Aku Juga Pandai Bersandiwara

1231 Kata
‘’A—apa ya, Mas?’’ ucapku terbata. ‘’Kamu pernah dengerin nada dering hp nggak di lemari atau di mana gitu?’’ tanya Mas Deno spontan yang tengah memasang kancing bajunya. ‘’Hp? Bukannya kamu ke kantor bawa hp?’’ Aku mencoba memasang muka seolah-olah tak tahu menahu perihal benda pipih yang sedang ditanya oleh suamiku. Kuyakin yang dimaksud oleh Mas Deno adalah benda pipih yang kutemukan di bawah lemari itu. Kutatap mukanya seperti tengah menyembunyikan sesuatu dariku. ‘’Rasain kamu, Mas! Pasti mau menyembunyikan sesuatu dariku, terlambat! Semuanya aku udah tahu!’’ Aku membatin dan tersenyum sinis memandanginya yang terdiam membisu. ‘’I—iya, maksudku hp temen kantor. Dia nitipin hp ke aku.’’ Dia menggaruk kepalanya yang menurutku tak gatal sama sekali. ‘’Ngaco deh kamu, Mas. Yang bener aja kali dia nitipin hpnya ke kamu. Atau.. Kamu yang bohong sama aku?’’ serangku spontan keluar dari mulutku. Dia malah kaget bukan main dan matanya melotot. Rasakan kamu, Mas. ‘’Ka—kamu bilang apa sih, Sayang? Kalo kamu nggak percaya ayo kita telpon temenku yang nitip hp itu. Telpon aja ke nomor istrinya.’’ Ciuh! Aktingmu sangat luarbiasa, Mas. Dia malah bergegas menghenyak di sampingku dan mendekat ke arahku. Aku harus berpura-pura percaya sama dia agar dia tak mencurigaiku. Aku tak mau rencanaku akan gagal begitu saja. ‘’Mas, maafkan aku. Aku percaya kok sama kamu,’’ lirihku yang memulai bersandiwara. ‘’Mas, Mas!’’ batinku sembari tersenyum sinis. ‘’Makasih, Sayang. Ngga mungkinlah aku bohong sama kamu. Ngga mungkin juga aku punya dua hp. Untuk apa coba?’’ Aku terpaksa senyum dan membalas tatapannya agar dia tak curiga padaku. ‘’Sama-sama, aku juga bilang makasih ke suamiku ini. Karena kamu udah setia dan jujur sama aku, nggak kayak di sinetron ikan terbang itu yang sok setia, padahal selingkuh di belakang istri!’’ ucapku dengan sengaja. Dia seketika wajahnya berubah menjadi pucat. ‘’Kamu kenapa, Mas? Kamu sakit?’’ tanyaku menatap wajah pias, dia langsung memalingkan muka. Huh, dari sana aja udah tahu kamu tengah menutupi sesuatu dariku! ‘’A—aku kayaknya laper banget deh,’’ kilahnya sambil memegangi perut. ‘’Kenapa belum makan sih? Kan kamu bisa makan di kantor atau di luar.’’ ‘’Aku maunya masakan kamu aja, Nel. Eh, pas pulang kamu malah nggak masak sama sekali. Kan kamu tau, kalo Mas sukanya cuma dimasakin kamu,’’ sungut lelaki itu yang membuatku muak. Ucapan manismu ternyata hanya penutup aibmu saja, Mas! Mungkin aku akan berdosa jika tidak menyediakan makanan untuk suamiku. Tetapi inilah yang pantas didapatkan oleh suami suka selingkuh seperti Mas Deno. Sebenarnya aku adalah tipe istri yang rajin memasak, biasanya aku selalu menyediakan menu special untuk Mas Deno jika dia pulang bekerja. Selelah dan sesakit apapun aku, aku tetap menyediakan menu kesukaannya. Kini? Rasa hati yang begitu perih membuat aku enggan memasak makanan untuknya. Aku tak habis pikir dengan kelakuan Mas Deno. Dia selingkuh 4 tahun tanpa aku ketahui. Aku kira dia memang betul setia selama ini. Akan tetapi, sebaliknya. Kata-kata romantis itu ternyata hanya sebagai penutup perselingkuhannya saja. Kenapa aku bisa sebodoh itu jadi istri? Selama ini telah aku berikan segalanya pada dia, bahkan tabunganku dulu aku berikan ketika dia pernah dipecat di kantor yang berbeda. Aku pun mau hidup susah bersama dia Ternyata apa balasan darinya? Semudah itu dia berpaling dariku. Dan dia mengkhianati janjinya yang dulu diucapkannya ketika almarhum Papa masih hidup. Dia berjanji bahwa tak kan pernah mengkhianatiku. Sungguh tak bisa dipercaya janji lelaki itu. ‘’Ma’af, Mas. Aku lagi nggak enak badan, makanya nggak bisa masak. Kita makan di luar aja gimana?’’ ‘’Apa kamu bilang? Makan di luar?’’ ulangnya kembali dengan kening mengernyit menatap pupil mataku. Ujung-ujungnya aku yang masakin dia! Enggak ahh! Kali ini aku akan cari alasan sebanyak mungkin! Enak aja, aku tukang masakin dia. Eh, dianya enak-enakan selingkuh dengan wanita itu! Aku mengangguk cepat. ‘’Iya, emang kenapa, Mas? Kita cari aja masakan yang paling enak deh, gimana kalo masakan Padang?’’ ‘’Kan kamu tau sendiri, aku nggak suka masakan orang lain. Maunya cuman masakan kamu, Nel,’’ sungut Mas Deno yang membuatku muak. ‘’Aku nggak enak badan, Mas. Nggak kuat untuk masak, masa iya kamu tega nyuruh aku masak lagi demam begini,’’ ucapku lirih dengan wajah memelas. Dia tampak terdiam. ‘’Gimana kalo beli di luar aja, dipesen gitu, Mas? Entar deh, aku pilihin menu yang enak buat kamu.’’ Terdengar helaan napasnya. ‘’Ya udah deh, tapi yang enak ya. Jangan pake lama. Perutku udah lapar banget nih, Nel,’’ sahutnya sembari memegangi perut. Aku mengangguk lantas mengacung jempolku. ‘’Mas mandi dulu sana. Ntar pas pesenan datang, tinggal makan aja deh.’’ ‘’Kamu bener juga ya, Nel.’’ ‘’Ya udah, Mas mandi dulu.’’ Mas Deno bergegas meraih handuk yang tengah tergantung di belakang pintu, lalu bergegas melangkah ke kamar mandi. Kupastikan terlebih dulu kalau Mas Deno tak kan ke luar dari kamar mandi. Aku akan menyusun rencana. Bergegas kuraih benda pipih dan kartu baruku di bawah kasur. Kuganti kartu lama dengan kartu baruku. Aku bergegas membuka aplikasi hijau dan mengetikkan pesan. ‘’Selamat sore, Mba Chika. Maaf nih, aku menganggu waktu istirahatnya. ‘’ ‘’Mba, bisa bantu aku nggak?’’ tulisku sambil tersenyum sinis. ‘’Wah, udah diread aja tuh.’’ Si P sedang mengetik. ‘’Selamat sore juga, Imelda! Bantu apa ya? Kebetulan aku lagi nyantai aja nih.’’ ‘’Bantu masakin untuk Mas Deno. Nanti Mas Deno sakit, lho.’’ Kuedarkan pandanganku. Aman! ‘’Apa? Masakin? Aku aja nggak pernah masakin dia. Setiap kali makan kami sering makan di luar. Emang ke mana istrinya yang sok suci itu?’’ Jleb! Jadi Chika tak pernah memasak untuk suamiku? Jangan-jangan wanita itu tak bisa memasak karena manja. Tapi kenapa suamiku bisa tergoda dengan wanita manja seperti si pelakor itu? Atau hanya tergoda karena pakaiannya yang mungkin kurang bahan? Aku jadi teringat ketika Mas Deno mengatakan tak suka dengan masakan di luar dan dia hanya suka dengan masakanku saja. Tetapi ternyata dia sudah sering makan di luar bersama selingkuhannya. Dasar laki-laki! Sungguh pandai kamu bermanis mulut denganku, Mas. ‘’Yaudah, Mba pesen aja deh di luar menu kesukaan Mas Deno ya, ntar delivery ke sini. Istrinya sedang demam nih.’’ ‘’Tolong bantu aku ya? Mba kan sayang banget tuh sama Mas Deno. Ntar kalo dia nggak makan malah dia yang sakit lagi. Jangan pake lama ya. Udah dulu ya, temenku nelpon nih, Mba. Byee, makasih.’’ Kuedarkan pandanganku kembali. ‘’Masih aman. Kan dia memang lama banget mandinya,’’ gumamku sembari mengganti kartu kembali. Lalu langsung menaruh kartu baruku di bawah kasur. Kamu nggak tahu siapa aku sebenarnya, Mas! Beberapa menit kemudian, dia sudah ke luar dari kamar mandi dengan sehelai handuk saja. Aku mengalihkan pandangan. ‘’Gimana, Nel? Udah kamu pesen?’’ tanyanya sambil membuka lemari pakaian dan menoleh sejenak. Kali ini memang aku sengaja tak menyiapkan pakaiannya. Biasanya setiap kali dia selesai mandi aku siapkan pakaian untuknya. Kini? Aku malas. Karena rasa sakit hatiku yang terlalu besar setelah mengetahui perselingkuhan suamiku. ’’Udah dong, Mas.’’ Aku mengacungi jempol lantas tersenyum. ‘’Ntar Mas yang bayarin kalo udah datang pesenannya.’’ ‘’Hem, nggak usah, Mas. Aku aja yang bayar, ya?’’ ‘’Bu, Ibu ada mesan makanan? Ini udah datang loh,’’ teriak Bibi Sum di depan sana yang membuat aku menyunggingkan sedikit bibir. ‘’Ya udah, Bi. Siapkan di meja makan ya? Kayak biasanya,’’ sahutku sembari melirik Mas Deno yang asyik memakai kancing bajunya. Kira-kira gimana reaksi Mas Deno melihat makanan yang selalu dia makan bersama selingkuhannya itu? Nggak sabar deh. Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN