Book 2 Dua Belas

1577 Kata

Andrean menatap rumah tertutup di depannya ini dalam diam. Ia bingung. Haruskah ia jujur? Atau tetap Egois dengan memilih diam? Andrean mengurut pangkal hidungnya, terlalu larut dalam pikirannya sendiri, ia tidak sadar pintu di depannya terbuka. "Papa Andre!" seru Ara, anak ini masih memiliki ciri khas dengan pengucapan huruf R yang kurang lancar. "Ara." Andrean menunduk, ia memegang kedua lengan atas anaknya. "Ara kenapa keluar?" Tidak menjawab pertanyaan sang Papa, Ara malah bertanya pada Andrean. "Papa Andre sakit?" Mendapat perhatian kecil dari anaknya, Andrean tersenyum kecil. Kemudian menggeleng. "Tidak. Papa baik-baik saja, Sayang." "Papa bohong terus. Nenek selalu pegang hidung kalau pusing. Papa juga tadi." Gemas, Andrean mengelus puncak kepala Ara. "Tadi iya, Papa pusing

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN