Kaina menenggelamkan diri dalam lipatan kedua tangannya. Dia berjongkok di atas toilet duduk. Seharusnya dia tidak perlu sesedih ini. Lagi pula, siapa dirinya sampai berani menangisi Arion begini. Mereka tidak sedekat itu. Dan lagi, apa hubungan gosip di taman dengan dirinya? “Kaina, kamu baik-baik saja? Buka pintunya dulu.” “Aku mau menenangkan diri dulu sebentar, boleh?” Dara memandang sekeliling. Jika ingin menenangkan diri, Kaina bisa memilih tempat lain. Kenapa dia memilih toilet? Untungnya saat ini suasana di sana sepi, jadi tidak ada yang akan menertawakan Dara yang mengetuk pintu toilet berkali-kali dengan berteriak memanggil nama Kaina. “Gimana kalau kita pulang saja?” tawar Dara. Dia menempelkan telinga di pintu toilet, berharap bisa mendengar suara dari dalam. Namun, Kaina

