Hari masih cukup pagi ketika Distrik Dalam telah digemparkan dengan datangnya seorang pendekar berjubah putih dengan torehan darah berada di hampir seluruh pakaiannya. Dari atas menara pengintai, seorang penjaga bisa melihat raut wajah khawatir si pria berjubah putih itu. Para penjaga menara pengintai dibuat kaget dengan kedatangan pria jubah putih tersebut, tetapi sedetik berikutnya, mereka juga dibuat sedih. “Bunyikan loncengnya!” tutur kepala penjaga menara kepada salah seorang prajurit yang ada di bawah komandonya. Wajahnya muram setelah sebelumnya sempat terkejut sebentar. Si Prajurit menelan ludah, ia menggeleng-gelengkan kepala pelan lantas mengambil terompet penanda. Sebelum membunyikan lonceng, prajurit tersebut terlebih dahulu meminta izin untuk membunyikan terompet. “Baiklah.

