Bersiul-siul sambil mengemudi, hati Attaya terus berbunga-bunga. Ia pulang ke rumahnya membereskan beberapa barang dan telah menyewa kamar hotel untuk satu minggu di kota Bogor. Rasanya sudah tidak sabar ingin segera sampai karena malam ini, ia telah menerima tantangan dari Tiara untuk melakukan panggilan video sampai mereka tertidur di kamarnya masing-masing.
"Tunggulah, Sayang ... aku sudah dekat, aku sudah dekat ...," gumamnya saat keluar dari pintu tol dan tercegat lampu merah di persimpangan jalan.
Lelaki muda itu mulai gelisah, tiap kali ia melihat ke arah jam tangan sambil berkata, "Jangan tidur dulu, Sayangku ... jangan tidur dulu, tunggu aku yang akan mengantarmu ke dunia mimpimu."
Turun dari mobil, di pelataran parkir hotel, tubuhnya terbungkus baju piyama dan atasnya dilapisi jaket, memakai sandal rumah, ia tidak peduli dengan tatapan aneh dari orang-orang saat melewati lobby, menenteng tas travel besar dengan wajah yang panik.
memasuki kamar, ia segera menekan tombol pada telepon genggamnya. Terhitung sampai deringan keenam, panggilan itu terabaikan, kekecewaan membayang pada wajah lelaki itu. Ia hendak menekan kembali tombol sambungan tapi diurungkannya sambil berpikir, jika Tiara sudah tidur, ia akan merasa bersalah karena telah mengganggu tidurnya.
Dengan gontai, Attaya melepaskan jaket dan menjatuhkan dirinya di atas kasur sambil menggenggam ponsel. Matanya menatap langit-langit kamar dan mulai gelisah karena tidak tahu harus berbuat apa sementara kantuk masih belum menghampirinya.
Lima menit kemudian, telepon genggamnya berdering. Attaya nyaris terlonjak karena merasakan kesenangan yang luar biasa. Panggilan video dari Tiara! Wajah tampan itu dihiasi senyum lebar dengan mata yang berbinar. Ia menerima panggilan tersebut.
Tampak kekasihnya di layar ponsel, yang baru saja hendak merebahkan diri di kasurnya yang sempit. Keduanya saling pandang dan tersenyum.
"Kupikir kamu sudah tidur," kata Attaya memperhatikan raut wajah cantik yang dikaguminya.
"Hmm ... aku ada kerjaan dikit tadi, gak denger suara panggilan." Tiara menarik selimut lusuhnya sampai ke bagian leher.
Attaya terus memandangi gadis itu yang kini tampak mengantuk dengan mata sayu. "Tidurlah, Sayang ... biar aku temani kamu," ucap Attaya dengan tatapan penuh kasih.
"Hmm ... teleponnya aku taro di meja aja ya," ujar Tiara seraya meletakkan telepon genggamnya di atas meja, disangga oleh alat penyangga ponsel. Kini ia leluasa bergerak.
"Besok mau dibawain sarapan apa?" tanya Attaya. Ia berencana menjemput gadis itu dan mengantarnya bekerja sesuai rencana semula, menaiki angkutan kota. Hal itu dicetuskan oleh Tiara yang menginginkan mereka memiliki kenangan indah sebanyak mungkin, di segala tempat yang hampir tidak pernah dialami oleh Attaya.
Gadis itu tidak menjawab, sebaliknya justru ia mengatupkan matanya perlahan. Attaya menikmati proses saat-saat Tiara terlelap dengan perasaan damai. Tidak lama kemudian, Tiara benar-benar tertidur. Seulas senyum tersungging pada bibir Attaya, ia pun meletakkan telepon genggamnya pada penyangga yang sudah disiapkan di atas nakas.
Wajahnya menghadap pada layar ponsel yang menayangkan seraut wajah polos dengan untaian beberapa helai rambut pada kening dan pipi mulus kekasihnya.
"I love you, Cantikku ...," bisik Attaya sebelum ia pun jatuh dalam lelap.
Pagi pun tiba dan saat satu per satu dari mereka terbangun meninggalkan buaian mimpi, masing-masing bisa saling bertatapan sambil mengucapkan selamat pagi. Panggilan video itu pun berakhir saat keduanya harus ke kamar mandi.
"Pagi, Ara. Tumben bangun tidur, kamu terlihat senang sekali? Sudah gajiankah?" Ruby memang iseng, selalu menggoda putrinya sambil melakukan kegiatan di dapur mungilnya.
"Hmm ... kalau gajian memangnya kenapa, Bu? Ibu butuh uangkah?" tanya Tiara seraya mengambil handuk dari kawat jemuran yang berada di dalam ruangan.
Rubyah menghentikan kegiatannya, kemudian ia menoleh ke arah Tiara. "Ibu memang butuh uang, tapi gajimu sendiri sangat kecil, untuk memenuhi kebutuhan pribadi kamu sendiri pun belum tentu cukup," keluh Ruby dengan nada prihatin.
"Jangan khawatir, Bu. Katakan saja Ibu butuh berapa? Kalau uangnya tidak cukup, Ara akan usahakan sisanya, Bu," tukas Tiara bersungguh-sungguh.
Ruby menghela napas panjang. "Ibu akan selalu merepotkan kamu, Ara. Tapi ibu juga gak tega kalau penghasilan kamu tidak cukup. Makanya ibu berharap, kamu bisa kerja di kantor seperti dulu, di mana pendidikan dan kepintaranmu mendapatkan penghargaan yang layak," ucap Ruby sambil kembali menghadap meja racik untuk menggoreng bawang.
"Bu, Atta mau datang bawa sarapan. Baiknya Ibu tidak usah masak apapun," ujar Tiara seraya berbalik menuju kamar mandi.
"Hah, Attaya? Bagaimana bisa? Kapan kamu ketemu dia? Sudahkah kamu dimaafkan?" berondong Ruby pada anak gadisnya.
Tiara tersenyum tanpa menoleh kepada ibunya. "Ibu gak usah kepo, kalau dia baik, kita harus menerimanya, bukankah rejeki gak boleh ditolak, Bu?" Suara Tiara terdengar ringan hingga membuat Ruby sedikit heran dan menggelengkan kepalanya. 'Ada apa dengan anak itu? Apa karena Attaya? Duh, gawat ini, jangan sampai Tiara jatuh cinta pada pemuda itu,' batin Ruby seraya membereskan dapurnya.
Haru-hari yang dilalui oleh kedua insan yang sedang kasmaran itu, terasa begitu indah bagi mereka. Sisi lainnya, banyak hal baru yang diperkenalkan oleh Tiara yang di seumur hidup Attaya tidak pernah mengalaminya seperti naik angkutan umum, berjejalan di dalam bis, memgantri untuk memasuki gerbong kereta api, keliling kompleks perumahan menaiki becak bahkan mengenyangkan diri dari satu pedagang makanan kaki lima ke pedagang makakan lainnya.
Satu minggu penuh telah membuat Tiara bahagia, rasanya berat hati ketika Attaya mengatakan saatnya untuk pulang karena telah menghilang dari kedua orang tuanya, dari pekerjaannya. Saat itu terlintas dalam pikiran Tiara untuk kembali bekerja di Jakarta agar mereka leluasa bertemu, terutama, bisa membantu ibunya dengan penghasilan yang memadai.
Namun, hal itu tidak disetujui oleh Attaya yang lebih suka jika Tiara tetap di kota Bogor. Sebaliknya, lelaki itu yang berjanji bahwa dialah yang akan pindah dan fokus pada perusahannya yang berada di Bogor. Mengenai pekerjaan yang lebih memadai bagi Tiara, Attaya menyerahkan keputusan sepenuhnya kepada gadis itu.
Hari terakhir sebelum meninggalkan kota Bogor, Attaya mengatakan bahwa ia telah mentransfer sejumlah uang kepada gadis itu dengan alasan membantunya menabung untuk bekal menikah kelak. Tentu saja itu hanya sebuah alasan kosong agar Tiara menerima pemberiannya.
Di hari itu, sebelum kedua tangan melambaikan perpisahan, sebelum pelukan erat terlepas, keduanya telah saling berjanji untuk setia dan tidak akan mudah melepaskan diri dari ikatan tersebut, apapun yang terjadi.
Kecupan mesra dikening, mata, puncak hidung dan bibir Tiara, menjadi ucapan perpisahan sementara. Attaya berjanji padanya tidak akan lebih dari dua hari tidak bertemu dengan kekasih hatinya itu.
"Kita tetap sleep call, kan tiap malam?" Suara Tiara memohon.
"Tentu dong, Sayang!" jawab Attaya lembut.
◇◇◇◇