Hendi dan perempuan itu saling menatap. Akhirnya Hendi mendekatinya. Keduanya duduk berhadapan di meja makan. Sorot mata Hendi masih memancarkan rasa cinta untuknya. Tetapi Hendi mencoba ikhlas, biar bagaimanapun, dia statusnya adalah kakak iparnya sekarang. "Kenapa belum tidur? Belum ngantuk?" Tanya Hendi dengan lembut. "Belum ngantuk. Ini kebetulan haus. Pengen minum. Lagian, di kamar sebelah berisik. Ada yang bersahut-sahutan mendesah." Tina menyindir Hendi dan Santi terang-terengan. "Kamu mendengarnya?" Hendi menahan malu saat Tina berkata seperti itu. Dia memang yang meminta Santu untuk berteriak dan mendesah. Itu membuatnya bersemangat memacu. "Ga mendengar juga pasti kedengeran. Kamarnya juga sebelahan. Cuma terhalang tripleks. Pasti kedengeranlah." Kata Tina dengan muka cem

