menginjak usia 40 tahun. Kayla memiliki adik tiri, namanya Bella, usianya sekarang lima belas tahun dari pernikahan mamanya dengan John yang usianya lima tahun lebih muda dari mamanya. Kayla sempat tinggal bersama saat usianya enam belas tahun. Tapi dia terpaksa pergi karena tidak tahan melihat Bella yang selalu saja memarahi mamanya hanya karena memperhatikan dirinya setiap hari. Rumah itu seperti neraka kedua bagi seorang Kayla. Memiliki ibu tapi dia tidak berhak menerima kasih sayang dari ibu kandungnya sendiri. Sejak memiliki kartu identitas, Kayla pilih pergi dan hidup mandiri tanpa bantuan siapapun. Papa tirinya yang ketiga pun hanya bisa basa-basi tapi tidak pernah menjadi ayah baginya. Semiris itulah hidupnya. Sampai satu masa, hari itu Kayla senang sekali diterima kerja di perusahaan favoritnya. Berjalan kaki pulang ke rumah saking senang dia menyapa semua orang di sepanjang jalan menuju rumahnya. Dia tidak memiliki siapapun jadi hari ini dia hanya ingin meluapkan kegembiraanya pada orang-orang disekitarnya. Namun senyum manis yang ia perlihatkan justru menjadi batu sandungan bagi dirinya. Bahkan Om Arfan memakai alasan diterima kerjanya Kayla untuk menyerahkan anting-anting yang masih dia simpan pada Kayla. Suasana hatinya sedang senang, Kayla pun menerima pemberian Om Arfan. Malam itu Om Arfan kerja shif malam, pasangan keluarga di seberang kamar katanya sedang mengunjungi rumah orang tua istrinya yang sedang sakit. Kayla pikir malam ini dia dapat tidur tenang. Suara ketukan pintu membangunkan tidurnya. “Siapa malam-malam begini? Apa Om Arfan baru pulang kerja?” Gumamnya mulai menerka-nerka tapi dia tidak berani membuka pintu. Tok Tok Tok Suara itu terdengar lagi, kali ini semakin cepat seperti orang yang sedang terburu-buru membutuhkan sesuatu. “Om Arfan?” Panggil Kayla tapi masih tidak ada yang menyahut. “Apa Om Arfan sakit?” Takut terjadi sesuatu dengan Om Arfan, Kayla turun dari kasur mini miliknya dan bergegas membuka pintu. Sungguh tidak ia duga, bukan Om Arfan yang datang melainkan suami dari pasangan yang sedang pulang kampung itu. “Halo, Kayla.” “Kak Be-no…” Sahut Kayla terbata-bata. Tatapan Beno membuat Kayla tidak nyaman terlebih lagi dia seorang diri di rumah ini. “Ada apa, Kak? Bukannya sedang pulang ke kampung halaman Kak Rosa?” Tanya Kayla ingin cepat-cepat menutup pintu. Seringai di bibir Beno membuat Kayla makin gugup, tangannya sampai meremas kuat pintunya seperti bersiap untuk menutup cepat. Perasaannya tidak enak, terlebih lagi dia tahu seperti apa tatapan pria yang tengah diselimuti oleh nafsu. “Mau bertemu kamu. Akhirnya kita bisa berdua saja. Aku tahu selama ini kamu menaruh perhatian padaku kan.” Betulkan, firasat Kayla benar. Tubuhnya mulai gemetar, lututnya terasa lemas sekali berharap ada yang akan datang kemari siapapun itu. “Maaf, Kakak salah paham. Saya mau tidur.” Tangan Kayla bergerak cepat menutup pintu tapi Beno tidak kalah cepat mendorong pintu tersebut sampai tubuh Kayla ikut terdorong ke belakang. Beno mulai mendekat melakukan niat busuknya pada Kayla. “Kamu selalu menggoda mataku, Kay. Aku tahu di dalam sana semuanya pasti putih dan mulus. Biar aku mencicipinya sedikit.” Kedua tangannya mulai beraksi berusaha menyudutkan gadis itu. Wajahnya maju mendekat ingin mencicipi namun Kayla terus berjuang menjauhkan pria kurang ajar ini darinya. “Jangan melawan, tidak ada siapapun disini. Kita bersenang-senang, aku ajari kamu seperti apa nikmatnya melayani.” Ucapan Beno terasa jijik di telinga Kayla. Dengan sekuat tenaga Kayla mendorong, kakinya menghentak naik membuat Beno melolong kesakitan melepaskan cengkeraman tangannya. Kayla lari berusah kabur, sampai di depan Om Arfan datang. “Kayla!” “Tolong saya!” Ucap Kayla berharap Om Arfan bukan orang sejenis seperti Beno. Kalau tidak habislah nasibnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN