“Haruskah menelepon Arion?” “Kalau kita enggak telepon dia, gimana kita bisa balikin hadiahnya itu.” “Iya, sih. Sepertinya aku memang harus telepon dia.” Kaina menekuk wajah, lalu menghela napas. Dia mengamati sekeliling yang masih sepi. Pagi ini, dia sengaja datang lebih awal untuk bertemu dengan Arion. Masalah dengan pemuda itu tidak boleh ditunda lebih lama. Kalau terus menghindar, Kaina juga yang akan merasakan kerugian. Taman menjadi pilihan tempat bagi Kaina. Selain suasananya yang terbuka dan tidak menimbulkan kesalahpahaman pihak tertentu, di sini juga ada beberapa mahasiswa. Jadi, Kaina tidak akan merasa bertemu dengan Arion seorang diri. Ya, walaupun Dara sudah menemani, Kaina tetap waspada. Tangan Kaina bergerak lincah di atas layar telepon seluler. Dia berdeham ketika me

