Samuel menatap layar ponselnya dengan hati yang terluka. Ia mengusap wajahnya sekali dengan gusar. Ia menoleh ke kanan dan kiri, lalu beranjak dari kursinya setelah meletakkan ponselnya di meja bundar sebelahnya. Kemudian, dengan langkah yang sangat pelan dan berat ia berjalan ke arah balkon penginapannya dan memandang lurus-lurus villa penginapan Gadis dan Abra. Lagi-lagi suara Gadis itu bagai hujan di hatinya yang terasa gersang. Bahkan, ia hampir saja meledak dan hendak berlari ke arah Gadis secepat mungkin. Rindu untuk memeluknya dengan erat telah terkukung bertahun-tahun lamanya. Samuel ingat malam itu. Malam yang tak akan ia lupakan sepanjang hidup. Di saat ia tak kuasa mengontrol dirinya sendiri, ia melihat dengan perih bagaimana teman-teman pecandunya memperlakukan Gadis. Teriak

