BMB bab 2

1100 Kata
Gelap hampir merenggut semua terangnya sinar matahari, menyajikan jingga di ufuk barat di batas langit senja. Rama baru saja keluar dari kamarnya dan berjalan menuju halaman belakang, mala mini dia harus bisa menghindar dari Devina. Pria berbadan tegap itu tidak ingin hadir di acara nanti malam yang pada akhirnya hanya akan membuat Sinta semakin kesal padanya. Sinta telah menawan separuh hati dan jiwanya sejak saat pertama kali mereka bertemu, saat perempuan cantik itu menolongnya ketika sebuah kecelakaan di alami oleh Rama. Tepat di depan Sinta yang saat itu baru keluar dari sebuah mini market sebuah kendaraan menyerempet Rama hingga pria itu mengalami luka- luka. Mobil yang menyerempet Rama langsung melaju dengan kencang meninggalkan Rama yang bersimbah darah di tepi jalan. “Bawa ke rumah sakit, tolong angkat ke mobil saya saja.” Secara spontan tanpa peduli siapa Rama, Sinta meminta beberapa orang untuk mengangkat Rama ke dalam mobilnya. Sinta membantu semua sampai seluruh biaya pengobatan di rumah sakit juga diselesaikan oleh perempuan cantik itu. Beruntung waktu itu hanya luka luar saja, Rama mengalami lecet lecet dan untuk organ dalam tidak mengalami masalah. “Terima kasih untuk semuanya, saya tidak tahu dengan apa saya membalas kebaikan, Nona.” Sakit di tubuh tidak Rama rasakan, wajah cantik dan senyum dari Sinta membius jiwanya hingga raga nya yang terluka tidak dia rasakan sakitnya. “Sudahlah, yang penting Anda baik-baik saja,” balas Sinta saat menurunkan Rama di dekat tempat kejadian selepas dari rumah sakit. Sinta mengantar kembali Rama meski awalnya Rama menolak karena tidak ingin merepotkan. Sedangkan bagi Sinta menolong orang jangan setengah setengah, hal itu menjadi prinsipnya. “Apakah Nona tidak merasa takut, saya adalah orang asing. Melihat penampilan saya pasti banyak yang berpikir beribu kali untuk membantu saya.” Mendengar ucapan Rama, perempuan muda itu hanya tersenyum. Semua hal dia lakukan secara spontanitas dan tidak memikirkan hal lain selain ingin menolong orang yang membutuhkan pertolongannya. Itulah penyesalan yang dirasakan Sinta sekarang, pertemuan keduanya yang tidak di sengaja yang kemudian membawa Rama pada kehidupan Sinta sampai sekarang. Sebuah map yang dilihat Rama di mobil Sinta akhirnya membuka jalan untuk Rama lebih dekat dengan perempuan cantik yang telah mengambil hatinya itu. Bagi Rama, bukan karena paras ayu Sinta saja yang membius dirinya, akan tetapi, kebaikan serta ketulusan dari perempuan muda itu yang membantunya dengan tulus. “Saya bisa menjadi tukang bersih-bersih, Nona. Bagian cleaning service” Jatuh cinta terkadang memang membuat orang menjadi nekat bahkan gila, Rama akhirnya mendatanggi perusahaan tempat Sinta bekerja. Dia tidak tahu siapa Sinta, yang dia tahu Nona muda yang menolongnya waktu itu bekerja di perusahaan PT Cipta Agro Indonesia dan sebenarnya itu juga hanya sebuah dugaan awalnya. Sepertinya keberuntungan sedang berpihak kepada Rama, saat petugas keamanan mengusirnya tiba-tiba dia melihat mobil Sinta masuk. Tentu dia sangat hapal dan mengingatnya dengan nekat Rama mendekat kea rah Sinta yang baru turun dari mobilnya, tidak peduli teriakan dan kejaran dari petugas keamanan di perusahaan itu. “Aku tidak mengurusi masalah karyawan, hanya saja setahuku perusahaan kami bekerja sama dengan PT TBI untuk penyedia cleaning service. Kalau Anda benar-benar membutuhkan pekerjaan ini, aku akan bantu melalui departemen HR untuk bisa mempekerjakan kamu disini.” Rama langsung menyampaikan keinginannya dan langsung direspon dengan cukup baik oleh Sinta yang merasa iba pada kondisi Rama. Dengan rekomendasi dari Sinta divisi HR akhirnya mempekerjakan Rama melalui PT. TBI, dengan kata lain Rama adalah karyawan lepas di PT Cipta Agro. Rama bernaung di bawah perusahaan penyedia jasa cleaning servis PT. TBI. Dari itulah semula berawal sampai akhirnya keputusan membantu Rama adalah sebuah keputusan yang sangat di sesali oleh Sinta sampai dengan detik ini. Hadirnya Rama dalam kehidupannya adalah sebuah mimpi buruk yang berkepanjangan. ** Sebenarnya Sinta enggan ikut untuk acara makan malam nanti, hanya saja desakan dari Devina memaksa Sinta untuk ikut. Apalagi dia juga sepenuhnya sadar kalau perusahaan dari keluarga Wijaya telah menjadi salah satu perusaan yang cukup loyal kepada perusahaan keluarga Halim, PT. Cipta Agro. Beberapa hotel, restoran dan juga resort milik keluarga Wijaya menempatkan PT. Cipta Agro sebagai pemasok utama untuk kebutuhan di dapur mereka. “Kamu cantik sekali,” puji Ayu kepada putri bungsunya itu. Bukan sekedar pujian basi basi atau hanya ingin menyenangkan anaknya saja, tetapi, malam itu memang Sinta terlihat begitu cantik dan anggun. Anak perempuan Ayu itu mengunakan dress selutut dengan warna putih bermotif bunga. Dress sesiku itu membalut tubuh indah Sinta yang membuatnya terlihat begitu cantik. Paras ayunya juga tidak perlu make up berlebihan untuk membuatnya terlihat semakin istimewa. “Mama juga,” ucap Sinta membalas pujian wanita yang sangat dicintainya itu. “Dimana Rama?” tanya Ayu kemudian sambil melihat ke sekeliling kamar. “Entahlah.” Sinta menjawab singkat sembari mengangkat bahunya. Akan lebih baik tidak ada Rama malam ini, karena dia tidak ingin menerima olokan atau dipermalukan gara- gara pria itu. Ayu mengerti betul apa yang dirasakan putri kesayangannya itu, akan tetapi, Ayu juga memiliki perasaan yang sangat halus. Rama selalu perhatian kepada Ibu mertuanya itu, memberikan buah-buah segar yang di panen dari kebun, menata taman bunga milik Ayu dan tidak pernah lupa mengisi vas bunga di kamar Ayu dengan mawar putih, bunga kesuakaan ibu mertuanya itu. “Jangan terlalu kasar kepadanya,” pesan Ayu kepada Shinta putrinya. “Iya, Ma. Aku hanya ….” Sinta memotong kalimat yang diucapkannya, tanpa perlu menjelaskan detail Sinta tahu kalau Ibunya cukup memahami segala hal yang sedang Sinta rasakan. “Mama mengerti, hanya saja semua ini juga bukan kehendaknya. Mama tidak tahu apa alasan papamu, tetapi, pasti dia memiliki alasan yang kuat. Mama tahu papamu sangat sayang padamu, tidak mungkin dia akan membuat putri kesayangannya bersedih, bukan?! Hanya saja kita tidak tahu apa alasan dibalik perjodohan kalian.” Ayu mencoba memberikan pengertian kepada Sinta, karena dia percaya suaminya akan selalu memberikan semua yang terbaik untuk putri kesayangannya itu. Wanita yang masih tampak cantik di usianya yang telah menginjak kepala lima itu tidak tahu kalau perjodohan Sinta dengan Rama adalah sebuah rekayasa belaka. Tidak ada satupun yang tahu kalau wasiat dari Setiawan Halim tentang perjodohan itu adalah palsu dan sengaja dibuat oleh Devina dan Gara anaknya. Untuk warisan Devina memang tidak bisa merekayasa karena Setiawan Halim sudah menyerahkan semuanya kepada pengacara keluarga yang juga masih kerabat dekat dari Ayu Pratiwi istri pertama Setiawan Halim. Jalan satu-satunya bagi Devina untuk dapat menguasai semua harta dari Almarhum suaminya adalah dengan menghancurkan Sinta pelan-pelan. “Sinta butuh waktu lebih, Ma.” Sinta bicara dengan sedikit menunduk, mamanya benar semua memang bukanlah kehendak Rama. Hanya saja Sinta tetap merasa tidak siap dengan itu semua, sebuah hal yang wajar saat seorang perempuan cantik dan pintar seperti Sinta mengingginkan pendampingnya laksana seorang pangeran tampan dengan kuda putihnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN