7. Gadis Roti

1714 Kata
“Ini bagus enggak sih, Kai? Gue buat ini di rumah berkali-kali, tapi jarang banget berhasilnya,” tanya Hilma sambil menunjukkan hasil karya tangannya. Hari ini semua anggota klub tata boga sedang mempersiapkan penganan yang akan mereka jual di acara bazar kuliner. Mereka mempersiapkan semua jenis makanan, mulai dari makanan ringan sampai lauk. Walaupun sebenarnya lebih sering membuat kue, mereka ingin mencoba hal baru dalam bazar kali ini. Kaina mendekati Hilma yang baru saja mengeluarkan nugat yang dikukus. Dia mengambil sebuah lidi sate dan menusuk bagian tengahnya, masih sedikit lengket. Itu berarti masih belum matang sempurna. “Sebentar lagi, Hil. Masukkan lagi, ya,” ucap Kaina yang hari ini tampil cantik dengan jilbab segi empat biru. Seperti biasa, dia memakai tunik, kali ini senada dengan hijab. Sementara bawahannya rok plisket putih. “Gue kalau buat selalu kurang ini itu. Yang sering sih keasinan,” ujar Hilma sambil kembali memasukkan nugat ke dalam panci pengukus. “Kalau sudah sering buat, nanti takarannya juga pas, kok.” Kaina tersenyum. Dia tahu kalau Hilma tidak begitu mahir memasak, tetapi sangat semangat mengikuti setiap kegiatan di klub. Awalnya Kaina sedikit heran dengan keputusan Hilma untuk bergabung di klub tata boga. Sebagai mahasiswi dari keluarga kaya, Hilma semestinya bisa mengikuti komunitas keren lainnya. Ternyata ada alasan tersembunyi dibalik keinginan Hilma. “Gue sudah sering buat, Kai, tapi lebih banyak gagalnya.” Hilma memajukan bibir. Matanya mulai menyapu seisi ruangan yang menjadi dapur istimewa para pencinta resep. “Bima ke mana, sih? Gue belum lihat dia dari tadi.” Nah, itu dia alasan Hilma ada di tempat yang asing. Dia mengejar Bima yang tergila-gila pada dunia memasak. Meski sudah sering ditolak, dia tetap mendekati Bima. Baginya, usaha harus maksimal untuk mendapatkan yang diinginkan. Dalam kasusnya, dia belajar memasak dengan keras. Dia berharap Bima akan terenyuh dengan semua kegigihannya. “Dia izin. Ibunya lagi sakit.” Wajah Hilma berubah mendung. “Kamu kenapa jadi kelihatan sedih begitu?” “Enggak, kok, Kai. Gue cuma kasihan saja sama Bima. Semoga saja ibunya cepat sembuh.” “Amin.” Kaina berlalu. Dia memperhatikan Hilma yang sekarang sibuk dengan adonan lain. Hilma selalu bersemangat saat mengerjakan apa pun. Meski tidak mahir, dia tetap melakukan yang terbaik. Itu yang Kaina suka. Dia ingin sekali mengatakan kalau Bima sebenarnya tidak mau pacaran karena harus fokus kuliah untuk mendapatkan nilai terbaik. Keluarga Bima pas-pasan dan dia hanya memiliki ibu. Dia juga mempunyai tanggungan dua orang adik yang masih sekolah. Setelah sang ayah meninggal, dia yang membantu perekonomian keluarga. Apa lagi ibunya sering sakit. Jadi, dia semakin sibuk memikirkan masalah keluarganya. Hal ini Kaina ketahui langsung dari Bima. Pemuda itu sendiri yang mengatakan pada Kaina bagaimana kondisi keluarganya. Dia sengaja mengikuti kelas tata boga untuk mengasah kemampuannya membuat berbagai jenis makanan. Katanya, suatu hari, dia ingin membuka sebuah toko kue untuk ibunya. Mengharukan, bukan? Meski mengetahui semua itu, Kaina tidak bermaksud memberi tahu Hilma yang sesungguhnya. Dia bukan orang yang suka mencampuri urusan orang lain. Lagi pula, Bima bercerita padanya karena Kaina pernah bertanya apa alasan Bima masuk kelas yang diketuainya. Itu saja. Tidak ada tujuan lagi. Mencoba mengabaikan permasalahan orang lain, Kaina mengedarkan pandangan ke setiap sudut ruangan yang dipenuhi oleh anggota klub yang sibuk. Ada yang membuat adonan. Ada yang memperhatikan oven. Ada yang mengemas makanan yang sudah jadi. Semua bergerak dan Kaina senang mereka menikmati kegiatan klub. Banyak yang bilang kalau klub tata boga itu seperti hidup segan, mati tak mau. Kalau boleh mengatakan dengan jujur, itu memang pernah terjadi. Tapi tidak setelah Kaina yang memimpin. Dia dan Dara mempromosikan klub mereka secara berkala. Sekarang, mereka memiliki empat puluh tujuh orang anggota. Jumlah itu terlalu sedikit untuk sebuah universitas dengan ribuan mahasiswa. Namun, sebagai klub yang baru bangkit dari keterpurukan, angkanya sudah lumayan bagus. Sepertinya tidak banyak yang tertarik membuat kreasi makanan di kampus. Mereka lebih suka bergabung dengan klub yang akan membuat mereka terlihat keren. Bagi Kaina, dapur dan masakan adalah dua hal yang sangat disukai. Keduanya bisa menghibur saat dia sedang suntuk atau bosan. Mungkin karena selama ini dia hidup dengan mengenal masakan lezat buatan sang bibi. Kesibukan di dapur membantu Kaina sibuk dan melupakan sejenak masa lalu yang mengganggu. Dulu, Kaina menjadikan aktivitas memasak sebagai obat untuk ketakutannya. Itu cukup bekerja bagi Kaina. Terutama saat dia menemukan resep baru, lalu berhasil mewujudkan. Kegembiraan membuat hidupnya menjadi lebih bersemangat menjalankan hari yang berat. Sesuatu yang begitu dia syukuri. Siapa lagi yang berjasa jika bukan bibinya dan Dara. Senang sekali Kaina bisa bertemu dengan Dara dan sang bibi setelah kenangan buruk yang sempat membuat trauma. Sebenarnya masih. Terkadang dia masih merasa takut saat bertemu dengan gerombolan preman atau melihat perkelahian di hadapannya. Meski rasa itu sudah banyak berkurang setelah dia mengenal Arion. Omong-omong soal Arion, Kaina menyukai sikap melindungi yang ditunjukkan pada pertemuan pertama mereka. Dia tidak pernah menyangka kalau perjumpaan itu bisa berlanjut dan membuat dunia Kaina menjadi berbeda. Kaina sadar bahwa Arion membawa perubahan besar pada dirinya. Jika sebelumnya Arion seakan abai dengan keberadaan Kaina, kini dia malah yang lebih penasaran. Seperti yang tengah dia lakukan sekarang. Dia mengamati Kaina diam-diam dari sebuah jendela yang terbuka. Tanpa bisa dikontrol, dia tersenyum lebar. Melihat Kaina memamerkan ekspresi langka sangat sayang untuk dilewatkan. Jarang sekali Arion menyaksikan senyum yang menghiasi bibir Kaina. Gadis itu, di mata Arion, terlalu suram. Dia yakin ada yang melatarbelakangi sikap Kaina tersebut. Hati Arion tiba-tiba tergelitik. Dia ingin tahu bagaimana masa lalu Kaina dan bila memungkinkan dia bersedia membantu Kaina keluar dari kegelapan. Arion menghela napas. Dia sungguh yakin jika perasaan ini tidak berkaitan dengan cinta. Hanya rasa penasaran pada seseorang yang terus berusaha menjauhinya. Sudah banyak gadis yang berhasil dia pikat dan jika mau, dia bisa mendapatkan siapa pun. Dengan usaha lebih keras, dia bahkan mungkin bisa meluluhkan hati Kaina. Entahlah. Arion tidak begitu mengerti perasaannya saat ini. Dia selalu menyangkal perasaan cinta yang sering dikatakan oleh teman-temannya. Kata cinta tidak akan pernah bersanding dengan Arion. Sejak mengetahui kelakuan sang ibu, dia membenci cinta. Cinta ibunya merusak semua kebahagiaan. Cinta hanya omong kosong baginya. Lalu, apa yang sebenarnya dia rasakan pada Kaina? Apa itu cinta jika kamu merasa penasaran pada seseorang? Apa itu cinta jika melihatnya tersenyum membuatmu bahagia? Apa itu cinta jika kamu selalu ingin memberikan kebahagiaan padanya? Apa itu cinta jika kamu tidak merasa bosan saat menatapnya? Semua itu yang dirasakan Arion sekarang. Dia kesulitan mengendalikan perasaannya kali ini. Kakinya melangkah masuk begitu saja. Tidak ada keraguan sedikit pun saat dia berjalan di antara aroma masakan dan kebisingan di dalam ruangan. Juga tidak ragu ketika mendekati Kaina yang kini sedang mengadoni roti. Apa yang dilakukan Kaina tidak luput dari perhatian Arion. Pemuda itu memperhatikan bagaimana Kaina memperlakukan adonan seolah itu adalah hal paling berharga baginya. Kaina lalu membentuk adonan menjadi bulat-bulat, menatanya di loyang dan memanggang dalam oven. Dia melakukan itu dengan serius. Pemuda tampan merasa iri pada tepung yang menempel di wajah dan tangan Kaina. Gadis itu tidak membersihkannya dan malah asyik membuat isian roti. Entah karena sengaja membiarkannya atau memang tidak menyadari. Akan tetapi, Arion suka melihat penampilan Kaina yang apa adanya. Dari dulu, Arion selalu dikelilingi oleh gadis-gadis yang pandai bersolek. Mereka bahkan memakai topeng demi bisa menjadi dekat padanya. Sejujurnya, Arion menyadari hal itu, tapi tetap menerima mereka. Berbeda dengan Kaina yang sangat alami. Kaina terlihat sangat jujur dan nyata. Hal itu justru membuat Arion takut pada dirinya. Tidak ada yang pernah membuat pemuda itu merasakan kehidupan nyata. Untuk Arion, hidup hanya permainan yang harus dinikmati. Sekali pun, dia tidak pernah merasakan kebahagiaan seperti saat dia melihat senyum Kaina. Padahal gadis itu jarang sekali menampilkannya. Nyaris mustahil menyaksikan Kaina tersenyum saat bertemu. “Kamu di sini?” Pertanyaan Kaina menyadarkan Arion yang sekarang sudah menjadi pusat perhatian. Sesaat, Arion menjadi gugup. Sebuah perasaan asing yang belum pernah dia rasakan. Dia adalah pemuda dengan tingkat kepercayaan diri yang tinggi. Demi menjaga gelarnya, dia berdeham, lalu memasang senyum palsu yang biasa dia perlihatkan pada semua orang. “Hai, Gadis roti,” sapa Arion pada Kaina. Dia menurunkan tangannya yang entah sejak kapan sudah melambai. Kaina mengerutkan kening. “Gadis roti? Siapa yang kamu panggil gadis roti?” “Tentu saja loe. Siapa lagi. Loe yang lagi bikin roti. Iya, kan?” Mata Kaina melirik oven yang berisi hasil karyanya. Dia memang sedang membuat roti, tapi sebutan yang Arion berikan sedikit aneh. Belum pernah ada yang memanggilnya seperti itu. Dia ingin sekali tersenyum. Kemudian dia sadar di mana dia berada saat ini. Mata bulatnya menyapu seisi ruangan yang kini tengah memperhatikan Arion. Si gadis mengurungkan niat untuk memberikan senyum. Lagi pula, dia memang jarang tersenyum. Dia tidak boleh kembali terpengaruh oleh Arion. Sudah lama dia ingin keluar dari perasaan yang menderanya. Sayang, setiap kali dia hampir berhasil, selalu ada yang menggagalkan rencana itu. Tangan Arion terangkat untuk menyapa para penghuni ruangan. Sementara Kaina menenangkan diri. Dia menoleh pada calon isian roti, lalu mulai menyibukkan diri dengan berbagai jenis selai itu. Tidak baik kalau dia terhanyut lagi dalam pesona pangeran yang menaklukkan banyak gadis itu. “Ada apa ke sini?” tanya Kaina tanpa mengalihkan matanya dari selai beraneka warna di hadapannya. Dia tidak berminat melihat Arion lama-lama. “Gue enggak boleh ke sini? Apa karena gue bukan anggota klub?” “Kami tidak pernah keberatan kalau ada orang berkunjung di klub kami. Sebaliknya, kami senang ada yang mau ke sini. Tapi, terlalu aneh kalau kamu yang muncul.” “Oh, ya? Gue cuma penasaran sama klub ini. Soalnya gue juga ikut bantu acara kalian, kan. Pengin saja lihat-lihat. Atau ada yang bisa gue bantu? Gue enggak terlalu mengerti kue, sih. Tapi, gue bisa bantu-bantu susun kue atau sejenisnya. “Yakin mau bantu, Yon?” tanya Danu. “Yakin, dong. Gue cukup pintar buat mengatur makanan. Kalian tahu, kan, gue kerja di kafe depan kampus.” “Bukannya itu memang kafe loe, ya?” “Bukan. Itu punya bokap gue. Gue cuma kerja di sana. Lumayan buat tambah uang jajan.” Seisi ruangan menertawakan gurauan Arion. Kecuali Kaina tentu saja. Semua orang tahu seberapa kaya keluarga pemuda itu. Tidak mungkin dia sampai membutuhkan tambahan uang jajan, padahal yang diberikan sudah lebih dari cukup “Wah! Ada angin apa sampai pangeran kampus ada di dalam klub yang enggak populer?” Suara menyebalkan itu menghentikan tawa semua orang. Kaina menoleh. Dia menghela napas melihat siapa yang datang ke ruang klubnya. Menurut perkiraan Kaina, akan ada hal yang mengkhawatirkan. Dalam hati dia berdoa semoga tidak ada yang menanggapi perkataan tamu mereka kali ini. Apa yang diinginkan tamu baru itu? Kaina juga penasaran.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN