Pukul tujuh malam, Denada terkapar dengan napas tersengal-sengal di atas kasur. Ia melirik seorang pemuda di sampingnya. "Kita akan makan malam dulu sebelum lanjut lagi, ok? Saya suka kamu," desah Denada sambil mengatur pernapasannya. "A-aku nyerah, Tante," ucap lelaki yang masih sangat belia itu dengan wajah yang memerah. Wajah yang masih lugu itu adalah lelaki ke empat yang didatangkan ke dalam kamar hotel Kusuma, yang disewa oleh Denada, sekaligus yang paling muda dan segar baginya. "Hei, katakan padaku, ayahmu kerja apa? Ibumu juga, apa kamu punya adik? Kamu sekarang masih sekolah atau kuliah? Coba katakan semuanya padaku," ujar Denada, mencoba mencari tahu agar ia bisa menawarkan sesuatu yang pantas untuk pemuda itu. "Ng, ayahku saat ini tidak kerja, ibuku kerja di pabrik tas,

