“Itu handphone mau dilihat sampai kapan, Bos?” “Enggak usah ganggu, deh, Dar,” ujar Arion sewot tanpa mengalihkan pandangan dari layar telepon seluler miliknya. “Loe lihat apaan, sih? Penasaran gue. Perasaan sudah dari kapan loe lihat handphone terus.” Daren mendekati Arion yang tidak menjawab pertanyaannya. Dia berjalan sangat pelan agar tidak ketahuan, lalu mengintip dari balik punggung Arion. Untungnya, Arion sedang duduk. Kalau Arion berdiri, Daren pasti tidak akan bisa melakukan hal ini. Arion itu yang paling tinggi di antara teman-temannya. Masih tanpa suara, Daren melirik layar telepon seluler Arion. Dia menutup mulut saat kedua matanya mengikuti pergerakan tangan Arion yang terus mengganti objek. Namun, Daren yakin kalau beberapa foto yang dilihat Arion adalah orang yang sama

