CANDY Namanya dokter Diana, begitulah dia memperkenalkan diri sebagai psikiater yang merawat Mama di sini. Dia baru kembali dari Paris, memenuhi tugasnya di sebuah rumah sakit jiwa di sana. Dokter Diana tidak percaya akan bertemu denganku di sini. Dia pikir rumah Mama sudah kosong setelah ditinggalkannya. Sambil membersihkan luka pada tanganku dan memberinya perban, dokter Diana bercerita panjang lebar tentang kehidupan Mama tanpa kuminta terlebih dahulu. Dia tahu mungkin aku selalu bertanya-tanya setelah menemukan jurnal Mama. Dokter Diana berusaha berhati-hati menangani luka pada tanganku, namun aku tidak merasa sakit, seperti biasanya. Aku seperti mati rasa. “Aku meninggalkan Indonesia setelah Luna menikahi Papamu. Luna selalu menelepon, berkeluh kesah tentang kehidupan keluargany

