Bab 11

1062 Kata
Setelah dirasa mendekati waktu pulang kerjanya Cecep beranjak dari sana menuju rumahnya. Saat sampai, dia disambut oleh anak semata wayangnya yang sudah mandi dan wangi. Saat di taman tadi, tak lupa dia menghapus semua pesan Mira, juga foto-fotonya. Walaupun Cecep masih ingin menyimpannya di ponselnya, sepertinya itu tak mungkin dia lakukan. Dia pun gegas berganti baju dan bermain bersama anaknya. Saat sedang bermain, Tina dan Marni pun datang. "Ibu. Hore ibu pulang." Kata Ria, gegas memeluk ibunya. Tina pun balas memeluknya. "Anak ibu udah wangi dan cantik. Udah mandi ya?" Tanya Tina. "Udah. Abis mandi, main ama ayah." Jawab Ria. Sedangkan Marni, dia langsung ke kamarnya dan berganti baju. Lalu bermain ponsel di ranjangnya. Dia terlalu malas berinteraksi di luar. "Anak pinter. Ibu ganti baju dulu ya. Anak ibu main dulu sebentar ya." Kata Tina. Dia pun gegas masuk ke dalam, ternyata Cecep menyusulnya. "Ayah udah puas main ama Ria. Sekarang pengen main ama ibu." Seringai Cecep. Entah mengapa nafsunya meningkat setelah tadi bermain panas dengan Mira. Melihat istrinya membuka bajunya untuk berganti dengan pakaian santai, membuat jantungnya berdegup kencang. "Ayah. Ini masih sore. Nanti aza malem." Kata Tina. "Ga bisa. Tubuh ibu begitu menggoda. Salah sendiri ganti baju ga nutup pintu." Cecep kembali menyeringai buas. Membuat Tina hanya pasrah berada dalam dekapan suaminya yang memeluknya dari belakang. Jari suaminya udah bergerilya masuk ke dalam segitiga istrinya. Ya, Tina hanya memakai dalaman karena akan berganti baju. Tina memejamkan matanya, menikmati semua sentuhan suaminya. Di tengah lelahnya sehabis bekerja, inilah yang dia butuhkan. Dimanjakan suami. Setelah bagian bawahnya basah, Cecep menggendong istrinya dengan lembut ke atas ranjang. Dia pun mulai menghentak istrinya. Perlakuan Cecep saat di atas ranjang pada Mira dan Tina, sangat berbeda. Dengan Tina, Cecep lebih lembut tetapi mantap. Satu jam mereka berpeluh bersama. Setelah itu mereka pun mandi sambil menunggu waktu magrib. Tiba dan Cecep memang berkomitmen setelah mereka berbaikan, bahwa mereka akan lebih sering memadu kasih. Dan Tina pun menyanggupi. Saat azan berkumandang, mereka solat berita bersama Ria. Lalu sambil menunggu waktu isya, mereka bercengkerama di depan televisi. Sedangkan Marni, masih betah di kamarnya. Setelah isya, mereka makan malam bersama, Marni pun turut makan. Setelah makan, Marni kembali lagi ke kamarnya. Tinggallah ketiganya menemani Ria bermain sekalian belajar. Ria menceritakan teman-temannya di sekolah, termasuk Rika. Ria bilang kalo Rika adalah teman baiknya. Rika juga selalu membantunya mengerjakan tugas di sekolah. Dan otak Cecep langsung travelling pada ibunya Rika, yaitu Mira. "Ibu, kenapa ibu ga pernah lagi anter Ria sekolah?" Tanya Ria. "Ibu jadi suka telat kalo anter Ria dulu. Kalo ayah, telat sedikit ga apa-apa. Kalo ibu, pasti kena marah ama bos." Tina mencoba menjelaskan dengan lembut agar anaknya mengerti. "Hampir semua teman-teman Ria dianter sama ibunya. Dijemput juga sama ibunya." Kata anak kecil itu. "Ga apa. Ayah sama ibu kan sama juga orangtua Ria. Ayah pekerjaannya lebih santai dari ibu. Jarak ke tempat kerja ayah juga dekat. Kalo ibu, tempat kerjanya jauh. Kasihan kalo ke sekolah dede dulu." Cecep mulai ikut menasihati anaknya. Akhirnya anak kecil tersebut hanya mengangguk. Seminggu berlalu semenjak kejadian pergumulan panas antara Cecep dan Mira. Tetapi mereka intens berkomunikasi, hanya saat Cecep bekerja. Karena saat sampai di rumah, Mira tidak pernah menghubunginya. Mira begitu pintar mengatur strategi. Seminggu ini Mira sibuk dengan jualannya. Ya, dia berjualan online dan live di sebuah aplikasi berjualan. Makanya dia ga ada waktu buat hanya sekedar bertemu dengan Cecep. Dia selalu berada di rumah temannya hampir setiap hari. Live, membungkus paket, mengirimkan ke jasa kirim. Partnernya juga sama sibuknya. Akhirnya, seminggu ini full mereka ga bertemu. Pagi itu, seperti biasa, Cecep pergi duluan mengantar Ria ke sekolah. Tina dan Marni juga berangkat setelah mereka berdua pergi. Saat sampai di sekolah, Cecep melihat anaknya melambaikan tangan pada Ria. "Ayah, itu Rika sudah datang. Ayah ga usah nemenin sampai bel masuk." Kata Ria, yang langsung menghampiri temannya itu. Cecep celingukan mencari Mira, ternyata Mira ga ada di sekolah. Dia pasti masih sibuk dengan jualannya, pikir Cecep. Padahal aku sangat merindukannya, gumam Cecep. Seakan terhubung dan ada ikatan, ada pesan masuk dari Mira. Dia mengirimkan fotonya memakai lingerie merah menyala. "Miss me?" Tanyanya. Cecep kembali menelan ludahnya. Siapa yang ga tahan melihat foto syur seperti itu. Dia memegang kepalanya yang sedikit pening. Lalu gegas membalas pesan dari Mira. "So much. Aku ke sana sekarang." Jawab Cecep. "Aku tunggu. Seperti biasa, masuk aza. Saya di kamar Rika." Mira kembali mengirimkan pesan balasan. Cecep memacu motornya dengan kecepatan penuh. Nafsunya sudah di ubun-ubun. Dia gegas menutup gerbang, mengunci pintu depan, menanggalkan kaos dan jaketnya, lalu masuk ke dalam kamar. "Cepet banget datengnya. Ngebut babe?" Tanya Mira sambil mendesah. "Ga kuat. Pengen." Jawab Cecep. Dia langsung melucuti pakaian bawahnya sampai tubuhnya polos. "Slow babe. Jangan buru-buru." Kekeh Mira, yang langsung membuka kedua pahanya lebar-lebar. Cecep ga banyak bicara, langsung membenamkan mulutnya di kedua paha Mira. Saat Cecep sedang asyik, Mira langsung bergerak mendekati kedua paha Cecep, dia juga memanjakan kejantanan Cecep. Keduanya saling memanjakan, dengan brutal dan barbar. Lalu lanjut bergumul panas, dua jam lamanya mereka bertukar peluh, dan mereka berakhir dengan saling memeluk dengan tubuh polos di atas ranjang. "Kamu selalu membuatku puas babe. Makasih servisnya." Kekeh Mira, sambil membelitkan tangannya ke perut Cecep. Begitu juga Cecep, tangannya merangkul kepala Mira. Keduanya berpandangan. "Aku harap, kita akan selalu melakukannya, saling memuaska. Aku ga mau sampai bercerai dari suamiku. Dan aku tahu, kamu juga ga mau bercerai dari istrimu. Kita saling membutuhkan satu sama lain. Jangan pake perasaan oke babe." Kata Mira. "Iya. Aku ga mungkin meninggalkan istriku. Aku pernah mengkhianatinya. Dan aku berjanji padanya ga akan melakukannya lagi. Tapi kamu terlalu lezat untuk dilewatkan. Tubuhmu begitu sempurna. Tingkah liarmu begitu begitu membuatku terlena. Dan kewanitaanmu, begitu membuatku mabuk kepayang, sangat lezat, amazing." Kata Cecep. "Kamu juga sama babe. Membuatku hilang akal sehat. Lima tahun berumah tangga, baru kali ini aku bertemu dengan lelaki yang sangat ingin membuatku mendesah. Biasanya aku hanya memakai alat untuk memuaskanku. Aku ga berani mengambil resiko dan kehilangan suamiku. Tapi kamu begitu perkasa, brutal, liar, macho. Kita bermain cantik ya. Agar ga ketahuan. Sekarang, pergilah kerja. Kamu udah terlambat dua jam babe." Kekeh Mira. Cecep pun menuruti keinginan Mira. Gegas dia mandi lalu memakai pakaiannya dan pamitan. Dia langsung pergi ke kantor. Tetapi saat bekerja, tetep pikirannya fokus pada tubuh Mira. Perempuan yang begitu membuatnya tergila-gila akan seks. Membuatnya ingin terus menggauli perempuan itu. Membuatnya lupa daratan, lupa anak istri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN