Kekaguman Elaina

1238 Kata

"Arg! Kenapa kalian bisa sampai ketahuan, ha? Bodoh sekali!" teriak Denada pada telepon genggamnya. Ia harus menghentikan kegiatan yang menyenangkan karena dering telepon terus berulang. Kekesalannya bertambah menjadi dua kali lipat saat itu. Tubuh telanjangnya turun dari atas kasur, meninggalkan tatapan kecewa dari lelaki muda berambut merah yang gairahnya harus padam mendengar kemarahan Denada pada si penelepon yang entah siapa. "Lalu, kalian tertangkap terus bicara apa saja?" tanya Denada. "Kami hanya bicara asal saja, Bu. Mereka tidak mendapatkan petunjuk apapun," sahut si penelepon. "Bagus! Sekarang kalian diam dulu selama dua hari, setelah itu beraksi lagi, tapi tunggu instruksi dariku, paham?" tegasnya dengan gusar. Ia sangat membenci penundaan dalam hal apapun. Semuanya ha

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN