Sesampainya di rumah, suasana malam terasa sangat tenang. Terlalu tenang untuk dua orang yang pikirannya sama-sama tidak tenang. Banyu masih diam sejak mereka meninggalkan rumah Wiratama. Ia membuka sepatu tanpa suara dan meletakkannya rapi di rak. Bening menutup pintu pelan lalu mengikuti Banyu masuk ke dalam rumah. Tidak ada yang bicara. Bening melirik Banyu beberapa kali. Ekspresi suaminya tetap datar. Bukan marah. Bukan sedih. Lebih seperti seseorang yang sedang memikirkan banyak hal sekaligus sampai tidak tahu harus memulai dari mana. Bening juga sama. Kepalanya penuh. Penuh pertanyaan yang tidak punya jawaban. Penuh rasa penasaran. Penuh rasa tidak nyaman karena foto yang tadi mereka lihat. Foto Wiratama berdiri di depan Ayah Banyu di rumah sakit jiwa. Foto itu terus muncul dalam

