Sebuah tepukan di bahu cukup membuat aku kaget dan hampir saja bersuara sebelum secepat kilat tangan orang itu membekapku. Dengan satu tangannya yang lain orang yang aku ketahui sebagai Rini pelayan yang biasa membukakan pintu untukku itu menarikku menjauh dari dekat jendela. “Kan sudah saya pesan kalau Anda hanya boleh ke ruang kerja dan taman samping saja, kenapa keluyuran sampai di sini,” ucap Rini lagi dengan wajah kesal yang tidak bisa di tutupinya. “Apapun yang Anda dengar atau lihat lupakan! Anda benar-benar akan membuat saya dalam masalah. Tidak bisa di tinggalkan barang sebentar saja, entah berapa kali saya harus ingatkan.” Aku menelan saliva mendapati omelan dari pelayan tersebut. Aku tidak membela diri karena memang aku yang bersalah, beberapa kali pelayan itu mengingatkan t

