“Apa ... ini?” tanya Kaina terbata-bata. Dia memperhatikan kotak yang ada di tangan Arion. “Gue sudah bilang, kan? Itu hadiah dari murid buat gurunya.” Arion berkata sambil memainkan sebelah mata. “Tapi, aku bukan guru kamu,” sangkal Kaina. “Oh, ya? Memangnya loe enggak bisa, gitu, terima hadiah ini saja, tanpa tanya-tanya?” “Mana bisa aku menerima hadiah enggak jelas kayak ini.” “Ya, ampun, Kai. Gue cuma kasih hadiah, lho. Bukan ngajak loe pacaran atau nikah.” Kedua mata Kaina melebar mendengar perkataan Arion. Pemuda itu bahkan mengatakannya dengan nada santai, seolah apa yang dia katakan bukan hal yang perlu dikhawatirkan. Apa dia tidak bisa melihat kalau kedua gadis yang mengapit Kaina kini tengah terdiam sambil memperhatikan Kaina dengan penuh tanda tanya? Berbanding terbalik d

