Aku bingung dengan keadaanku pagi ini. Rasanya berat banget pas mau bangun tidur saat mau sholat subuh. bener nih kayaknya lagi di tindih sama iblis biar ngak sholat. Dengan sekuat tenaga rasanya aku tetap bangun dan menunaikan sholat dua rokaat itu.
Tapi semakin matahari mau keluar perutku rasanya semakin bergejolak. Kayak abis terombang-ambing di lautan dengan ombak besar. Apa efek dari hidupku yang dengan terkena ombak ya? Hidupku dih bukan lagi terkena ombak, tapi badai. Tapi kata orang badai pasti berlalu ya.
“Huek… huek….” aku berlari ke kamar mandi.
“Luna, kamu lagi morning sicknes ya?” Priska menyusut belakangku.
Apaan lagi morning-morning apa itu? Priska ngomong apa sih?
Tapi aku tidak sempat menggubris apa yang dikatakan Priska, sebab rasa mualku yang sudah sampai ubun-ubun.
Setelah semua isi perut rasanya sudah di keluarkan Priska memapahku untuk berjalan menuju kasur.
“Kamu udah tespeck?” tanya Priska sembari mengambilkan air putih.
" Tespeck kan untuk orang hamil,” Aku menerima air yang ia berikan. Dispensernya tidak jauh, namanya juga kost beberapa meter.
“Iya lah untuk orang hamil Lun, masak tespek untuk orang ngelahirin.”
“Terus maksud kamu apa?” tanyaku yang belum mengerti arah jalan pembicaraan Priska.
“Ya kamu udah beli tespeck belum? Udah periksa kehamilan belum?”
“Kok kamu bilangnya aku hamil terus sih Priska. Aku yakin aku ngak hamil, hanya sedikit stress memikirkan masalah aja kok.” Aku mah lebih ngeyel dari pada siapapun di muka bumi ini.
“Luna,.. kalau ngak periksa siapa yang tahu.”
Ya sih benar apa kata Priska, tapi hal itu lah yang paling ku takuti sekarang. Gimana kalau benar aku hamil? Terus aku harus gimana dengan Mas Farhan? Aku tidak mungkin minta pisah dari Mas Farhan sementara aku hamil.
Ngomong-ngomong soal Mas farhan, kok aku rindu sekali ya. Kalau mau menuruti hati, sudah sejak lama aku menemui Mas Farhan dan bilang biarlah aku jadi yang ke dua asal Mas tetap menyayangiku. Tapi kalau memikirkan bagaimana tentang istri pertamanya dan pembicaraan orang lian rasanya berat. Berat langkah kakiku untuk menemui Mas Farhan kembali.
Tapi rindu, rindu ini tidak bisa ku bendung. Semalam saja begitu sulit rasanya aku menahan tanganku untuk tidak mengangkat telpon dari Mas Farhan. Aku ingin mendengar suara Mas Farhan walaupun hanya sejenak.
“Lun, Luna.”
“Eh..” ucapku refleks saat Priska menggoyang bahuku.
“Melamun lagi. Kebanyakan melamun kamu, nanti kesambet lagi. Kan yang repot aku lagi,” keluh Priska.
"Idih, siapa yang melamun. Orang aku lagi mikir," sahutku tak mau kalah dalam hal apapun.
"Itu tadi apa namanya kalau bukan melamun."
"Udah ah, aku mau tidur lagi. Ngak enak banget kayaknya lihat kamu tuh, kok makin ke sini perasaan kamu makin bawel aja," aku menarik selimut berbulu-bulu, kemudian menghilang di bawahnya.
"Kamu tuh yang sensi, bawaan hamil muda tuh. Gampang banget sensi sih Neng. Beli tespeck sono! Biar semua omongan gwa kebukti."
'Idih si Priska pake ngomong gwa, gwa segala. Gwa apaaan? Guwa hiro?'
"Tau ah, mau tidur." Ucapki singkat. Aku ngak punya tenaga lagi untuk berdebat dengan Priska, lebih baik menyudahi saja.
"Serah kamu dah. Aku ada interview di tempat yang aku baru masukin lamaran kemarin. Kamu urus diri kamu baik-baik. Jaga tuh bayi, jangan sembarang kalau lagi hamil. Hamil mah banyak famalinya kata emak gwa."
"Mmm," aku Sok tidur, padahal belum sih.
Tak lama Priska pergi dan suasana kamar jadi sunyi sekali deh.
**