3. Saingan Berat

1550 Kata
Kalau ada yang bisa mengalihkan perhatian Arion, orang itu tentu Chessy. Kaina yakin jika semua orang pasti menyukai anak pemilik yayasan itu. Orang tua Chessy kaya luar biasa. Yayasan mereka memiliki sekolah dari tingkat taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi. Beberapa lulusan malah ada yang direkrut oleh perusahaan mereka. Menjadi anak tunggal dari keluarga konglomerat tidak lantas membuat Chessy tumbuh menjadi sosok yang sombong. Sebaliknya, dia merupakan gadis baik hati yang mudah bergaul dengan siapa saja. Dia tidak pernah melihat latar belakang seseorang saat memutuskan berteman. Baginya, kenyamanan adalah kunci persahabatan. Selama dia merasa senang, dia tidak akan keberatan untuk membaur. Siapa coba yang tidak tergoda dengan Chessy. Apalagi, dia memiliki wajah yang cantik. Lengkap sudah. Banyak yang merasa iri padanya. Meski begitu, setiap orang pasti punya kekurangan, bukan? Namun, terkadang kita tidak menyadari. Kita hanya sibuk memikirkan rasa panas yang membakar hati karena melihat kelebihannya. “Loe ikut kegiatan Kaina juga?” tanya Arion penuh semangat. Jelas sekali kalau pemuda itu terpesona dengan wajah elok Chessy. Kaina tahu, meski Arion sering berganti pacar, pandangannya selalu lembut ketika menatap Chessy. Dia juga tahu kalau Arion pernah mengakui perasaannya. Sayang, Chessy malah memilih berpacaran dengan preman pas-pasan yang tinggal di dekat kampus. Hubungan yang ditentang keras oleh orang tua Chessy, tetapi tidak dipedulikan oleh gadis itu. Chessy tersenyum, memperlihatkan dua lesung pipi yang menambah kecantikannya. Dia mengibaskan rambutnya yang kali ini berwarna pirang. Bahkan Kaina mengagumi sosok itu karena nilai akademisnya yang tidak diragukan lagi. “Memangnya loe bikin kegiatan apa, Kai? Kok gue enggak diajak?” Chessy mengerucutkan bibir. Kaina berusaha menyembunyikan rasa sebal saat menyadari Arion tidak melepas pandangan dari Chessy. Ya, Allah. Kenapa hatiku bisa selemah ini? Aku pikir dengan menjauhi Arion, aku bisa melupakannya. Wahai Yang Maha membolak-balikkan hati, lindungilah aku. “Aku buat kegiatan amal buat anak panti. Kamu belakangan ini jarang kelihatan, jadi aku belum sempat kasih tahu kamu.” “Sori banget, ya. Soalnya toko Alan lagi sibuk banget belakangan ini. Gue bantu dia.” Wajah Arion mengeras mendengar nama pacar Chessy disebut. Sepertinya pemuda itu masih belum rela melepas Chessy untuk orang lain. Padahal gadis yang menginginkan Arion masih sangat banyak. Kalau dilihat-lihat lagi, belakangan ini dia tidak terlihat dekat dengan siapa pun. Apa dia akhirnya ingin bertobat dan berhenti mempermainkan kaum hawa. Kaina beberapa kali menangkap pembicaraan teman-temannya kalau Arion berhenti berpacaran. Mungkinkah dia ingin mengejar Chessy. Akan tetapi, Chessy sudah memiliki tambatan hati. Tidak mungkin Arion mau menjadi perusak hubungan orang. Gadis berjilbab menggeleng keras. Pikirannya runyam memikirkan segala hal mengenai Arion. Dia tidak berharap akan mengalami semua ini di usia dua puluh. Sebagai muslimah, semestinya dia bisa mengendalikan hawa nafsu. Sungguh! Setan memang musuh manusia yang nyata. Dia senang sekali membisikkan pikiran-pikiran jahat di hati kita. Astagfirullah. Jauhkanlah aku dari gangguan setan. “Loe baik-baik saja, Kai?” Chessy menyadarkan Kaina. “Oh. Maaf. Aku sedang memikirkan sesuatu. Kamu tadi bilang apa?” Kaina nyengir. Dia melirik Dara yang memutar bola mata. “Gue tanya, apa ada yang bisa gue bantu?” “Wah, aku senang banget kalau kamu bisa gabung. Kami butuh banyak orang buat jaga setiap stand.” “Pasti bakal seru. Gue boleh ajak teman-teman gue buat bantu?” “Boleh, dong,” ujar Kaina sambil tersenyum lebar. “Nah, gitu dong, Kai. Senyum. Loe cantik kalau lagi senyum gitu.” Perkataan Arion yang tidak terduga membuat Kaina merinding. Ini benar-benar buruk. Dia tidak boleh terlalu dekat dengan pemuda itu. Bahaya. Sebaiknya dia menguatkan hati dulu sebelum jatuh ke dalam perangkap setan. “Enggak usah gombal deh, Yon. Kamu tuh basi banget. Rayuan kayak gitu enggak bakal mempan sama Kaina,” celetuk Dara yang diam sedari tadi. Sejak kemunculan Arion, dia sudah menduga hal semacam ini akan terjadi. Rasa kagum Kaina kepada Arion menjadi senjata ampuh bagi setan untuk membuat jebakan. Apalagi keteguhan Kaina berhijab belum terlalu dalam. Alasan kenapa Kaina memakai penutup kepala itu memang bukan sepenuhnya karena hidayah, melainkan untuk menghormati sang bibi, ibu Dara. Wanita yang telah merawatnya sejak kecil. Ibu Dara sudah menyelamatkan Kaina dari kehidupan kelam masa lalu. Wanita anggun berjilbab itu tidak pernah sekali pun memaksa Kaina untuk mengenakan hijab. Kaina sendiri yang ingin menutup diri dan lebih dekat kepada-Nya. Namun, ternyata niat yang tidak kuat membuat gadis itu sulit mengontrol perasaan. “Benar, tuh. Kaina itu bukan kayak cewek-cewek yang loe goda selama ini. Enggak usah berharap, deh,” tambah Chessy membela. Arion hanya tertawa menanggapi serangan dari dua gadis di hadapannya. Tidak ada yang sadar jika Kaina masih kebingungan menutupi diri. “Namanya juga usaha,” kata Arion setelah puas tertawa. Kaina mendengkus dan beranjak. Dia harus segera pergi agar tidak terpengaruh dengan rayuan Arion. “Eh, Kai. Gue bercanda. Jangan marah, dong.” Arion mengejar Kaina yang berjalan cepat tanpa menoleh. Sementara Kaina sama sekali tidak memedulikan pemuda yang terus mengikutinya itu. “Sori ya, Kai. Janji, deh. Gue enggak bakal ulangi lagi,” lanjut Arion. “Sudah selesai?” “Maksud loe?” Kaina menunjuk tepat di belakang Arion dengan dagu. Pemuda itu mengerjap melihat ke mana tujuan Kaina. “Loe mau ke toilet?” “Aku kebelet banget, Yon. Bisa tolong minggir. Kamu bisa ngomong apa pun lagi nanti.” Arion tidak menjawab. Dia hanya menyingkir dan memberi jalan pada Kaina. Tangannya mengusap tengkuk berkali-kali. Memalukan! *** “Kamu enggak apa-apa, Kai?” “Kamu sudah bertanya beberapa kali, Ra. Kamu enggak mau berhenti sekarang?” “Habisnya kamu cuma diam saja dari tadi. Aku tahu, kamu tadi cuma cari-cari alasan buat menghindari Arion. Iya, kan?” Kaina menghela napas berat. Dia menatap sahabatnya lurus. Jika Dara sudah cukup mengerti, dia tidak perlu bertanya lagi, bukan? Sejak bermenit-menit lalu, dia terus saja menanyakan hal yang sama. Kaina jadi mengingat kembali gombalan Arion yang membuatnya melayang. “Kamu enggak ada kerjaan lain?” “Kenapa? Kamu butuh bantuan?” “Sangat. Bisa bantu aku, Ra?” “Kamu tahu aku selalu mau bantu. Kamu mau minta bantuan apa?” “Bisa enggak, kita berhenti bahas Arion?” Dara membulatkan mulut, mulai mengerti keinginan sahabatnya. Dia tahu topik tentang pemuda bernama Arion tidak pernah nyaman untuk seorang Kaina. Bisa dikatakan kalau Kaina sedikit anti. Dia menghindari segala hal yang berhubungan dengan Arion. Masalahnya, sekarang Kaina harus terlibat lagi dengan pemuda yang dikaguminya selama bertahun-tahun itu. Dia menyesal karena tidak mencegah Kaina untuk menerima Arion dalam tim mereka. Bagaimana jika Kaina kembali ingin dekat dengan Arion? Tidak jadi persoalan jika mereka sudah cukup dewasa untuk menikah. Dara bisa menyarankan Kaina untuk menikahi Arion. Yah, walaupun terdengar aneh, tetapi tidak ada larangan bagi wanita untuk mengajukan lamaran, bukan? Sama seperti Khadijah yang meminang Nabi Muhammad. “Kamu masih belum bisa move on, ya?” Kaina meletakkan pena sepelan mungkin, berusaha untuk tidak melempar benda mungil itu. Dia ingin sekali membersihkan hatinya dari Arion. Namun, nama pemuda itu terlanjur terukir kuat. Tidak akan mudah menyingkirkannya. Arion dan segala kenangan yang diberikan pada Kaina. Padahal mereka hanya bertemu sebentar di masa lalu. Salahkan Arion yang mengatakan hal-hal yang membuat Kaina merasa lebih baik. Arion memengaruhi jalan kehidupan Kaina. Jika bukan karena pemuda itu, dia mungkin masih terpenjara dalam kegelapan. “Aku enggak tahu, Ra. Aku pengin bilang kalau aku sudah lupa sama dia, tapi nyatanya enggak semudah itu. Dia masih bisa memengaruhi aku.” Kaina meletakkan kepala di meja. “Aku payah banget ya, Ra. Padahal jelas-jelas Arion bukan tipe cowok yang baik buat aku. Kalau boleh jujur, dia malah mengingatkan aku pada masa lalu. Kenapa aku justru menginginkan dia?” Tangan Dara terulur untuk memberi usapan di punggung Kaina. Dia juga tidak mengerti. Sikap Arion seharusnya memang membuat Kaina menjauh. Namun, seolah ada magnet yang terus menarik mendekat, Kaina malah terpikat oleh bad boy itu. Menilik dari kepribadian Kaina yang membenci kekerasan. Dia sepatutnya tidak memasukkan Arion dalam daftar orang yang ingin ditemui. Dara tahu, meski Kaina berkoar-koar untuk menghindari Arion, gadis itu masih memerhatikan Arion dari jauh. Entahlah. Kaina seperti terjebak dalam lingkaran hitam yang dibuat oleh Arion. Sadar atau tidak, Kaina memang sudah terpikat. Tidak. Bukan hanya terpikat. Kaina terlalu terpusat pada masa lalu bersama Arion. “Kamu ada rencana nikah muda?” tanya Dara. Kaina bangun dengan cepat dan memperhatikannya dengan mata menyipit. “Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu? Kamu tidak bermaksud menjodohkan aku, kan?” Kaina menggeleng keras. “Tunggu dulu! Bibi tidak menjodohkan aku, kan?” “Pikiran kamu terlalu jauh,” ucap Dara dengan wajah kesal. “Habis pertanyaan kamu aneh. Kenapa bertanya soal nikah muda?” “Ya ... mana tahu kamu pengin nikah sama Arion.” Mata Kaina melebar. Wajahnya memanas begitu bayangan Arion dengan setelah jas putih memenuhi kepala. Dia mengibaskan tangan dan mengusir godaan itu. Ini gara-gara Dara yang menanyakan hal aneh. Dia jadi membayangkan yang bukan-bukan. Lagi pula Arion menyukai Chessy. Gadis seperti dirinya tidak akan sebanding dengan anak miliarder. Arion juga berasal dari kalangan elite. Tidak mungkin dia memilih Kaina sebagai pasangan. Tentu dia menginginkan orang yang sederajat. Kaina sedikit nelangsa begitu menyadari perbedaan besar antara dia dan Arion. Bukan tidak mensyukuri pemberian Allah. Kehidupannya sudah sangat baik saat ini. Dia tidak pernah berani meminta lebih. Allah telah mengeluarkannya dari jurang kesengsaraan setelah bertahun-tahun menderita. Apa lagi yang lebih baik dari itu? “Arion menyukai Chessy, Ra. Dia enggak mungkin pilih aku.” “Kenapa enggak? Kamu cantik dan baik. Kamu bisa dapat cowok mana pun.” “Makasih ya, Ra. Ucapan kamu mungkin benar, tapi Arion terlalu jauh dari jangkauan. Mungkin aku cuma bisa mengagumi seperti sekarang.” Orang yang disukai Arion adalah Chessy. Kaina sadar diri. Dia dan Chessy bagai langit dan bumi. Chessy merupakan saingan yang sangat berat dan Kaina tidak bermaksud berkompetisi dengan gadis itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN