Lelah

1690 Kata

Dengan hati-hati dan gemetar aku membuka pintu dengan kartu yang di berikan oleh Mas Farhan kala kami baru selesai akad waktu itu. Setelah masuk, mataku menyusuri semua ruang yang bisa di pandang oleh mataku. Bersih, rapid dan iindah. Apa Mas Farhan menyuruh orang untuk membersihkan apatemen? Atau ini hanya perasaaanku saja, dan ternyata apartemen ini memang ngak pernah di huni selama seminggu. Makanya masih rapi karena tidak ada kegiatan di sini. “Lun kok melamun sih, buruan masuk! Tuan rumah juga, bukannya suruh tamunya masuk kek, eh.. malah bengong,” Priska ngomel di belakang karena aku mematung. “Oh iya, ayok masuk dulu. Kamu mau minum? Aku ambilin dulu ya,” Aku masuk ke arah dapur. Dan benar, semua peralatan dapur tertata seperti dulu. Ternyata semuanya tidak pernah lagi digunaka

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN