Hati Andrean menghangat. Makan siang kali ini sangat jelas berbeda. Ia saat ini sedang duduk satu meja makan bersama anak-anak. Melihat betapa lucunya mereka makan. Terlihat lucu dan menggemaskan. “Ada yang mau tambah?” Ara menggelengkan kepalanya. Begitu pun Cio. Izy sendiri memilih asik dengan makanannya. “Kalian harus banyak makan. Biar sehat dan cepat tumbuh besar. Setelah ini kita mau ke mana? Jalan-jalan ke Mall mau. Kita bermain.” “Mall?” Andrean tidak terkejut mendengar pertanyaan Ara. Ia tahu mungkin Marsha sangat menjaga anak-anaknya dari dunia luar yang tak sebaik kelihatannya. “Iya. Di sana banyak orang jualan mainan dan banyak mainan.” “Banyak mainan?” tanya Ara. “Banyak, nanti kita bermain dan beli mainan juga. Mau?” “Boleh?” “Boleh.” “Ara mau. Ara mau mainan.” An

