Kisah delapan tahun lalu.
“Jangan ganggu aku lagi!”
Ucapan yang keluar dari mulut Kayla, ucapan gadis berusia 16 tahun itu seperti halilintar menyambar jantung Narendra yang kala itu berusia 18 tahun.
Sebelum perjumpaan mereka di taman tidak jauh dari rumah Kayla, Narendra sudah bersemangat dari rumah. Memakai singlet dipadankan dengan kemeja lengan pendek putih dan celana panjang khakis, rambutnya disisir ke belakang menggunakan wax entah sudah berapa banyak untuk memastikan rambutnya tidak bergerak berantakan supaya mirip seperti actor-aktor tampan di televisi. Parfum maskulin tidak menyengat sudah ia pakai sebelum berangkat.
Sebagai laki-laki pantang bagi Enda ditunggu perempuan apalagi dia gadis istimewa pilihannya. Sayang, hujan keburu datang sebelum Kayla sampai padahal dia sudah menunggu lama di taman. Kayla belum juga kelihatan padahal sudah dua jam dia menunggu. Pontang-panting mencari apapun untuk menutupi tubuhnya, ralat rambutnya agar tetap keren maksimal. Tidak lucu kan kalau nanti rambutnya basah lepek malah kelihatan culun. Dinginnya hujan ditambah hari semakin malam membuat perutnya lapar, tapi Enda masih setia menantikan kehadiran Kayla berpayung kardus bekas yang ia temukan untuk menutupi kepalanya. Dua lengannya sudah basah karena kardus itu tidak cukup lebar menutupi tubuhnya.
Rasa khawatir mulai menyelimuti perasaan Enda, kemana gadis itu? Teleponnya tidak diangkat, pesanpun tidak dibaca apalagi dibalas. Apa terjadi sesuatu dengan Kayla? Enda mau mencarinya tapi dia baru sadar, betapa bodoh selama ini dia bahkan tidak tahu dimana Kayla tinggal.
Hampir jam sembilan malam, akhirnya gadis yang ia tunggu datang juga. Senyuman Enda yang sudah luntur akhirnya terbit kembali berlari menghampiri Kayla yang sedang berjalan kearahnya memakai payung.
“Aya…” Seperti itu panggilan sayang Enda kepadanya. Sedangkan Kayla memanggilnya Ethan.
“Apa ada masalah? Kenapa datangnya terlambat, padahal ada yang mau aku omongin sama kamu.”
Kayla meremas pegangan payung tidak menjawab sapaan maupun pertanyaan Enda.
“Aya, kamu… Kenapa?” Melihat raut wajah dingin Kayla, Enda mulai merasa khawatir.
“Aku khawatir sama kam…”
“Jangan ganggu aku lagi!”
Kening Enda mengerut berpikir dia salah dengar, ini pertama kalinya ia melihat wajah Aya-nya seketus sekarang. Tapi dari ekspresi Kayla, Enda yakin dia tidak salah dengar.
“Maksud kamu apa, Ya?
“Jangan pura-pura tidak dengar! Aku bilang jangan ganggu aku lagi, besok aku tidak akan datang ke promp night acara kelulusanmu. Cari saja gadis lain, Masha pasti mau kalau kamu ajak dia.”
“Tapi, tapi kenapa, Ya? Apa Marsha ganggu kamu?”
Wajah Kayla terlihat makin dingin dan galak lalu mendecih.
“Cih, malah menyalahkan orang lain.”
“Terus kenapa? Kemarin kamu masih baik-baik dan kita masih ngobrol sebelum tidur. Jangan buat aku jadi bingung, Ya…” Ucap Enda memelas lirih.
“Aku sudah bosan pura-pura.” Celetuk Kayla membuat Enda melotot. Ledakan jantungnya belum juga pulih dan sekarang Kayla mengatakan hal lain yang membuatnya kecewa.
“Kamu tahu selama ini aku tidak suka di dekati cowok lain. Aku sengaja mau di dekati kamu supaya tidak diganggu mereka. Kamu sendiri membuat aku muak, kamu pikir karena tampan, ketua osis terkenal dan pintar lantas aku bakalan suka sama kamu. Jangan mimpi kamu, Than. Besok kamu lulus dan malam ini pertemanan kita selesai sampai disini.” Ujar Kayla dengan wajahnya yang merah padam meski binary matanya dipenuhi bulir bening yang siap mengalir.
Reaksi Enda tidak beda jauh, meski seorang laki-laki tapi dia punya hati yang bisa rapuh juga bila disakiti oleh gadis yang dicintainya.
“Kenapa, Ya? Kalau aku punya salah aku minta maaf. Kasih tahu aku letak salahnya dimana. Tapi kamu jangan seperti ini yah? Aku mohon, semua bisa dibicarakan baik-baik.” Sahut Enda menggenggam tangan Kayla namun ditepis kasar.
“Masih belum sadar juga! Kamu ini pemaksa, tukang ngatur dan menyebalkan. Aku sudah tidak tahan lagi. Jangan sampai aku merasa jijik sudah kenal sama kamu!”
Suara petir menggelegar seolah mewakili rasa sakit hati Enda bak tersambar di malam hari tanpa diberi kesempatan untuk menyelamatkan diri. Jijik… Apa segitu menyebalkan sifatnya sampai-sampai Kayla tega bilang dia jijik sudah mengenalnya. Selama ini Enda memang berusaha menjauhkan Kayla dari pesaing-pesaingnya di sekolah tapi Kayla dulu justru senang dengan tindakannya. Nasihatnya bahkan selalu di dengar gadis itu tanpa protes sedikitpun. Tapi kenapa sekarang dia seperti memiliki dua kepribadian yang bersinggungan.
“Aku buat kamu jijik?”
“Hem, sebelum aku jatuh semakin dalam dengan permainan kamu lebih baik kita akhiri ini semua. Kamu laki-laki yang memberikan pengaruh buruk buat masa depanku.”
Enda diam tidak bergeming, kardus yang ia pegang sudah turun tidak lagi memikirkan soal tatanan rambutnya. Matanya terus menatap sendu berusaha mencari kebohongan disana, tapi rasa kecewa yang ia punya mempengaruhi nalurinya sendiri. Semua diucapkan langsung oleh Kayla, bagian mana lagi yang ia harapkan jadi sebuah kebohongan gadis itu untuk mengerjainya.
Air mata remaja pria itu tersamarkan oleh rintik hujan yang menyiram dirinya. Jantungnya seperti diremas, kepalanya panas meski tubuhnya menggigil kedinginan, tidak habis pikir bagaimana bisa Kayla membencinya setelah semua usahanya selama ini menyenangkan gadis itu sampai dibilang bucin akut karena sikapnya yang berlebihan selama ini.
“Mulai hari ini, kita tidak saling kenal. Anggap aku tidak pernah ada. Hari sudah malam aku harus pulang sebelum mamaku marah.” Tanpa menunggu tanggapan Enda, Kayla berbalik dan berjalan menjauhinya.
Dadad Narendra bergemuruh sesak, air matanya semakin deras mengalir bersaing dengan hujan yang terus tumpah. Hatinya berdenyut sakit memandangi punggung kayla yang semakin menjauh di sana. Perasaannya luluh lantak membuat seluruh sendi-sendi tulangnya ikut merasa sakit. Enda jatuh bersimpuh menunduk dalam tangis.
“Kenapa? Kenapa!!” Suara teriakan Narendra Ethan bahkan membuat bahu Kayla melompat kecil karena terkejut. Tapi dia mengeraskan hatinya terus melangkah meski pikirannya memaksa untuk menoleh sebentar saja.
Di seberang sana, gadis itu berjalan tegar dalam kegelapan malam meski jantungnya seperti mau meledak.
Sampai di depan rumah petak yang ia tinggali sekarang, Kayla jatuh bersimpuh. Tangisnya pecah, bukan hanya Ethan-nya yang sakit tapi dirinya juga. Tapi semua demi kebaikan Narendra Ethan, dia bukanlah perempuan yang cocok dengan laki-laki sempurna seperti Enda. Kalaupun dia berkeras untuk melanjutkan hubungan ini menjadi lebih dari teman dekat, Kayla tahu pada akhirnya dia yang harus meninggalkan Ethan kembali. Lebih baik memutuskan semuanya sekarang, sakit sudah pasti tapi pasti akan memudar seiring berjalannya waktu.
“Kamu harus bahagia tanpa aku, Than. Aku yakin suatu hari nanti kamu akan mendapatkan perempuan yang lebih pantas dari aku.” Gumam Kayla di tengah isak tangis lirihnya..