Mengetahui

649 Kata
Dua bulan sudah aku menikah dengan Mas Farhan, tapi belum sekalipun aku kekantornya Mas Farhan hanya untuk bertegur sapa sepulang kerja atau mengantar makanan. Aku bahkan belum tahu apa jabatan Mas Farhan dikantornya, tapi ia memang pernah menyebutkan alamat kantornya pada chatingan kami tempo hari. Aku sudah lama berencana mengunjunginya di kantor sembari membawakan makan siang dengan masakan favoritnya. Mas Farhan layaknya laki-laki impian semua gadis, menikah dengannya adalah kebahagian luar biasa yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya. Dia laki-laki sholeh dan juga memperlakukanku dengan lembut. Tutur katanya yang sopan dan juga cara bicaranya yang selalu memiilih kata agar tidak menyakiti perasaan orang lain membuatku begitu tersentuh. Terlebih Mas Farhan laki-laki tampan yang membuatku selalu terpana dengan fahatan indah diwajahnya. Maha suci Allah menciptakan laki-laki yang mendekati sempurna seperti Mas Farhan. Aku mengaguminya dalam khayal juga nyata yang membuatku selalu tersenyum simpul sendiri membayangkan wajah Mas Farhan. Hari ini hari jum’at, pekerjaanku yang hanya mengajar di TK akan pulang jam sepuluh pagi. Berbeda dari hari senin hingga kamis kami akan pulang jam sebelas pagi. Jam sepuluh anak-anak pulang kemudian berberes kelas, kuperkirakan belum juga jam sebelas pagi aku sudah ada di apartment yang aku tempati bersama Mas Farhan sekarang. Kemudian masak yang kuperkirakan setengah jam kelar, barulah berangkat ke kantor Mas Farhan dan bisa sholat dzuhur berjamaah dikantornya. “Luna mau kemana, kok kayaknya buru-buru banget.” Tanya Mbak Winda rekan kerja sesama pengajar di TK IT Alhasanah. “Mau cepet ke kantor suami Mbak, ada urusan sedikit.” Jawabku dengan senyum. “Oalah yang udah punya suami.” Mbak Winda menggodaku. “Semoga Mbak segera di pertemukan dengan jodoh Mbak, yang sholeh dan menyayangi Mbak.” Aku merangkul Mbak Winda. Mbak Winda sudah berumur 28 tahun sekarang, sudah cukup dewasa dan matang untuk menikah. Namun ia harus sabar menunggu dipertemukan dengan laki-laki pujaannya kelak. “Aamiin, semoga saja ngak jauh beda sama suamimu Farhan. Udah ganteng, soleh lagi.” “Aamiin, aamiin,aamiin.” Senang rasanya punya suami yang menjadi panutan dan menjadi impian para wanita lajang untuk menikah dengan orang seperti Mas Farhan. “Mbak aku duluan ya. Assalamu’alaikum.” “Wa’alaikum salam.” Mbak Winda melambaikan tangan. Setelah pulang aku bergegas untuk memasak.Namun perkiraanku meleset, aku baru selesai masak ketika hampir saja azdan dzuhur berkumandang pada gawaiku. Ya sudahlah, aku sholat di sini saja. Baru kemudian ke kantor Mas Farhan. Aku bergegas wudhu dan sholat sebelum mengganti pakaian untuk berangkat ke kantor Mas Farhan mengendarai motorku yang bulan lalu baru dibelikan oleh Mas Farhan, oh betapa baiknya suamiku yang tidak tega melihatku selalu naik kendaraan umum. Sesamapainya dikantor Mas Farhan aku memarkirkan motorku dan berniat meraih gawaiku yang berada di dalam tas demi menghubungi Mas Farhan terlebih dulu. Tapi aku urungkan niat itu, toh alu bisa bertanya pada resepsionis dimana ruangan Mas Farhan, sekalian memberikannya kejutan berupa makan siang favoritnya. Aku berjalan menuju pintu depan kantor. Ketika mendongak aku seperti menangkap bayangan sosok yang ku kenal. Itu Mas Farhan? Ya… itu Mas Farhan. Tapi siapa wanita yang mengandeng tangannya? Apa Mas Farhan punya saudara perempuan? Aku tidak ingin berprasangka buruk dulu, terlebih wanita yang menggandengnya sepertinya bukan wanita biasa dan ia terlihat alim dengan kaseluruhan busana muslimah yang menutupi auratnya. Berbeda denganku yang mekai hijab ala kadarnya dan masih memikirkan apakah modis atau tidak. Tapi mungkinkan Mas Farhan punya saudara? Tapi seingatku Mas Farhan adalah anak semata wayang. Ah… mungkin saja ia saudara jauhnya. Tapi apakah pantas saudara jauh menggandeng dengan semesra itu? Sementara aku yang masih terpana melihat dua sosok yang ada di hadapanku namun mereka tidak menyadari kehadiranku. Mereka berdua kini tengah masuk mobil hitam yang aku tahu itu milik Mas Farhan. Tanpa aba-aba aku berbalik tak ingin meminta penjelasan sekarang, terlebih ini adalah kantor Mas Farhan. Jika aku hanya salah paham atau benar adanya sekalipun nantinya akan merusak nama baik Mas Farhan. Lebih baik aku diam dulu dan menunggu penjelasan dari Mas Farhan nantinya. **
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN