“Menurut kalian orangtua seharusnya bagaimana? Mendukung anak mereka sepenuhnya atau mengarahkan anak mereka? Aku dengan tulus mengatakan bahwa aku mencintai orangtua ku, hanya saja ada saat-saat tertentu dimana ketidaksengajaan mereka menyakitiku dan aku tidak bisa menjelaskannya dengan kata-kata.”
-Siren Vegakira
***
Sengaja berangkat lebih awal ke bandara, Siren menghubungi Ibunya kalau dia akan hadir di acara keluarga yang sudah lama tidak dia hadiri. Karena itulah awalnya Ibu Siren menentang keputusannya untuk pergi merantau tetapi karena ada Aura dan Deni, Ayahnya akhirnya mengizinkan Siren dan Ibunya mengikuti keputusan sang suami.
“Kamu bawa calon suami, Ren?” tanya Ibu Siren. “Bukan apa-apa, diantara para sepupu yang sudah berumur 20 tahunan, cuma kamu yang belum ada kepastian.”
Siren menghela napas. “Aku sudah bilang aku tidak ingin terburu-buru dalam menjalani hubungan dan menikah, Ibu tahu aku benci jika harus bertengkar setiap hari dan berakhir dengan perceraian.”
“Kamu ini, bahkan adik kamu sudah punya pacar dan kamu masih betah sendiri dengan imajinasi kamu itu.”
“Apa? Akhtar sudah punya pacar? Ibu.. dia masih lima belas tahun.”
“Memangnya kenapa? Ibu saja menikah di usia delapan belas tahun.”
“Zaman dulu dan sekarang berbeda, aku ingin menjalani hidupku dengan caraku sendiri,” ucap Siren malas, kemudian matanya menangkap seseorang yang memainkan ponselnya dalam jak sekitar sepuluh meter jadi Siren mulai melambaikan tangannya. Itu Nash, laki-laki itu akhirnya datang.
“Sudah lama?” tanya Nash. “Maaf, ternyata jalanan lebih macet daripada yan diperkirakan.”
“Tidak apa-apa,” jawab Siren, dia lupa bahwa dia masih bertelepon dengan Ibunya. “Kau tampil luar biasa hari ini, selera yang benar-benar bagus.”
“Terima kasih, kau juga.”
“Siapa itu? Kau sedang berbicara dengan siapa? Calon menantu Ibu?”
Siren terkejut dengan pertanyaan Ibunya, dia pikir karena Ibunya tidak bicara beliau sudah mematikan panggilan telpon tetapi ternyata dia sedang mendengarkan semuanya.
“Calon menantu apa?” kesal Siren. “Sudahlah, sebentar lagi pesawatku akan berangkat. Sampai bertemu.”
“Tunggu, Siren! Dengarkan Ibu, ubah panggilan telponnya ke panggilan video. Kau membawa menantu Ibu, kan? Ibu akan segera memiliki menantu lagi, kan?” ucap Ibu Siren heboh. “Ayo.. ubah ke panggilan video, anak Ibu yang cantik.”
“Tidak mau, Ibu akan pingsan jika tahu. Aku tutup telponnya dan sampai bertemu.”
“Ibumu?” tanya Nash ketika Siren memasukkan ponsel ke dalam tas kecilnya.
“Ya,” jawab Siren, dia kemudian menatap Nash. “Aku mohon jangan terlalu terkejut, keluargaku sangat heboh dan berisik, aku berjanji akan menyelamatkanmu setelah kita sampai.”
“Menyelamatkanku?”
“Hm, Tante dan sepupuku akan mulai mengomentarimu, bertanya apakah pekerjaanmu dan lain sebagainya. Pertanyaan yang membuat semua orang di sekitarku akan merasa tidak nyaman.”
“Karena itu kau putus dengan mantan pacarmu?”
“Apa?” Siren tertawa. “Aku bahkan belum mengenalkannya kepada keluargaku meskipun kami menjalani hubungan yang cukup lama.”
“Kenapa?”
“Karena dia tidak mau aku melakukannya,” Siren mengedikkan bahu. “Kami berpisah karena dia merasa cemburu dengan tokoh-tokoh novelku.”
“Hanya itu?”
Siren tersenyum lebar. “Aku rasa kau belum mengerti, terkadang aku bisa sangat mencintai tokoh novelku meskipun mereka hanya hidup dalam khayalanku. Tetapi mungkin karena itu, karena mereka hanya hidup dalam khayalanku jadi memaki tokoh novelku dalam tanda kutip bukan dari sudut pandang seorang pembaca tetapi dari sudut pandang orang yang hanya menilai setelah melihat cover dan perkenalan tokohnya saja.. aku merasa diremehkan.”
“Apa penulis juga bisa menerima ujaran kebencian?”
“Lebih sering daripada yang diduga?” Siren terkekeh. “Dulu waktu awal-awal tidak banyak yang melirik karyaku karena jelas aku masih amatir, tidak ada yang tahu siapa Siren Vegakira dan apa karya dibuatnya. Lalu setahun setelahnya salah satu karyaku mendapat pengakuan publik, banyak yang membacanya dan bahkan mendapat gelar ‘best seller’. Lalu begitulah.. kebanyakan bukan ujaran kebencian yang seperti ‘ah, cerita macam apa ini? sampah’, tidak, tetapi lebih pada dibanding-bandingkan saja.”
“Seperti?”
“Eum.. ‘karya penulis ini lebih baik, tetapi kenapa selalu karya dia yang banyak diperbincangkan?’ atau ‘penulisan dan caranya memilih kata sangatlah buruk, banyak yang lebih baik darinya’. Seperti itu.”
Nash menatap Siren dan tersenyum, pembicaraan mereka terjeda karena harus segera masuk ke dalam pesawat. Mereka duduk bersebelahan dan tidak ada yang berbicara sampai pesawat lepas landas.
“Apakah kau kesal ketika membaca komentar seperti itu?”
“Awalnya tidak,” Siren mengetuk-ngetukkan tangannya. “Aku sangat percaya diri, aku tidak peduli dan komentar buruk itu selalu aku jadikan acuan untuk menjadi lebih baik lagi. Tetapi akhir-akhir ini aku tidak tahan lagi, karena itu mungkin novel yang akan aku tulis ini akan menjadi novel terakhirku.”
“Bukankah kau suka menulis?”
“Sangat. Tetapi akhir-akhir ini aku merasa sedikit tertekan, kadang aku akan menangis karena frustasi sebab tidak bisa tidur meskipun aku sangat ingin tidur. Aku tidak mau apa yang aku sukai berubah menjadi sesuatu yang aku benci,” Siren tersenyum kecil. “Aku memulai pekerjaan ini dengan pikiran sederhana, lalu aku melakukannya karena aku butuh uang, kemudian aku kembali ke akal sehatku dan melakukan apa yang aku mau dan berakhir seperti sekarang.”
“Apa semelelahkan itu?”
“Tidak perlu khawatir, hidupku lebih banyak dilalui kegilaan karena aku memiliki teman-teman yang selalu ada. Saat aku sedih mereka akan datang ke apartemenku.”
“Untuk menghiburmu?”
“Kau positif sekali,” Siren bertepuk tangan dua kali. “Tetapi tidak. Mereka mengunci pintu kamarku dari luar dan menghabiskan semua makanan di dalam apartemenku. Benar-benar tidak memiliki akhlak, mereka hanya bertingkah elegan ketika bersama pasangan dan keluarga mereka. Hauh..”
Nash tersenyum. “Terdengar menyenangkan.”
“Ya, sampai tetangga sebelah datang dan menggedor pintu apartemenku akibat kegaduhan yang dibuat oleh teman-temanku.”
“Lalu kenapa kau tidak mengusir mereka?”
“Tidak bisa,” Siren terkekeh. “Melihat tingkah gila mereka membuat suasana hatiku menjadi lebih baik. Sepertinya mereka sudah berhasil menularkan kegilaan mereka, kami semua sama.”
“Sama?”
“Kau tahu.. menurut mereka persahabatan akan memiliki salah satu yang sangat cantik dan digilai pria, satu lagi sangat imut, satu lagi sangat menyebalkan, satu lagi tukang gosip dan satu lagi memiliki kharisma girl crush. Tetapi kami tidak, semuanya sama-sama gila, semuanya tukang gosip, semuanya menyebalkan dan suka membuat keributan-“
“Semuanya cantik dan digilai pria?” potong Nash, mencoba untuk menebak.
“Tidak,” Siren tertawa pelan. “Tidak ada yang seperti itu, dicintai oleh satu orang pria saja kami sudah bersyukur.”
“Menyenangkan bisa memiliki teman-teman yang seperti itu.”
“Bagaimana denganmu?” tanya Siren penasaran. “Apa kau juga memiliki teman?”
“Hanya satu.”
“Satu?”
“Uh-um, dan kami cukup bertolak belakang. Aku merasa cukup memiliki satu orang wanita dan berkomitmen, tetapi temanku tidak suka. Dia.. lebih senang bermain-main dengan wanita yang memiliki pemikiran yang sama.”
“Tidak pernah dalam hubungan yang pasti?”
“Ya.”
“Aku ingin memasukkan sifatnya ke dalam novelku, apa temanmu akan menyetujuinya?”
Nash mengangguk. “Dia sangat narsis, aku akan mengenalkan kau padanya.”
“Dia.. tidak akan memasukkan aku ke dalam target wanitanya, kan?”
“Tidak akan,” Nash menatap Siren dalam. “Dia tidak akan pernah mengambil apa yang sudah menjadi milikku dan begitupun sebaliknya.”
***
Perjalanan ke Lawang membuat Siren mengantuk tetapi dia mencoba menahannya karena tidak mau tersasar ke tempat lain. Sekarang Nash dan Siren sudah berada di dalam mobil, Siren menyewanya dari suatu tempat yang dia ketahui sekaligus dengan supirnya. Siren sudah lama tidak tinggal di Malang jadi dia sudah sedikit lupa, karena itulah dia membutuhkan supir.
“Kau lelah? Tidur saja,” ucap Siren pada Nash. “Aku akan membangunkanmu begitu kita sampai di rumahku.”
“Tidak apa-apa, aku baik-baik saja.”
Di perjalanan tidak ada pembicaraan serius antara Siren dan Nash sampai mobil masuk ke kawasan perumahan.
“Ya.. pagar hitam,” sahut Siren ketika supir bertanya dimana rumahnya. “Ya, di sini.”
Siren mengajak Nash turun dari mobil tetapi anehnya ketika mereka berdua berdiri di depan gerbang, tidak ada yang keluar dan keadaan rumah Siren sangat sepi.
“Aku tidak mungkin salah rumah, kan?” gumam Siren sambil menatap Nash, dia melihat sekeliling. “Tidak, ini benar rumahku. Tetapi kemana orang-orang?”
Nash tidak mengatakan apapun, dia hanya berdiri di samping Siren sebelum kemudian dia melihat seseorang dari rumah sebelah keluar.
“Kau mengenalnya?” tunjuk Nash pada rumah sebelah. “Aku rasa kau bisa bertanya.”
“Benar, itu Om Rudi.” Siren langsung berlari ke sebelah rumahnya. “Om Rudi!”
“Lho, Siren?”
Menghampiri Siren, Nash kembali berdiri di sebelah gadis itu.
“Om, apa kabar?” sapa Siren ceria.
“Baik, Om baik-baik saja, Alhamdulillah,” kata Rudi, tetangga Siren. Rudi mempersilahkan Siren dan Nash masuk ke dalam rumahnya. “Kamu kenapa di sini, Ren?”
“Pulang, Om,” jawab Siren polos. “Tapi orang-orang kemana, ya? Kok rumah sepi?”
“Lho kamu nggak tahu, toh?” Rudi terlihat lebih terkejut daripada Siren yang ‘kehilangan’ keluarganya. “Keluarga kamu pindah ke Batu, Ren. Sudah dua bulan kalau nggak salah, mbak sama iparmu juga ikut pindah.”
“Wow..”
Hanya itu reaksi Siren.
“Lebih baik kamu telpon Ibumu, bagaimana bisa kamu pulang kesini dan nggak tahu kalau keluargamu sudah pindah? Ibumu nggak ngasih tahu kamu?”
Dengan penjelasan Rudi, Siren sekarang sibuk menelpon Ibunya dan Nash mengamati itu semua.
“Bukankah aku terlihat menyedihkan?” Siren menatap Nash. “Bagaimana bisa mereka pindah tanpa memberitahuku? Selain itu.. mereka pindah ke kota lain dan itu sudah dua bulan yang lalu- aish, kenapa tidak ada yang mengangkat telponku? Ah, orang-orang ini pasti sengaja melakukannya. Awas saja jika aku sampai, akan aku hantam mereka semua.”
Nash mengambil ponsel Siren. “Biar aku saja yang menelpon, kau terlihat kesal sekali.”
“Aku rasa aku harus menangis sebentar lagi.”
Nash mendengar itu tetapi dia tidak mengatakan apapun sekalipun dia bingung.
Mereka kembali masuk ke dalam mobil dan Siren mengatakan kepada supir untuk membawa mereka ke Batu. Nash menelpon orangtua Siren yang diberi nama kontak ‘Ayah mantan playboy’, ‘Ibu penakluk playboy’ dan orang lainnya yang diberi nama kontak ‘kakak sulung yang sudah menikah’, tidak ada yang mengangkat telpon tetapi untunglah kontak yang diberi nama ‘adik bungsu penggila game’ mengangkat telponnya.
“Halo, Ve? Ada apa menelponku? Aku sibuk bermain game!”
Oh, ternyata nama kontaknya benar. “Halo?” sapa Nash.
“Oh? Bukankah ini nomor ponsel Ve?”
“Diangkat?” tanya Siren, wajahnya terlihat sangat kesal.
“Ya,” Nash menyerahkan ponselnya kembali kepada Siren. “Oleh adik bungsu penggila game.”
“AKHTAR!” seru Siren. “Mana Ibu? Berikan ponselmu kepada Ibu. Kalian semua sengaja tidak mengangkat telponku, ya?”
“Aku mengangkat telponmu!”
“Tetap saja, mana Ibu? Atau Ayah.. siapapun yang bisa memberiku alamat.”
Siren rasa dia harus benar-benar menangis sebentar lagi, dia harus merasa dikhianati oleh keluarganya sendiri karena baru beberapa jam yang lalu dia menelpon Ibunya dan mengabarkan kalau dia akan pulang hari ini tetapi Ibunya bahkan tidak memberitahu kalau mereka sekeluarga pindah ke Batu.
“Halo, Ibu? Kenapa Ibu tega sekali padaku? Kalian pindah tanpa memberitahuku?”
“Ya, Ibu pikir Ayah atau Mbak yang akan memberitahumu. Ibu lupa,” Ibu tertawa jahat. “Kau sampai di rumah lama kita? Di Lawang?”
“Aku baru menelpon Ibu beberapa jam yang lalu!” Siren menghentakkan kakinya, kesal. “Kenapa kalian selalu seperti ini padaku? Apa aku pernah menyusahkan Ibu sebelumnya?”
“Apa maksudmu? Ada siapa di sampingmu? Kau bersama seseorang?”
“Bukan siapa-siapa,” Siren memejamkan matanya, mencoba kembali ke karakter. “Ibu tidak ingin melihatku? Kita sudah lama tidak bertemu tetapi Ibu tidak ingin melihatku? Padahal aku menyukai Ibu.”
“Auh.. anak ini. Berhentilah merengek, akan Ibu kirimkan alamatnya sekarang juga.”
“Tidak perlu, kalian juga tidak membutuhkanku dan Ibu hanya akan mengomeliku ketika aku tiba di sana. Biarkan saja aku tidak tahu alamat rumah kalian, aku tidak akan pulang!”
Nash tidak berkomentar, dia bahkan tidak merasa berhak menilai perilaku Siren karena dia tahu Siren mengatakan itu semua karena sedang kesal. Benar saja, gadis yang berprofesi sebagai penulis itu menangis sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan dan Nash tidak ingin mengganggu.
Terkadang setiap manusia membutuhkan alasan untuk menangis dan untuk beberapa kasus.. orangtua sering menjadi alasan untuk tangisan anaknya selain cinta.
***